Comscore Tracker

Pesan untuk Anak Indonesia: Teruslah Membaca dan Menulis, Karena Hanya itu yang Kita Punya

Apapun yang kamu pelajari, tulislah!

Artikel ini merupakan hasil karya peserta kompetisi menulis #WorthyStory yang diadakan oleh IDNtimes.com. Kalau kamu ingin artikelmu eksis seperti ini, yuk ikutan kompetisi menulis #WorthyStory sekarang juga. Informasi lebih lengkapnya, kamu bisa cek di sini.


 

Kahlil Gibran mengungkapkan dan menggambarkan kehidupan dengan begitu indah di dalam puisi-puisinya, terutama bagaimana ia memahami keberadaan anak-anak. “They are the sons and daughters of Life's longing for itself... For their souls dwell in the house of tomorrow...

Dua kalimat tersebut merupakan bagian dari puisi yang paling menyentuh bagi saya karena kalimat-kalimat tersebut memberi penegasan sekaligus harapan. Anak-anak, di manapun mereka berada, adalah kehidupan baru dan harapan bagi hari esok.

Pesan untuk Anak Indonesia: Teruslah Membaca dan Menulis, Karena Hanya itu yang Kita PunyaSUmber Gambar: asianjournal.com

Hari ini saya menuliskan ini untuk anak-anak Indonesia, atau mungkin anak dari rahim saya sendiri kelak. Catatan ini bisa saja menjadi tidak berarti, tetapi saya boleh memiliki harapan, mungkin setidaknya ada seorang anak yang akan membaca ini ketika saya tidak lagi di sini dan catatan ini mungkin menjadi berarti baginya.

Bila pesan ini saya tuliskan dalam poin-poin (listicle) yang menyerupai daftar belanjaan, maka tulisan ini tidak akan memiliki jiwa. Maka ijinkan saya menuliskannya seperti ini:

Saya lahir dan dibesarkan di sebuah kota kecil di Kalimantan dari keluarga broken home, namun memiliki ibu yang penuh kasih dan pengorbanan. Ibu saya tidak pernah bersekolah sepanjang umurnya. Suatu hari saya didaftarkan untuk sekolah dasar setelah saya merengek kepada ibu saya agar mengantar saya ke sekolah.

Pesan untuk Anak Indonesia: Teruslah Membaca dan Menulis, Karena Hanya itu yang Kita PunyaSumber gambar: archive.kawankumagz.com

Umur saya belum mencapai usia sekolah. Kepala sekolah menyatakan bahwa saya tidak diterima masuk sekolah dasar karena usia saya belum memenuhi persyaratan. Pihak sekolah khawatir bila kelak saya akan menyusahkan mereka untuk hal-hal remeh-temeh seperti buang air dan merengek minta pulang ke rumah seperti kebanyakan anak lainnya.

Hari itu saya hanya ingin sekolah. Mungkin itu adalah keinginan besar pertama saya. Ibu saya meyakinkan kepala sekolah agar saya bisa diterima belajar di sekolah dasar tersebut.

Akhirnya, kepala sekolah memberikan waktu percobaan tiga bulan kepada saya, bila dalam waktu tiga bulan ternyata saya menyusahkan mereka maka saya harus menunggu tahun depan untuk sekolah. Hari itu saya dan ibu pulang ke rumah dengan puas dan ibu berpesan agar saya menjadi anak yang pintar.

Saya tahu bahwa tidak mudah bagi ibu saya untuk membiayai kebutuhan kami. Ia bukan perempuan berpendidikan yang bisa bekerja di kantoran dengan gaji yang layak. Ia perempuan kampung, seorang janda, yang selain harus banting tulang di ladang dan kadang berjualan kayu api, juga kerap menerima stigma buruk masyarakat.

Pesan untuk Anak Indonesia: Teruslah Membaca dan Menulis, Karena Hanya itu yang Kita PunyaSumber Gambar: ayomengajarindonesia.blogspot.co.id

Saya memang masih kecil saat itu, tetapi apa yang kami sudah alami membuat saya tidak ingin mengecewakannya. Saya belajar dengan sungguh. Saya kadang menangis sampai keluar ingus bila mengerjakan pekerjaan rumah yang sulit.

Tidak ada les tambahan karena ibu saya tidak mampu membayar pengajar. Saya harus menggunakan otak saya sendiri walau dengan air mata membasahi lembar buku saya.

Saya tidak bisa mengharapkan siapapun untuk membantu saya menyelesaikan pekerjaan rumah atau tugas kerajinan tangan, toh.. ibu saya tidak pernah bersekolah. Namun suatu hari, beliau datang membawa buku-buku dan majalah anak-anak, dan pada bulan-bulan selanjutnya akan ada majalah baru buat saya.

Katanya, dia tidak bisa mengajari saya, buku dan majalah itu mungkin bisa membantu. Ia juga sering menggunakan kalimat “Buku adalah jendela dunia”. Memang benar, ibu hanya membantu saya menghafal alfabet dan berhitung (penjumlahan dan pengurangan), dan ibu akan kebingungan menghadapi soal perkalian dan pembagian.

Ia mengajari saya mengenal angka dan huruf serta mengajari saya membaca, sisanya adalah urusan saya. Saya yang harus belajar, termasuk dari buku-buku yang ia belikan buat saya.

Pesan untuk Anak Indonesia: Teruslah Membaca dan Menulis, Karena Hanya itu yang Kita PunyaSumber Gambar: dokumen pribadi

Bertahun-tahun setelah itu, saya tidak hanya membaca tapi juga menulis. Saya selalu menjadi juara kelas dan bisa meraih gelar sarjana, dan yang paling membahagiakan adalah ketika melihat ibu saya tersenyum setiap kali saya mendapatkan semua itu.

Ia berdiri dan tersenyum, sering kali dengan pakaian lusuh yang digunakan untuk bekerja dan tanah yang masih melekat di kaki dan tangannya.

Bila suatu hari kamu membaca tulisan dan menemukan pesan pada bagian akhir catatan ini, kamu mungkiin berpikir bahwa ini adalah pesan yang klise. Tapi saya hanya ingin bilang, bila kamu memiliki kesempatan untuk belajar, teruslah belajar! Belajarlah hal-hal baik yang akan membawamu lebih mengenal kehidupan.

Pesan untuk Anak Indonesia: Teruslah Membaca dan Menulis, Karena Hanya itu yang Kita PunyaSumber Gambar: dokumen pribadi

Ada masa di mana kita tidak bisa bergantung dan berharap pada siapapun termasuk orang tua kita. Kita adalah individu yang bertanggung jawab terhadap hidup masing-masing. Dan pada saat itu, kamu bisa menemukan bantuan dengan membuka kembali kotak-kotak pelajaran di kepalamu. Apa-apa yang kamu pelajari, tulislah!

Hanya itu yang kita miliki dan akan mengabadikan kehidupan yang kita telah lalui. Tulisan hari ini mungkin tidak bermanfaat bagi orang lain, kelak tulisan tersebut akan menemukan rumahnya yaitu orang-orang yang mau membacanya dan menyimpannya sebagai pengalaman hidup.

Dan bila kamu tidak tahu ke mana harus kembali setelah perjalanan sulit yang melelahkan, pulanglah kepada orang-orang yang menyayangimu. Ibuku selalu menjadi tempat untukku pulang dan mawas diri.

Jakarta, 2016

 

#WorthyStory

Pesan untuk Anak Indonesia: Teruslah Membaca dan Menulis, Karena Hanya itu yang Kita PunyaSumber gambar: idntimes.com

Topic:

Berita Terkini Lainnya