Comscore Tracker

[OPINI] Potensi Industri Olahraga yang Menjanjikan

Kebijakan Swiss di bidang olahraga mencakup berbagai dimensi

Dalam benak kita, Swiss selalu identik sebagai negara yang terkenal akan produk-produk jam, keju, coklat (meskipun bukan negara penghasil kakao), serta produk-produk farmasi dan kimianya.

Berbagai merk dan produk-produk Swiss juga sudah dapat kita temui di berbagai toko dan mall-mall di Indonesia. Namun, jarang sekali kita mengasosiasikan image Swiss dengan bidang olahraga, kecuali mungkin dengan petenis asal Swiss, Roger Federer, dan olahraga musim dingin yang kurang begitu populer di masyarakat kita.

Selama ini, sektor-sektor tradisional yang terkenal memiliki peran besar dalam menyumbangkan produk domestik bruto (PDB) Swiss di antaranya adalah sektor dan industri farmasi dan kimia, jasa keuangan, manufaktur, logam, dan elektronik. Siapa sangka bahwa ternyata, sektor olahraga juga memiliki peran yang cukup penting dalam perekonomian Swiss.

Baru-baru ini, kantor Olahraga Federal Swiss menyampaikan laporan bahwa
aktivitas yang berhubungan dengan olahraga di Swiss menyumbang CHF 22,2 miliar (USD 22,8 miliar) per tahun bagi ekonomi Swiss. Angka tersebut bukanlah jumlah yang kecil. Jika dilihat secara keseluruhan, olahraga menyumbang 1,7% dari PDB Swiss, sebanding dengan sektor lainnya seperti sektor peralatan mesin atau produk
logam.

Jika kita telaah lebih lanjut laporan tersebut, industri olahraga di Swiss
mempekerjakan sebanyak 97.900 orang (pekerja penuh waktu), atau 2,4% dari
seluruh pasar pekerja di Swiss. Sejak tahun 2005, omset di sektor olahraga telah meningkat sebesar 41% dan sektor ini telah menciptakan sekitar 11.000 lapangan pekerjaan baru selama periode 12 tahun.

Hal ini cukup mengejutkan karena berdasarkan pengamatan di permukaan,
antusiasme masyarakat Swiss terhadap olahraga nampaknya tidak sebesar dengan negara-negara lain di Eropa.

Memang selama musim dingin, dan ketika salju sudah turun, banyak masyarakat Swiss yang menyukai olahraga musim dingin seperti ski, snowboard, dan lain-lainnya. Namun secara umum, antusiasme masyarakat Swiss terhadap olahraga jika kita amati tidaklah sebesar masyarakat Indonesia.

Kita ambil saja contoh perhelatan Piala Dunia 2018. Jika kita ke kota-kota besar di Swiss, kita akan jarang menemukan ajang “nobar”, seperti layaknya di Indonesia maupun negara-negara tetangga Swiss, meskipun tim nasional Swiss sedang bermain.

Liga sepak bola Swiss, yang dinamakan “Raiffeisen Super League” pun tidak seterkenal liga sepak bola negara-negara tetangganya, dan jarang sekali
stadium sepak bola bisa penuh ketika suatu tim lokal sedang bermain.

Memang antusiasme masyarakat Swiss sedikit berbeda jika kita berbicara mengenai olahraga tenis. Pemain tenis terkenal dari Swiss, Roger Federer, sudah mereka anggap sebagai “pahlawan nasional”. Saking “cintanya” mereka kepada Roger Federer sampai-sampai Bank Nasional Swiss menerbitkan koin edisi khusus “Federer”, yang dikeluarkan dalam edisi yang terbatas, dengan nilai CHF 20 (sekitar 300 ribu Rupiah).

Melanjutkan laporan yang dikeluarkan oleh pihak Swiss, disampaikan juga bahwa industri olahraga yang terkait dengan fasilitas olahraga menghasilkan nilai tambah terbesar (23%) bagi perekonomian negara, diikuti oleh klub dan federasi individu (19%) dan pariwisata olahraga (18%). Layanan terkait olahraga juga telah berkembang sejak tahun 2005 dari 8% menjadi 11% omset per tahunnya.

Pertumbuhan ini sebagian disebabkan oleh ajang pertandingan olahraga
internasional yang diselenggarakan di Swiss, seperti Kejuaraan Atletik Eropa pada tahun 2014 atau Kejuaraan Piala Dunia Ski Alpine tahun 2017.

Di tahun 2020 ini, Swiss juga menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga.
Olimpiade Pemuda Musim Dingin 2020 yang telah berlangsung dari tanggal 9-22 Januari 2020 di Lausanne dan di tujuh lokasi lainnya, diharapkan menghasilkan pendapatan tambahan untuk tahun 2020.

Menurut wakil dari pihak Olimpiade, ajang tersebut mengumpulkan sebanyak 1.872 atlet yang berusia antara 15-18 tahun dari 79 negara dan berhasil mendatangkan sebanyak 640.000 penonton.

Berbagai data yang dikeluarkan oleh kantor Olahraga Federal Swiss ini menunjukkan bahwa Swiss sudah mengoptimalkan dengan baik potensi yang dimilikinya dalam sektor dan industri olahraga, serta menganggapnya sebagai sebuah sektor dan industri yang penting, sehingga mampu memberikan kontribusi dalam perekonomian Swiss.

Kebijakan Pemerintah Swiss di Bidang dan Sektor Olahraga Swiss merupakan negara yang menganut sistim pemerintahan federal, sehingga terdapat tiga lapis Pemerintahan yaitu Konfederasi (Pemerintah Pusat), Kanton (Pemerintah Provinsi) dan Municipalities (Pemerintah Kota). Dalam konstitusi Swiss, disebutkan bahwa Konfederasi memikul tanggung jawab utama dalam mengembangkan olahraga, sehingga para Kanton dan Municipalities akan mengikuti kebijakan Pemerintah Pusat.

Pada dasarnya, prinsip kebijakan Pemerintah Swiss di bidang olahraga adalah menciptakan suatu “kerangka dan lingkungan” di mana olahraga dapat berkembang, dengan memperhatikan elemen-elemen utama yaitu kesejahteraan, stabilitas, sistem
pendidikan, kesehatan, keamanan, dan infrastruktur olahraga. Dalam dokumen The Swiss Federal Government’s Concept for a National Sports Policy, konsep kebijakan nasional Swiss di bidang olahraga mencakup berbagai dimensi yaitu sosial, sustainability, dan termasuk ekonomi, dengan prioritas dan tujuan sebagai berikut:

  1. Kesehatan, di mana proporsi masyarakat yang melakukan olahraga fisik harus senantiasa meningkat. Hal ini dilakukan antara lain melalui aktivitas olahraga di
    sekolah dan lembaga pendidikan vokasi, program Youth+Sport yang dilakukan secara terkontrol, struktur, program kegiatan, dan aktivitas olahraga untuk
    masyarakat lanjut umur (Senior-Citizen Sports Concepts), serta proyek-proyek inovatif untuk mendorong olahraga dan kegiatan fisik;

  2. Pendidikan/ Edukasi, dimana pendidikan dan edukasi di bidang olahraga akan senantiasa direview. Hal ini dilakukan melalui peningkatan pembelajaran
    terkait olahraga di sekolah, lembaga pendidikan vokasi, maupun program+ YouthSport dalam rangka meningkatkan kohesi sosial;

  3. Performa, di mana kerangka dan kondisi untuk mempromosikan atlet-atlet muda akan ditingkatkan melalui pengembangan sekolah khusus untuk bidang
    olahraga, lembaga pendidikan vokasi yang diperuntukkan bagi para atlet profesional, serta sosialisasi mengenai pencegahan doping dan illegal lainnya;

  4. Ekonomi, di mana dampak dari olahraga sebagai faktor ekonomi dan peluang bagi pariwisata harus dipahami dan dikembangkan lebih lanjut melalui penyelenggaraan berbagai ajang olahraga internasional; dan

  5. Sustainability, dimana olahraga dapat berperan sebagai “testing ground” dalam isu pembangunan berkelanjutan di masyarakat, karena olahraga memiliki keseimbangan antara dimensi lingkungan, ekonomi, dan sosio-
    kultural. Hal tersebut akan didorong melalui sosialisasi terkait pentingnya isu sustainability dalam olahraga bagi para stakeholders terkait.

Dengan semakin kompleksnya dinamika olahraga moderen, Pemerintah Swiss
menyadari bahwa kerja sama yang erat dan sinergis diperlukan antara Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kota, serta juga melalui jaringan dan konektivitas internasional yang dimiliki oleh Swiss.

Indonesia dan Peran Industri Olahraga

Jika kita amati secara sekilas saja, potensi industri olahraga Indonesia sebetulnya cukup besar. Sebagai contoh, liga sepak bola di Indonesia jauh lebih ramai penontonnya jika kita bandingkan dengan liga sepak bola Swiss, dan supporter sepak bola di tanah air jauh lebih “fanatik” dibandingkan supporter Swiss.

Itu baru sepak bola saja, belum menyebutkan berbagai olahraga lainnya yang tidak kalah  banyakpenggemarnya. Setiap kali Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan olahraga nasional maupun internasional, hampir selalu dapat dipastikan bahwa jumlah penonton dan minat masyarakat sangat tinggi. Secara infrastruktur pun, kita
tidak ketinggalan dengan negara-negara lain.

Masyarakat Indonesia juga mulai menyadari pentingnya olahraga. Kita dapat melihat bahwa saat ini semakin banyak orang yang suka jogging atau lari, sehingga sudah banyak event-event lari yang bermunculan. Di tengah era digital ini, olahraga elektronik atau yang lebih dikenal dengan e-sport pun sudah termasuk cabang olahraga yang tidak kalah diminati oleh para milenials Indonesia.

Dengan demikian, jika kita telaah sebenarnya banyak sekali potensi yang bisa dikembangkan dalam industri olahraga nasional sehingga dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Nampaknya, Indonesia harus mulai menyadari bahwa industri olahraga ini dapat memberikan sumbangsih yang tidak kecil terhadap perekonomian nasional. Sejauh ini, belum terdapat data resmi terkait sumbangan sektor olahraga terhadap PDB Indonesia.

Kesadaran untuk melihat bahwa sektor ini dapat berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi nampaknya harus mulai dimunculkan. Apalagi, jika berbicara tentang olahraga, antusiasme masyarakat Indonesia terhadap berbagai jenis olahraga tidak perlu diragukan sehingga potensi industri olahraga ini perlu dipertimbangkan untuk dikembangkan secara lebih lanjut.

Dalam konteks nasional, kita telah berhasil menjadi tuan rumah ajang ASIAN GAMES 2018 yang telah terselenggara dengan baik, dengan prestasi nasional yang tidak kalah membanggakan. Selain itu, kita juga tengah bersiap-siap dalam menjadi tuan rumah ajang Moto GP 2021 di Lombok, dan rencana penyelenggaraan ajang balap Formula E di Jakarta, serta tentunya tuan rumah Piala Dunia Sepak Bola U-20 2021.

Berbagai ajang tersebut kiranya dapat kita jadikan momentum bersama untuk mengembangkan industri olahraga Indonesia, dan melihat potensinya yang besar untuk sumbangsih terhadap ekonomi nasional.

Tidak perlu diragukan lagi bahwa Indonesia sebagai negara besar mampu dan sanggup menjadi tuan rumah yang baik untuk ajang-ajang olahraga yang bersifat regional maupun internasional. Berbagai keberhasilan Indonesia sebagai tuan rumah pun mendorong kita untuk mencalonkan diri sebagai tuan rumah ajang olahraga bergengsi yaitu Olimpiade.

Tahun lalu, kami telah menyerahkan surat Presiden RI kepada Presiden International Olympic Committee (IOC) secara langsung di kota Lausanne, Swiss, yang menyatakan keinginan Indonesia untuk menjadi tuan rumah Olimpiade pada tahun 2032.

Selama ini, mindset kita di bidang olahraga adalah untuk meningkatkan prestasi para atlet nasional agar tidak kalah saing dengan negara-negara lain, tanpa melihat olahraga sebagai sebuah “industri” yang menjanjikan.

Mengingat olahraga seringkali dapat menjadi “sarana” pemersatu bangsa, maka sinkronisasi program antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam pengembangan industri olahraga kiranya perlu dilakukan agar ke depannya kita dapat melihat sumbangsih sektor dan industri olahraga yang nyata terhadap perekonomian nasional, serta memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Bern, 13 Februari 2020

(Penulis adalah Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Swiss dan Liechtenstein)

Topic:

  • Dwi Agustiar

Berita Terkini Lainnya