Comscore Tracker

[OPINI] Kampus, Perempuan dan Ruang Kesetaraan Gender

Memaknai eksistensi perempuan dalam lingkungan akademik

Akhir-akhir ini media sosial diributkan dengan beredarnya blur foto perempuan atau ‘penurunan opacity'. Persoalan ini terjadi hampir di beberapa perguruan tinggi dan anehnya menyasar kelompok perempuan yang menjadi pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Beberapa kampus seperti Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Unit Kegiatan Mahasiswa Jamaah Muslim Geografi (UKM-JGM) Universitas Gadjah Mada, tidak luput dari persoalan yang membelit dan menggerus keberadaan perempuan.

Kondisi semacam ini mulai membuka beragam perspektif publik serta mempertanyakan akar persoalan. Mengingat ini merupakan persoalan serius yang dihadapi oleh perempuan, banyak tudingan mulai menyebar di media sosial bahwa ada upaya untuk merobohkan eksistensi dan pengaruh perempuan di lingkungan kampus.

Hal ini semakin memperkuat bukti yang beredar bahwa dari bagan kepengurusan dan foto struktur pengurus BEM yang beredar hanya menyasar foto perempuan sedangkan foto laki-laki terpampang dalam kondisi baik. Lantas bukankah ini merupakan upaya untuk menggembos pengaruh perempuan dalam lingkungan akademik? Bukankah ini bagian dari wajah kekerasan simbolik yang hadir dan menyasar kelompok perempuan?

Jika dirunut dari konsep Bourdieu tentang kekerasan simbolis, kekerasan semacam ini sangat lembut, tidak terasa, tidak terlihat bagi korban-korbannya. Kekerasan itu pada dasarnya dilakukan dengan cara-cara yang melibatkan komunikasi dan pengetahuan. Komunikasi dan pengetahuan itu murni bersifat simbolis. Atau lebih tepatnya harus dikatakan bahwa kekerasan itu dilakukan dengan cara penghinaan, pengakuan atau pada batas tertentu, dengan cara-cara perasaan yang bersifat simbolik (Pierre Bourdieu; Dominasi Maskulin (penerbit; Jalan Sutra) hlm; 2).

Di sini hal itu terlihat jelas kondisi yang dialami perempuan dalam kasus ini merupakan bentuk kekerasan simbolis. Dalam logika yang lebih luas sebetulnya kita harus mengamati motif dari tindakan tersebut sekaligus mempertanyakan di mana ruang akademik kampus dalam melihat persoalan ini.

Bagi saya bentuk yang dialami oleh perempuan melalui foto tersebut telah menempatkan perempuan dalam ruang yang statis di sebuah ruang yang seharusnya semua pihak merdeka secara intelektual. Ini merupakan preseden yang sangat buruk sekaligus mencerminkan ketidakberdayaan kita menempatkan perempuan dalam ruang (space) yang sama.

Budaya ini hampir dipastikan akan menggerus eksistensi perempuan sekaligus melemahkan keberadaan mereka. Kita sebetulnya telah terperangkap dalam logika dominasi dengan bersandar pada bentuk pemikiran untuk mengunggulkan diri seraya menundukkan keberadaan perempuan. Bentuk dominasi yang kita anut sebetulnya berpijak pada kehendak diri (egoisme) sehingga mendorong kehendak tersebut untuk menggerus kehendak yang lain.

Kondisi ini dengan sendirinya mengakibatkan ruang akademik hanya dikuasai oleh sebagian orang (laki-laki), sementara di sana kelompok lain (perempuan) mengalami korban dari sikap sepihak.

Kampus sebagai mimbar akademik dan tempat menelurkan beragam gagasan seketika mati di hadapan keegoisan diri karena tidak berdaya menempatkan perempuan sebagai kelompok yang diunggulkan. Persoalan tersebut sebetulnya menandakan bahwa kesetaraan gender tidak terjawab sama sekali di ruang kampus, tetapi bergeming retoris dengan wajah beringas.

Perempuan dan Peradaban

Jauh sebelum persoalan ini mengemuka di ruang publik, sebetulnya persoalan yang dihadapi oleh perempuan sudah terjadi puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Sejarah dunia membuktikan hal ini, bahwa perempuan selalu mengalami ketidakadilan dalam struktur masyarakat.

Pola interaksi dalam masyarakat selalu menempatkan perempuan dalam ruang yang dengan sendirinya telah menyangkal hak mereka sebagai perempuan. Tidak pelak jika hal ini terjadi sampai hari ini meskipun dengan kadar kekerasan yang berbeda. Artinya, jika kekerasan sebelumnya dialami perempuan secara fisik, namun hari ini secara simbolis. Keduanya punya implikasi yang jauh berbahaya bagi peradaban perempuan.

Bagi saya, perempuan punya peran penting dalam sejarah peradaban manusia. Jika logika kita menempatkan perempuan dalam skala terbatas, sebetulnya hal ini bukan saja hendak menggerus peradaban perempuan tetapi malah menyangkal peradaban perempuan dari masa lalu. Persoalan yang dialami oleh perempuan dalam lingkungan kampus merupakan bentuk dari kegagalan kita memaknai peradaban perempuan.

Kegagalan tersebut malah mengakibatkan kita mudah menempatkan perempuan sebagai kelompok ‘kedua’ yang dipandang sebagai pihak yang harus ditundukkan. Bagi saya, di sinilah akar persoalan itu terjadi yang hari ini ramai diperbincangkan oleh publik.

Hemat saya, kegagalan memaknai peradaban perempuan telah mendorong segala bentuk kekerasan itu terjadi. Alih-alih perempuan punya peran penting dalam peradaban, kita justru mencoba menyangkal peran tersebut sebagai bentuk ketakutan berlebihan jika hal ini menggerus peradaban kita (laki-laki).

Di sana sebetulnya kita terjebak dalam logika dan nalar yang buruk karena ketidakmampuan mengakui keberadaan perempuan. Namun anehnya kita malah mengaku diri sebagai kelompok yang paling superior dari kelompok perempuan.

Pada aras ini, kita perlu melihat dan membenah diri sekaligus melihat kembali sejarah dan peradaban dunia. Karena bagi saya, selama kita gagap memahami peradaban perempuan, selama itu pula kita kerap menempatkan perempuan dalam ruang yang statis.

Karena itu, memahami peradaban dan memaknainya merupakan sikap yang jauh lebih baik ketimbang hanya menghadirkan perempuan dalam ruang politik, ekonomi, budaya namun sama sekali tidak mengakui eksistensi mereka. Karena semua itu tidak ada apa-apa jika tidak didahului dengan memahami peradaban perempuan.

Baca Juga: [OPINI] Memulai Pendidikan Kritis yang Menggembirakan

Arsi Kurniawan Photo Writer Arsi Kurniawan

Mahasiswa Administrasi Publik, Universitas Merdeka Malang. Organisasi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia - Komisariat Merdeka - Cabang Malang.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya