Comscore Tracker

[OPINI] Film Black Widow dan Bagaimana Keluarga yang Seharusnya

Keluarga Ideal Versi Film "Black Widow"

Akhirnya film Black Widow, salah satu karakter perempuan utama dalam kelompok Avengers, dirilis juga. Setelah diundur selama setahun lebih akibat Pandemi COVID-19, dirilisnya film ini cukup mengobati hati para fans Marvel. Hal yang menarik untuk dilihat dalam film ini adalah tentang asal-usul bagaimana Natasha Romanoff menjadi Black Widow.

Black Widow, sebenarnya adalah proyek Jenderal Dreykov, penguasa Red Room, yaitu sepasukan perempuan yang tunduk padanya dan jago tempur. Kalau di dunia nyata, mungkin hal ini pernah dilakukan oleh Muammar Khadafi, mantan penguasa Libya, yang tewas dibunuh pemberontak tahun 2011 lalu.

Gaya Amerika yang anti Sovyet komunis, masih ketara betul dalam sudut pandang penceritaan film ini. Dalam film tersebut dikisahkan bagaimana Natasha kecil dan adiknya, Yelena, serta ayah dan ibu mereka, Alexei dan Melina, adalah keluarga settingan, yang dikirim oleh Jenderal Dreykov, yang kelihatannya adalah seorang Jenderal Sovyet, untuk menjadi mata-mata di Ohio, Amerika Serikat. Alexei alias Red Guardian, sempat juga menyanyikan larik pertama dari lagu sosialis internasional, yaitu Internasionale. Setelah misi berhasil, dan kedok mereka terbongkar, Alexei, Melina, Natasha, dan Yelena kabur ke Kuba dengan pesawat capung.

Sesampainya di Kuba, si ibu atau Melina, harus mendapat perawatan, akibat terluka, ketika mereka berusaha melarikan diri dari Ohio  ke Kuba. Natasha setelah itu berontak, pada anak buah Dreykov yang ingin membawanya beserta sang adik. Dalam perkembangannya Natasha dan Yelena, akhirnya menjadi bagian dari pasukan Black Widownya Dreykov.

Natasha kemudian membelot dan bergabung dengan S.H.I.E.L.D, yang sebenarnya saat itu didominasi oleh Hydra (organisasi rahasia sempalan NAZI), ia diperintahkan oleh organisasi barunya untuk membunuh Dreykov dengan cara dibom, hal yang sangat disesali Natasha karena aksi pengeboman yang dilakukannya tersebut, ternyata malah mengorbankan anak perempuan Dreykov yang masih kecil, Antonia. Antonia kemudian dijadikan Dreykov sebagai the Taskmaster, tentara pembunuh yang telah diprogram untuk meniru semua gaya bertarung para Avengers.

Setelah pertarungan para Avengers, yang dikisahkan dalam film "Captain America: Civil War", Natasha berhasil meloloskan diri dari kejaran Jenderal Thaddeus, yang ingin memenjarakannya, karena dianggap bersalah dan terlibat dalam pertarungan para Avengers.

Salah satu tempat pelarian Natasha, adalah Budapest di tempat itu ia bertemu dengan Yelena,yang sudah tersadar dari pencucian otaknya Dreykov, akibat terkena semprotan serum penyadar, yang diberikan oleh salah seorang Black Widow, yang hampir tewas, akibat serangan Yelena.

Epilognya, Natasha, Yelena, Alexei, dan Melina, yang ternyata masih memiliki rasa bahwa mereka adalah keluarga yang sebenarnya, berhasil menghabisi Dreykov dan menyadarkan Pasukan Black Widow, termasuk the Taskmaster. Natasha akhirnya kembali ke Avengers, dan tewas dalam misi menemukan Soul Stone dalam film Avengers: The Endgame. Alexei, Melina, dan Yelena, membawa Pasukan Black Widow bersama mereka. 

Scarlett Johansson seperti biasa tetap memesona dengan gerakan lincah dan mematikannya. Hal yang juga menarik perhatian adalah aktingnya Florence Pugh, sebagai Yelena, yang sepertinya akan menjadi Black Widow versi gelap, yang kemungkinan memerangi Avengers di film-film Avengers ke depannya.

Cerita film ini sebenarnya, entah sengaja, atau tidak, mengajak kita untuk merefleksikan kembali makna keluarga. Keluarga borjuis, dalam pandangan duo jenggot a.k.a Marx dan Engels pada dasarnya adalah institusi penindasan, yang di dalamnya kapitalisme dan patriarki bekerja sama untuk memproduksi buruh yang penurut dan teralienasi. Perempuan hanya alat produksi dari laki-laki yang berkuasa atas mereka, dikutip dari The Nation.

Akan tetapi keluarga Natasha, dalam film diceritakan bukanlah alat penindasan, melainkan adalah alat perlawanan untuk menghancurkan sistem penindasan yang diciptakan oleh Jenderal Dreykov, seorang diktator yang seolah-olah komunis, akan tetapi sepertinya bukan sosialis apalagi komunis. Seorang fasis atau diktator kapitalis, mungkin lebih tepat untuk menggambarkan sosok dan tindakan Dreykov.

Spirit keluarga seperti inilah yang kita butuhkan dalam masa Pandemi COVID-19, yaitu saling bantu rekan-rekan sebangsa yang dilanda kesulitan akibat bisnisnya gulung tikar, terkena PHK, terpapar COVID-19, dan berbagai masalah lainnya. Pandemi ini memang tidak hanya membuat kita para manusia bertumbangan, krisis ekonomi yang menimbulkan berbagai kesulitan hidup juga menjadi masalah utama yang harus kita hadapi bersama. Khususnya para manusia yang bisa bertahan secara fisik dari penyebaran COVID-19. Mudah-mudahan  

Baca Juga: [OPINI] Gunakan Perspektif Dua Sisi Agar Tak Mudah Terprovokasi

Harsa Permata Photo Writer Harsa Permata

Harsa Permata lahir di Aceh Selatan, pada tanggal 30 Januari 1979. Alumni Filsafat Universitas Gadjah Mada. Sempat menjadi pengajar di Sekolah Dasar dan Menengah internasional di Jakarta, pada tahun 2005-2011, salah satunya adalah Sekolah Jubilee, Jakarta. Pada tahun 2016, menjadi dosen tetap di Universitas Universal, Batam, Kepulauan Riau. Ia juga mengajar sebagai dosen tidak tetap di berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Sanata Dharma dan Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya