Comscore Tracker

[OPINI] Bisakah Kita Membebaskan Diri dari Belenggu Rutinitas?

Ketika manusia modern dihadapkan dengan krisis eksistensial

Ada saja hal-hal yang perlu untuk dilakukan. Khususnya bagi orang dewasa, bekerja adalah rutinitas yang tak ada habisnya. Kita sudah bersiap sejak matahari belum terbit dengan sempurna dan baru pulang ke rumah saat jalanan berubah jadi gelap gulita. Orang-orang kadung menganggapnya wajar, bahwa sudah semestinya bagi manusia modern layaknya kita untuk punya aktivitas dan kesibukan masing-masing.

Walaupun tubuh mulai sempoyongan, tetap saja ada tuntutan kerjaan yang menanti dari Senin hingga akhir pekan. Sementara itu ketika akhirnya ada cukup waktu senggang di hari Minggu, kita sudah gak bertenaga lagi buat bangun dari tempat tidur. Tanpa disadari, kita mulai terjebak pada ritme hidup yang tidak sehat. Bangun, menyiapkan sarapan, mandi, berangkat kerja, pulang, makan, membersihkan diri, dan kembali tidur. Siklus itu terus berulang dalam seminggu tanpa henti.

Sampai suatu ketika, akhirnya kita termenung dan bermonolog, "mengapa peran yang kujalani hanya begitu-begitu saja?" Celah kesadaran dalam diri kita seolah berbisik dan menuntut tanya, "kemana perginya gairah hidupku?". Bisa dibilang, salah satu fase yang sulit dihadapi saat kita dewasa adalah timbulnya perasaan hampa dan kehilangan arah atas kehidupan itu sendiri. Masyarakat kita akrab menyebut kegelisahan tersebut dengan istilah "krisis eksistensial". 

Lebih lanjut, Reene Deveney dan Dr. Candace Crowley, Ph.D pada artikel The Recovery Village yang bertajuk "Existential Crisis" menjelaskan bahwa krisis ini dapat terjadi dalam berbagai tahap kehidupan seperti selama masa remaja, dewasa, atau pun saat kita beranjak tua.

Lazimnya, orang yang sedang mengalami kekhawatiran akan eksistensi dirinya beranggapan bahwa "hidup secara inheren tidak ada gunanya lagi". Dengan kata lain, mereka menilai bahwa keberadaan kita di dunia ini tidak memiliki arti sebab suatu hari nanti kematian akan datang dan merenggut segala sesuatu yang selama ini telah kita perjuangkan dengan susah payah.

Pemahaman yang berbeda terhadap makna krisis eksistensial mungkin saja terjadi antara satu orang dengan lainnya. Akan tetapi, dengan merujuk pada tulisan Arlin Cuncic, "What Is an Existential Crisis?" yang dimuat dalam laman Very Well Mind, diketahui bahwa istilah tersebut mengacu pada hadirnya perasaan yang tidak pasti atau kegelisahan kita tentang makna, pilihan, dan kebebasan dalam hidup.

Jika diamati lebih dekat, hal-hal yang tampak biasa seperti memasuki fase kehidupan baru, kehilangan orang yang dicintai, ketidakpastian jalur karier, kegamangan akan sisi religius kita, serta penderitaan yang dialami karena penyakit tertentu merupakan sedikit dari banyaknya contoh krisis eksistensial yang mungkin kita alami.

Apabila saat ini kamu sering merasa kosong dan kewalahan tapi belum dapat memastikan penyebabnya apa, yuk coba tanyakan ke dirimu. Sebenarnya apa sih yang coba kamu sembunyikan itu? Jika ternyata penyebabnya adalah kehilangan orang yang dicintai, tenangkanlah diri. Mungkin juga penyebabnya adalah tekanan kerja yang terlalu berat. Alih-alih mengambil waktu sejenak, kamu justru memaksakan diri. Hasilnya pun sudah dapat diprediksi, kekhawatiranmu kembali lagi. Oleh karenanya, Soren Kierkegaard, seorang filsuf yang menaruh perhatian khusus pada kajian eksistensialisme sampai berpesan:

"Each person is responsible for finding meaning in their life and living it sincerely or authentically".

Pada intinya, boleh saja kita menampilkan sikap profesional dengan tetap memasang senyum mengembang di antara kerumunan yang berlalu lalang. Namun, kamu juga gak perlu berpura-pura bahagia atau sedih. Kamu hanya punya dua pilihan, hidup dengan bahagia atau menanggungnya dengan amarah dan derita.

 

Baca Juga: [OPINI] Mengapa Banyak Orang Justru Hindari Acara Buka Bersama?

Bintan Rah Photo Verified Writer Bintan Rah

thousand things to say

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Indiana Malia

Berita Terkini Lainnya