Comscore Tracker

[OPINI] Bagaimana Cara Hilangkan Overthinking Berdasarkan Stoikisme?

Jangan biarkan pikiran negatif menghalangi produktivitasmu

Sebagai manusia biasa, sebagai makhluk Tuhan yang biasa, kita sering dihadapkan oleh berbagai masalah ataupun kejadian yang tidak enak, baik itu asalnya dari lingkungan, teman, keluarga, atau bahkan pacar (ngaku aja deh!). Tidak sedikit milenial yang ketika dihadapkan situasi yang tidak enak, pasti mikirnya yang tidak-tidak.

Contohnya untuk pria, ketika kita ingin menyapa gebetan kita yang kebetulan lewat di jalan, pasti mikirnya:

"Ah kalo nanti dia ga ngerespon gue gimana ya?.."

"Nanti dia malah jadi ilfeel sama gue, mending gausah ah." atau seperti,

"Duh ada temennya, nanti gue malah diomongin yang engga engga".

Padahal belum tentu dia tidak merespon, belum tentu dia akan ilfeel, dan juga belum tentu teman-temannya mau membicarakanmu. (gausah geer!)

Peristiwa overthinking tentulah masih banyak, contohnya lagi :

Ketika kita posting sebuah foto di media sosial, kita sangat khawatir akan gebetan kita suka atau malah tidak suka, dan akhirnya doi nge-unfoll kita hanya karena kita posting foto yang dia tidak sukai (plis deh gausah lebay). Sejatinya, semua perkataan orang diatas, tidak ikut andil dalam diri kita, karena sama sekali bukan kendali kita.

Kabar baiknya, lebih dari 2.000 tahun yang lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan banyak solusi dari emosi negatif termasuk overthinking. Filsafat ini bernama Filsafat Stoa, dan para pengikutnya dinamakan "kaum Stoa". Dari mulai Zeno yang terdampar di Athena, ia mempelajari filsafat dan akhirnya membuat filosofinya sendiri. Dilanjutkan dan dikembangkan oleh filsuf lain, seperti Chrysippus dari Soli, Yunani ; Cato The Younger dari Roma, seorang politisi dan negarawan yang terkenal karena berani melawan Julius Caesar ; Lucius Seneca dari Roma ; Musonius Rufus dari Roma, mengejar filsafat di era Kaisar Nero ; Epictetus dari Yunani ; dan Kaisar Marcus Aurelius, seorang kaisar dari Romawi.

"Some things are up to us, some things are not up to us" -Epictetus [Enchiridion]. Begitulah kata salah satu tokoh filsuf stoa. Prinsip ini disebut juga sebagai "dikotomi kendali" [dichotomy of control]. Maksudnya, di dalam hidup ada sesuatu yang bisa kita kendalikan, dan ada sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Sesuatu yang bisa kita kendalikan asalnya dari diri sendiri, seperti tujuan kita, opini kita. Sedangkan sesuatu yang tidak bisa kendalikan / diluar kendali kita, adalah sesuatu yang tidak bisa kita pengaruhi, dalam artian pengaruh apapun yang kita berikan, tidak dapat menjamin hal yang ada di luar kendali kita berhasil, ataupun gagal.


Apa aja sih yang tidak bisa kendalikan / tidak ada dibawah kendali kita?

- Segala sesuatu yang di luar pikiran kita dan tindakan kita, seperti cuaca, banjir, dan       bencana alam lainnya.
- Opini orang lain.
- Kondisi kita terkini maupun kondisi dari lahir.
- Kesehatan kita.
- Dan masih banyak lainnya.

Kalo yang ada di bawah kendali kita?

-Persepsi, opini, pertimbangan diri sendiri.
-Keinginan / kemauan.
-Tujuan kita.
-Segala sesuatu yang kita pikirkan sendiri.

Kita sebagai manusia pastilah mengiginkan kebahagiaan, dan kebahagian menurut sebagian besar dari kita adalah setelah kita mencapai suatu achievement tertentu. Misalkan, kita bahagia jika gebetan kita suka juga dengan kita. Kita bahagia jika mereka (teman kita / musuh kita) tidak ngomongin / ngegibahin kita. Secara tidak sadar, kita sudah menggantungkan kebahagiaan kita pada hal yang tidak dibawah kendali kita.

Karena sejatinya, opini orang lain tentang kita, persepsi mereka, bahkan tindakan mereka adalah hal diluar kendali kita. Ketika kita memusingkan hal-hal diluar kendali kita, ini adalah pemahaman yang salah menurut para filsuf stoa. Karena apa? karena ketika kita menggantungkan kebahagiaan pada hal yang tidak bisa kendalikan, kapan kita bisa bahagia? Contohnya, Kita terobsesi dengan artis korea, sehingga kita ingin terlihat seperti mereka yang mungkin tampan, putih, jago ngedance. Kemudian kita menyesali diri sendiri karena kita buluk, item, ga jago ngedance. Sekarang bagaimana? kita menyesali kondisi kita yang ada di dunia ini? apakah kita bisa nge-request sebelum roh kita ditiup "Ya Tuhan aku ingin mirip seperti Jungkook." Tidak ada faedahnya jika kita menggantungkan kebahagiaan diluar kendali kita, karena itu hanya menimbulkan keresahan.

