Comscore Tracker

[OPINI] Kontemplasi Hardiknas 2020: Ironi Kebijakan Belajar dari COVID

Ayo terus berbenah

Sudah lebih dari satu bulan lamanya pelajar di Indonesia menerapkan "Belajar dari Rumah". Hal ini sejalan dengan anjuran yang diucapkan Presiden Joko 'Jokowi' Widodo pada 15 Maret lalu. Kemudian diamini oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudyaan (Kemendikbud) dengan menerbitkan Surat Edaran pada dua hari setelahnya, yakni 17 Maret 2020.

Dikeluarkannya kebijakan ini menyusul adanya COVID-19 yang merebak di Indonesia. Hingga 1 Mei 2020, pada data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sejumlah 10.551 orang terinfeksi, 1.591 sembuh dan 800 meninggal dunia. Ini bukanlah angka kecil, maka belajar dari rumah masih harus diperpanjang hingga waktu yang belum ditentukan.

Bicara soal belajar dari rumah, salah satu alat yang menjadi jembatan antata guru dan siswa ialah telepon seluler. Sudah barang tentu, setiap rumah tangga di era sekarang memiliki alat komunikasi yang satu ini. Meski belum tentu memiliki sinyal internet. Bahkan ada yang harus memutar otak untuk sekadar beli kuota internetnya.

Sayangnya, niat baik Kemendikbud untuk mencairkan anggaran pulsa dan internet bagi guru maupun siswa tak kunjung teralisasi. Ironi tentunya, kebijakan tidak seiring dengan solusinya. Padahal sudah tertulis jelas dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 19 Tahun 2020.

Pada Permendikbud itu tertuang pada Pasal 9A selama masa darurat penanganan COVID-19 sekolah dapat menggunakan dana BOS Reguler. Dana ini dialokasikan untuk pembelian pulsa, paket data atau layanan pendidikan daring berbayar. Peruntukannya bagi guru serta siswa selama belajar dari rumah.

Namun, lagi-lagi hal tersebut masih menjadi isapan jempol belaka. Alih-alih mencairkan dana BOS Reguler, untuk penerapannya saja sampai sekarang masih carut-marut. Seperti halnya di kepulauan, banyak yang masih susah sinyal sampai akhirnya para siswa dan guru harus tetap masuk sekolah. Di lereng gunung ada guru yang tulus mengajar dari rumah ke rumah siswanya.

Lebih dari itu, sebenarnya penerapan belajar dari rumah menggunakan gadget masih sangat awam bagi para siswa. Betapa tidak, beberapa sekolah saja masih anti apabila ada siswa yang ketahuan membawa telepon seluler. Ada yang disita dan dibawa guru BK, ada yang harus sembunyi-sembunyi. Tapi itu tidak semua, banyak yang sudah terbuka dan memperbolehkan bawa telepon seluler.

Pun demikian, membawa telepon seluler ke sekolah lantas tidak dimanfaatkan guru untuk belajar bersama. Mayoritas tenaga pendidik masih asyik dengan buku pegangannya. Padahal, beberapa buku itu sudah tidak relevan dengan perkembangan yang ada. Bahkan, untuk menggelar ujian para siswa harus mengumpulkan telepon selulernya. Takut ketahuan nyontek, nah bisa dilihat pembelajaran dengan cara hafalan masih tercium kuat di sekolahan.

Lantas hari ini para guru dipaksa menerapkan pembelajaran jarak jauh dari rumah. Efektifkah? Maka jawabannnya akan sulit mencapai efektif ini. Andai saja sejak masuknya telepon pintar di Indonesia konsep pembelajaran diubah. Guru lebih melek dengan internet dan aplikasi di dalamnya. Mereka kini bisa mengarahkan para siswa mengakses sumber kredibel.

Di masa pandemik ini, belajar tidak melulu diambil dari tugas yang ada di buku. Tidak seharusnya guru melakukan hal tersebut. Tak semestinya juga semunya dipikirkan oleh Mendikbud, Nadiem Makarim dengan belajar melelui TVRI maupun aplikasi gratis RuangGuru. Banyak cara yang mestinya dilakukan guru.

Memang, tidak semua peserta didik mempunyai buku pegangan lengkap. Rujukan utamanya ialah buku yang diperoleh dari sekolah. Tapi lebih dari itu, telepon seluler berbasis internet masih dapat jadi rujukan luas. Sekarang tergantung tenaga pendidik bisa mengarahkan sumber mana yang mestinya dirujuk peserta didiknya.

Ingat, tujuan pendidikan tidak hanya pada alinea empat pembukaan UUD 1945 "Mencerdaskan kehidupan bangsa". Itu barulah proses. Pendidikan akan terus berjalan untuk mencapai suatu kesejahteraan dan peradaban yang makmur serta keadilan bersama.

Salam pendidikan...!

Baca Juga: [OPINI] Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara yang Semakin Terlupakan

Ikhwan Syahlillah Photo Writer Ikhwan Syahlillah

Malu ah

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya