Comscore Tracker

5 Alasan Persija Begitu Perkasa di Final Piala Presiden 2018

Cara bermain Persija di final pilpres harus diwaspadai oleh calon lawannya di Liga 1!

Sudah satu minggu Final Piala Presiden berlalu yang mempertemukan Persija Jakarta melawan Bali United (17/2/2018), di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Pertandingan tersebut dimenangkan oleh Persija Jakarta dengan skor 3-0.

Gol dicetak oleh Marko Simic menit ke-19’ dan 47’, sementara gol ketiga dibuat oleh Novri Setiawan di menit ke-62’. Kemenangan besar Persija atas Bali United membuat tim Macan Kemayoran kembali mengangkat trofi di kompetisi nasional, setelah 17 tahun tidak pernah merasakan gelar juara lagi. Karena Persija terakhir kali juara Liga Indonesia pada tahun 2001.

Selain itu Persija menjadi klub ketiga yang menjuarai Piala Presiden sejak diselenggarakan di tahun 2016. Ketiga klub itu adalah Persib Bandung (2016), Arema Malang (2017), dan Persija Jakarta (2018).

Di malam final, Persija tampil sangat luar biasa dalam upaya menaklukkan skuat pemain Bali United yang lebih berkualitas dibanding milik Persija. Apa yang membuat Persija begitu superior hingga membuat Serdadu Tridatu tidak berkutik di partai final? Berikut ulasannya:

1. Kegagalan Yabes Roni menekan Rezaldi Hehanusa

goal.com

Irfan Bachdim yang tidak dalam kondisi fit membuat pelatih BUFC, Widodo C Putra menurunkan Yabes Roni di sayap kanan dalam formasi 4-3-3. Coach Widodo pasti mengharapkan Yabes menggunakan kecepatannya untuk membuat bek kiri Persija, Rezaldi Hehanusa kerepotan hingga membuatnya enggan naik untuk membantu penyerangan Persija.

Beberapa kali kecepatan pemain asal Nusa Tenggara Timur ini merepotkan Rezaldi. Tetapi upaya Yabes hanya bertahan sekitar 20 menit babak pertama. Ia tidak konsisten dalam mengimbangi Rezaldi di sisi flank hingga harus berganti posisi ke sayap kiri.

Akibatnya Rezaldi menjadi bebas menyerang di sisi kanan pertahanan Bali United di sepanjang pertandingan berkolaborasi dengan Novri Setiawan. Aksi overlap Rezaldi juga membuat I Made Andika kerepotan, kemudian melakukan pelanggaran. Sehingga menghasilkan tendangan bebas untuk Persija.

Tendangan bebas yang dilakukan oleh Rezaldi yang disambut baik oleh Marko Simic lewat tandukan kerasnya dan menjadi gol. Gol pembuka yang jadi awal runtuhnya mental pemain Bali United.

2. Peran Sandi Sute di lini tengah Persija

bola.net

Publik sepak bola Indonesia mungkin lebih banyak memperhatikan aksi Marko Simic yang menjadi pembeda dalam pertandingan final Piala Presiden 2018. Tapi ada satu pemain penting di malam itu yang menjadi kunci dalam mematikan lini tengah Bali United.

Pemain itu adalah Sandi Sute yang berposisi sebagai gelandang bertahan Persija. Perannya dalam menjinakkan pemain tengah BUFC berjalan sempurna. Kerja kotornya membuat Fadil Sausu dan Nick Van Der Velden tidak bermain baik seperti biasanya.

Tekel dan pressing ketatnya membuat suplai bola dari tengah ke lini depan Serdadu Tridatu menjadi hampir nihil.

Tercatat bahwa Ilija Spasojevic hanya melakukan satu kali tembakan mengarah ke gawang Persija saking minimnya pasokan bola. Sandi juga memaksa Van Der Velden bermain jauh ke dalam pertahanan Bali United untuk menghindari penjagaan pemain bernomor 29 ini agar tetap bisa menyuplai bola ke lini serang BUFC.

Lini tengah Persija memang menang mutlak malam itu, Labbola mencatat Persija Jakarta menguasai 51 persen penguasaan bola dan Bali United hanya 49 persen. Begitu juga dengan passing sukses yang dilakukan Persija sebanyak 263, unggul jauh dari BUFC yang melakukan 233 passing sukses.

Peran Sandi Sute juga memudahkan Rohit Chand dalam fokus menyerang. Hasilnya pemain asal Nepal yang bermain sebagai gelandang Sentral di pertandingan ini mencatat dua assist untuk gol kedua dan ketiga Persija.

3. Persija menerapkan garis pertahanan tinggi

kompas.com

Tampil di kompetisi Asia membuat Persija Jakarta memetik banyak pelajaran. Di  Pertandingan pertama melawan Johor Darul Ta’zim pada babak penyisihan grup Piala AFC (14/2/2018), Persija kalah telak 3-0.

JDT mengalahkan Macan Kemayoran karena menerapkan permainan total football peninggalan pelatih Mario Gomez yang kini melatih Persib Bandung. Satu konsep bermain total football adalah menjadikan kiper sebagai penyerang pertama dan striker sebagai pemain bertahan pertama.

Juara Malaysia tersebut membuat lini belakang Persija yang dikawal Jeamie Xavier dan Gunawan Dwi Cahyo tertekan dan kebingungan. Karena JDT menerapkan garis serangan tinggi dan tiga striker mereka tidak pernah jauh posisinya dari empat bek Persija.

Para penyerang JDT selalu mengejar dan berupaya merebut bola dari bek-bek Persija yang celakanya di pertandingan itu selalu memulai serangan dari para bek. Hal itu tentu saja menjadi sasaran empuk Johor yang dengan gampangnya bisa langsung menguasai bola langsung di lini pertahanan Persija.

Coach Stefano Cugurra Teco sepertinya terinspirasi dari pertandingan melawan JDT di Piala AFC. Karena 2 hari berselang, justru Persija menerapkan permainan yang serupa dengan JDT yaitu garis pertahanan tinggi dan para striker Persija menjadi first defender di pertandingan final Pilpres.

Novri Setiawan dan Riko Simanjuntak henti-hentinya menekan pemain belakang Bali United. Ditambah peran Ramdani Lestaluhu sebagai free role player yang bergerak bebas di area tengah dan belakang BUFC semakin menambah tekanan Demerson dkk.

Gol ketiga Persija merupakan hasil dari strategi tersebut. Ahmad Agung melakukan kesalahan dalam membuang bola karena ditekan penyerang Persija, langsung dimanfaatkan oleh Rohit Chand yang dengan elegan memberi assist kepada Novri, dan dikonversikan olehnya menjadi gol pengunci kemenangan Persija.

4. Marko Simic adalah pembeda

fourfourtwo.com

Tapi apa jadinya jika semua strategi Persija di pertandingan final Pilpres tanpa adanya seorang pencetak gol ulung seperti Marko Simic? Mungkin hasilnya akan lain. Karena upaya Riko dan Novri memberi umpan akan sia-sia jika Persija tidak punya striker bagus.

Dua gol Persija yang diciptakan Simic betul-betul membuktikan bahwa kualitas pemain asal Kroasia ini memang diatas pemain lain yang bermain di Indonesia. Apalagi tendangan Bycycle kick-nya membuat 70 ribu pasang mata di New GBK berdecak kagum dibuatnya.

Tidak hanya di pertandingan final, lihat saja 9 gol yang dibuat selama babak penyisihan hingga partai semifinal Piala Presiden. Kamu yang mengerti tentang sepak bola pasti mengatakan bahwa Persija benar-benar mengontrak seorang Superman untuk dijadikan penyerangnya!

5. Dukungan luar biasa The Jak Mania

juara.bolasport.com

Football without fans is nothing”, istilah itu memang benar adanya. Semua penampilan spartan dari para pemain Persija tidak akan muncul jika tanpa dukungan The Jak Mania yang militan sejak awal hingga akhir pertandingan. Mereka tidak henti-hentinya bernyanyi dan memberikan dukungan kepada Ismed Sofyan cs.

Puluhan ribu The Jak berhasil mengintimidasi pemain Bali United yang baru pertama kali bermain di Stadion Gelora Bung Karno yang baru. Hal itu pasti membuat kaki para penggawa Serdadu Tridatu agak bergetar dan kikuk saat bermain.

Walau ada sedikit kerusakan yang dilakukan oleh oknum suporter, tapi kehadiran fans beratribut oranye ini membuat atmosfer final Piala Presiden layaknya final Liga Champions Eropa. Padahal Pilpres hanyalah sebuah turnamen pra musim untuk klub-klub Indonesia.

Itu tadi ulasan mengapa Persija Jakarta bisa tampil luar biasa di final Piala Presiden hingga bisa menggondol trofi Pilpres 2018. Pastinya cara bermain Persija yang seperti itu akan sangat berguna dan pasti ditakuti oleh calon lawannya di kompetisi Liga 1 2018.

Line Ads

Topic:

  • Irma Yudistirani

Just For You

I Want More !