Stoikisme mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa didapatkan dari "things we can control", dalam artian kita akan mendapatkan kebahagiaan sejati dari dalam, bukan dari luar. Bagaimana kita bisa bahagia sedangkan semua pencapaian itu datangnya dari luar / tidak sepenuhnya berada di tangan kita? 

"Siapa pun yang mengingini atau menghindari hal-hal yang ada di luar kendalinya tidak pernah akan benar-benar merdeka dan bisa setia pada dirinya sendiri, tetapi akan terus terombang- ambing terseret hal tersebut." -Epictetus [Discourses]. Kita bisa terobsesi menghindari hal-hal buruk dalam hidup, seperti kemiskinan, kesusahan hidup, kematian. Tetapi, sama dengan keinginan, menghindari hal diluar kendali kita juga adalah kesia-siaan. Kita tidak akan pernah merdeka. Bayangkan saja, ketika kita berusaha menghindari kematian, bagaimana caranya?

Tetapi jika kita pikir sejenak, apakah dengan menghindari kesusahan hidup, apakah itu juga diluar kendali kita? Bukankah kita bisa berusaha seperti bekerja keras, belajar, memanfaatkan waktu dengan benar agar terhindar dari kesusahan hidup? Mari bayangkan sejenak, ketika kita sudah belajar untuk UNBK setahun penuh, kita mondar-mandir bimbel hanya untuk mendapatkan nilai memuaskan ketika UNBK. Dan pada hari-Htiba-tiba sistem error, hanya nama kita yang tidak muncul. Alhasil nilai kita 0 semua. Dari contoh tersebut, kita bisa simpulkan bahwa dengan menghindari kesusahan hidup, kematian, kemiskinan memang perlu diupayakan, namun kita harus sadar bahwa ada hal yang diluar kendali kita yang mungkin akan terjadi.

Tetapi, filsafat ini bukan mengajarkan kita untuk pasrah dalam keadaan, untuk pasrah karena hal-hal buruk bisa terjadi kapan saja. Tetapi filsafat ini mengajarkan kita cara untuk tidak bersedih berlebih-lebihan karena suatu kejadian, karena kita sadar ada hal yang berada di luar kendali kita yang bisa datang kapan saja. Kita tentulah harus mengusahakan yang terbaik untuk hari esok, tanpa memikirkan hal buruk apa yang terjadi, dan jika hal buruk itu terjadi, kita harus bisa mengikhlaskan itu, karena sama sekali tidak bisa kita kendalikan.

Kita harus fokus ke hal-hal yang ada di dalam kendali kita, yang diluar? pasrah-in aje!

Bayangkan ketika kita sedang akan menghadapi rapat dengan organisasi sebelah, dimana organisasi sebelah terkenal dengan orang cendekiawannya dengan public speaking yang begitu bagus. Jika kita tidak berfikir seperti filsuf stoa, kita pasti akan berpikir :

"Ah nanti kalo organisasi sebelah gasuka sama gue gimana ya?..."

"Duh gue takut gugup nanti"

Bahkan, "Gimana ya kalo kebelet BAB di tengah rapat?"

Perlu diketahui, segala hal luar yang terjadi di rapat nanti bukanlah kendali kita, kita tidak bisa menuntut itu terjadi atau tidak akan terjadi. Sebaliknya, kita harus mengusahakan apa yang ada di dalam kendali kita sendiri, seperti melatih public speaking kita, melakukan pemanasan rapat, tampil rapih dan sopan. Hal-hal seperti persepsi organisasi sebelah, opini mereka tentang diri kita, perasaan mereka, bahkan rasa ingin buang air besar ditengah rapat merupakan hal di luar kendali kita. Sama sekali tidak bisa kita kendalikan, lantas, mengapa harus dipusingkan?

Memang bukanlah perkara mudah untuk memahami filsafat ini, apalagi menerapkannya. Dibutuhkan waktu yang relatif tidak sebentar, kesabaran, dan konsekuen untuk bisa menerapkan ini. Tetapi, jika kita berusaha, pastilah keberhasilan akan menunggu di depan. Jangan menyerah!  Untuk kalian yang sedang dilanda overthinking, dilanda pikiran negatif, mendapat hujatan sana sini, please, be strong. Tuhan punya alasan mengapa kita diciptakan, dan kita mempunyai takdir kita masing-masing. So don't be sad. Takdir Tuhan pastilah indah.

Kamu memiliki kendali atas pikiranmu-bukan kejadian-kejadian di luar sana. Sadari ini, dan kamu akan menemukan kekuatan.
-Marcus Aurelius [Meditations]

Baca Juga: [OPINI] Hijrah: The Pursuit of Identity for Millennials

Fatahillah Daffa Photo Verified Writer Fatahillah Daffa

Seorang pelajar yang menyempatkan hari-harinya untuk menulis. Salam Milenial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Siantita Novaya

Just For You