Comscore Tracker

Married by Accident: Pentingnya Sex-Ed untuk Pencegahan

Ketika seks hanya dipandang seputar selangkangan saja

Married by Accident. Istilah tersebut terdengar populer di Indonesia terlebih di kalangan remaja. MBA merupakan kondisi ketika kedua insan menikah karena adanya ‘kecelakaan’, yakni saat pihak perempuan hamil lebih dulu sebelum melaksanakan akad nikah. Terdapat setidaknya dua aspek yang menjadi alasan terjadinya MBA, yaitu karena perzinaan atau karena pemerkosaan. Namun, yang menjadi pembahasan penulis kali ini ialah MBA karena faktor perzinaan.

Di Indonesia, MBA menjadi salah satu faktor meningkatnya pernikahan dini (early marriage). Meskipun pemerintah telah merevisi batas usia minimal perkawinan di Indonesia menjadi 19 tahun. Namun, pernikahan dini terus marak terjadi dengan berpegang pada regulasi bahwa penyimpangan batas usia minimal pernikahan dapat dilakukan dengan memohon dispensasi ke pengadilan. Dilansir Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, terdapat 34.000 permohonan dispensasi nikah sepanjang Januari-Juni tahun 2020, dan alasan tertinggi pengajuan dispensasi nikah tersebut ialah karena Married by Accident.

Konsep MBA menjadi masygul ketika kedua insan justru menikah karena keterpaksaan tanpa memiliki kesiapan mental dan fisik untuk menikah, dan semakin ironis saat fenomena ini seakan menjadi perkara yang lazim bagi masyarakat Indonesia. Mengapa demikian? Karena istilah MBA bukan lagi sesuatu hal yang ‘aneh’, akibatnya tidak sedikit orang justru menormalisasikan perzinaan. Padahal, di negara yang mayoritas beragama islam, zina merupakan perbuatan yang dilarang. Sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 32 yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Tingginya kasus MBA di Indonesia merepresentasikan masih kurangnya pemahaman terkait pendidikan seks bagi remaja, sebab MBA tidak terlepas dari faktor seks bebas dan kurangnya pendidikan seksual anak. Di daerah pedesaan, misalnya, pembicaraan soal seks masih dianggap tidak etis dan tabu, di samping aktivitas seks lumrah dilakukan dalam kehidupan kaum dewasa. Akibatnya, kaum remaja dengan rasa ingin tahu yang tinggi pun mengeksplorasi sendiri segala macam hal tanpa diberi kesempatan untuk mendapatkan penjelasan yang akurat dan relevan dari orang tuanya, termasuk soal seksualitas dan kesehatan reproduksi.

MBA yang terjadi di kalangan anak muda terbilang miris untuk dikatakan sebagai realitas di tengah masyarakat. Sebab pada hakikatnya, pelaku MBA tidak mengetahui bagaimana risiko yang akan mereka hadapi, ditambah beban ketidaksiapan mental dan fisik untuk membangun sebuah rumah tangga, serta ihwal perspektif negatif masyarakat terhadap kasus MBA yang senantiasa terikat pada isu moral dan agama.

Berlandaskan pada persoalan tersebut, lingkungan keluarga seyogianya turut berperan memberikan edukasi seputar seksualitas pada anak. Orang tua perlu memiliki pengetahuan komprehensif tentang pendidikan seks untuk melindungi anak mereka dari evokasi maupun penyimpangan seksual. Kabar baiknya, di era milenial seperti sekarang, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan seksual pada anak dirasa mengalami kemajuan. Banyak komunitas, organisasi, maupun aktivis yang mengampanyekan terkait pentingnya sex-ed. Informasi tentang pendidikan seksual pun tersebar di beberapa platform digital. Salah satu platform tersebut ialah taulebih.id, sebuah platform pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual dari perspektif islam yang digagas oleh Zhafira Aqyla selaku research student di Osaka University, Jepang.

Adanya kampanye dan informasi terkait pentingnya pendidikan seksual memberikan kesempatan bagi kita untuk berperan serta dalam meminimalisir kasus MBA dan kasus-kasus yang diakibatkan oleh MBA di Indonesia. Maka dari itu, pemahaman terkait pendidikan seksual juga diperlukan oleh ‘kita’ sebagai generasi pendidik maupun calon orang tua, salah satunya melalui pembelajaran nonformal. Sebagaimana pernyataan Abdullah Gymnastiar yang mengatakan bahwa “Mengubah bangsa harus dengan 3M. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari hal kecil. Mulai saat ini.”

Baca Juga: Jaga Batasan, 5 Adab Berteman dengan Lawan Jenis yang Sudah Menikah

Riani Shr Photo Verified Writer Riani Shr

Menulis adalah salah satu upaya menyembuhkan yang ampuh.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya