Comscore Tracker

Refleksi : Obrolan-obrolan yang Menduakan Tuhan

Masyarakat yang ingin memperjuangkan haknya tapi lalai pada Tuhannya

OBROLAN-OBROLAN YANG MENDUAKAN TUHAN

“Lah, kalau pemerintah sudah tidak memberi jalan, apalagi kita tidak punya orang dalam di pemerintahan, kita ngemis kepada siapa lagi.”

Obrolan pagi hari diamperan rumah Hartono amat serius rupanya, mestinya obrolan seserius itu tidak cocok dilakukan pagi hari. Alasan pertama, pagi hari merupaka suasana sejuk dimana semua yang dilihat dan semua yang didengar mempengaruhi kehidupan selama satu hari bahkan hari berikutnya. Alasan kedua, obrolan semacam itu membuat suguhan semacam kopi dengan gorengan menjadi tidak berselera lagi untuk dinikmati.

Hartono pagi itu menerima kedatangan kerabat-kerabatnya dari luar kota, kebiasaan silaturrahmi sudah menjadi kewajiban dilingkungan keluarga Hartono, dan kegiatan pagi hari dengan cangkruan ditemani kopi dan gorengan merupakan kegiatan wajib kegiatan silaturrahmi. Obrolan dilakukan oleh dua orang, dengan satu orang lebih tua dan lawan bicaranya merupakan pemuda paruh baya, karena begitu serius nampaknya obrolan mereka, membuat Hartono penasaran, alasan menumpang dan minta gorengan lengkap dengan segelas kopi panas, akhirnya Hartono berhasil duduk disamping dua orang yang sedang asyiknya mengobrol.

“Mbah, masih aktif mengelola klub Volli di desa?” pemuda paruh baya memulai pembicaraan.
“Alhamdulillah masih, bahkan bertambah sukses sekarang.”
“Wah wah, enak dong mbah.”
“Klub vollimu apa kabar disini?”
“Kering mbah, mandek, mainnya musiman”
“Maksudmu?”
“Ya kering Mmbah, tidak punya dana, kita gaji pemain pakek apa?”
“Lah, pemerintah disini gimana? Sudah coba minta bantuan?”
“Boro-boro mbah, minta bantuan tak sekalipun direspon”
“Waduh bahaya, harus punya orang dalam dipemerintahan biar gampang dapat bantuan, ini kan kegiatan positiv, jelas itu  sudah jadi hak kita, kalau tidak begitu, kita ngemis kepada siapa lagi coba?"“
Iya juga ya mbah, bener banget” pemuda paruh baya kemudian mengangguk penuh keyakianan.

Obrolan dan beberapa tanggapan didalamnya nampaknya biasa saja bukan? Dan lumrah kita dengar. Mari sadar bersama, bukan hanya dari segi agama, dari segi sosialpun obrolan semacam itu amatlah berbahaya. Apalagi terjadi dilingkungan pedesaan, sedangkan beberapa mayoritas masyarakat pedesaan masih gampang diprovokasi dalam hal-hal yang umumnya berkaitan dengan masalah pemerintahan.

Latar belakang masyarakat pedesaan merupakan sebuah sekumpulan orang yang fanatik dengan apa yang baru mereka dapat maupun yang sudah mereka jalani. Fanatisme dalam masyarakat bisa dilihat dari bagaimana cara mereka beragama, cara mereka beragama tentunya sangat tidak mudah dipengaruhi. Namun, hal baru semacam kebiakan publik yang dilakukan pemerintah umumnya sangat rentan untuk berubah dan dipermainkan. Masyarakat pedesaan mungkin akan fanatik dengan keputusan A apabila keputuan tersebut sudah menjadi keputusan bersama dan disetujui oleh masyarakat lain. Maka dari itu keputusan yang benar dan memang sangat benarlah yang harusnya sampai dianggapan orang perdesaan.

Kutipan percakapan keluarga Hartono diatas tentunya tidak sehat bila berlarut-larut tumbuh serta mengakar dibenak orang pedesaan. Obrolan semacam ini misalnya “Waduh bahaya, harus punya orang dalam dipemerintahan biar gampang dapat bantuan, ini kan kegiatan positif, jelas itu  sudah jadi hak kita, kalau tidak begitu, kita ngemis kepada siapa lagi coba”. 

Masalah dana semacam ini saja mengeluh ke pemerintah, bagaimana nasib Tuhan yang memang hakikatnya mereka mintai bantuan? Apa tidak mereka sadari, kalau mereka sudah menduakan Tuhan? Sungguh ironi kehidupan masyarakat yang ingin memperjuangkan hak-haknya tapi lalai pada Tuhannya.

Baca Juga: [OPINI] Jurang Sosial Media dalam Konten Politik di Indonesia

Muhamad Zainal Auli Photo Community Writer Muhamad Zainal Auli

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Siantita Novaya

Just For You