Comscore Tracker

[OPINI] Salahkan Jika Saya Wanita Islam yang Tidak Mau Dipoligami?

Salahkah jika saya ingin menjadi satu-satunya?

Saya wanita, beragama Islam, sembilan belas tahun. Saya tidak menulis ini berdasarkan penelitian ilmiah atau hal ilmiah lainnya, hanya murni ingin mencurahkan berbagai keluh-kesah yang sangat sering saya sampaikan, tentang poligami.

Dalam ajaran agama saya, pria boleh memiliki empat istri. Hal tersebut sering kali membuat saya berpikir, apakah saya sebagai wanita harus menerima hal tersebut? Apakah berdosa jika saya menjadi wanita yang tidak mau dipoligami? Apakah boleh jika saya ingin memiliki suami yang hanya memiliki satu istri, yaitu saya? Salahkah jika saya mengharapkan kesetiaan dalam hubungan pernikahan?

Saya tidak menentang ajaran saya. Saya menghargai dan mempercayai ajaran saya. Saya pun tetap menghargai mereka yang menerapkan poligami dalam kehidupan berkeluarga. Tapi apakah hina jika saya tidak sependapat dengan mereka?

Sejak dulu, saya selalu berimajinasi tentang berbagai kisah cinta. Satu hal yang sangat saya harapkan adalah kesetiaan. Saya ingin mempunyai pasangan hidup yang setia, yang tidak memiliki istri lebih dari satu.

Saya sering membicarakan ini bersama berbagai kalangan orang, baik yang seusia, yang lebih tua, maupun yang lebih muda. Saya biasa membaginya menjadi pendapat pro dan kontra. Baik ketika membicarakan dengan pria atau wanita, tetap ada pro dan kontra.

Saya pernah bertanya dan berdiskusi hal ini pada beberapa pria yang ilmu agamanya saya nilai cukup baik. Mereka mendukung poligami. Bagi mereka, orang Islam yang menentang poligami, atau yang tidak mau dipoligami seperti saya, dianggap tidak menghargai syariat Islam. Saat saya tanya ke mereka, apakah hendak berpoligami kelak, sebagian menjawab iya dengan tegas.

Semua pendapat egois (jika ini pantas disebut egois) saya yang menentang poligami pun mendapat kecaman dari mereka. Baiklah, saya terima. Memang bukan wanita seperti saya juga yang kelak akan mereka nikahi.

Pernah pula, berbincang dengan beberapa pria yang saya anggap memiliki ilmu agama cukup baik juga, tapi dia tidak menghakimi saya. Dia menganggap poligami memang diperbolehkan, memang sah sesuai ajaran Islam. Namun, mereka menghargai wanita yang tidak ingin dipoligami. Mereka menganggap saya pun punya hak untuk menolak hal tersebut, Mereka menegaskan bahwa saya bukanlah wanita Islam yang hina jika tak ingin dipoligami.

Ada pula, pria yang meskipun menghargai ajaran Islam, dia tidak suka dengan konsep poligami. Tanpa menghakimi ajaran Islam, dia berkata bahwa secara pribadi dia tak setuju. Dia pun ingin menjadi pria yang setia pada satu istri. Sehingga dia sangat menghargai prinsip saya yang tidak ingin dipoligami.

Selanjutnya, mari kita bahas pendapat beberapa wanita beragama Islam yang berbincang hal ini dengan saya. Sama seperti pria, wanita yang saya ajak diskusi pun pro kontra dengan prinsip poligami.

Beberapa wanita yang pro, menganggap bahwa hal tersebut memang tidak masalah, memang ajaran Islam yang harus dijunjung tinggi. Mereka, terima jika kelak dipoligami. Saya menghargai kesanggupan mereka. Sangat menghargai, bahkan sangat salut pada mereka. Sebuah keikhlasan yang bagi saya sangat luar biasa. Saya tidak sanggup.

Sedangkan yang kontra, cukup emosional ketika berdiskusi tentang hal ini. Bagi mereka, mereka pun punya hak untuk mendapat kesetiaan dalam kehidupan rumah tangga. Sebagian dari mereka, bahkan lebih frontal menentang poligami dibanding saya.

Setelah sekian banyak diskusi selama beberapa tahun terakhir, prinsip saya untuk tidak ingin dipoligami tetaplah sama. Seiring bertambahnya usia, saya semakin sering berpikir tentang pernikahan. Usia yang semakin tua membuat saya mau tak mau harus memikirkan masa depan, termasuk tentang rumah tangga saya kelak.

Mengapa saya tidak ingin dipoligami? Sederhananya (atau mungkin... egoisnya), saya tidak mau berbagi kasih sayang. Saya tidak ikhlas harus membagi cinta dengan wanita lain. Saya ingin menjadi satu-satunya istri, tanpa toleransi dengan alasan apapun.

Saya akui, saya tidak sekuat dan sebijak wanita lain di luar sana. Saya egois soal cinta. Saya tidak ingin berbagi.

Alasan selanjutnya yakni tentang anak saya kelak. Jika saya setuju suami saya menikah lagi, atau jika saya setuju menjadi istri kedua/ketiga/keempat, apakah kelak anak saya juga sependapat? Apakah anak saya dapat menerima semua itu? Ataukah dia akan sakit hati dengan semua keadaan orang tuanya?

Saya harus menjaga perasaan anak saya. Saya merasa anak saya punya hak untuk itu, untuk dijaga perasaannya. Apa yang kelak anak saya pikirkan dan rasakan, harus saya pertimbangkan. Jika bisa saya prediksi, mengapa tidak? Saya tipe orang yang merasa harus memprediksi berbagai kemungkinan terburuk.

Dalam rumah tangga, bagi saya bukan hanya harus berpikir tentang ego istri dan suami. Kelak akan ada anak-anak mereka. Anak-anak kadang lebih sensitif dari orang dewasa. Mereka mungkin akan bertanya macam-macam jika terlahir di keluarga yang berpoligami.

Saya yakin bahwa saya tidak sendiri. Saya yakin banyak wanita beragama Islam yang sependapat dengan saya, tidak mau dipoligami. Sejujurnya saya sangat berharap, pria pun bisa menghargai pandangan saya.

Teruntuk para pria, jika memang berniat poligami, carilah calon istri yang memang sejak awal bisa menerima pandangan tersebut. Tolong bicarakan sejak awal, sejak sebelum menyentuh pernikahan. Tolong hargai calon istri kalian, jaga perasaan mereka. Memang, poligami sah menurut Islam, tapi sebagai pria ada baiknya kalian juga mempelajari bagaimana perasaan wanita berjalan.

Teruntuk kalian yang sudah yakin untuk menerapkan poligami, tolong pikirkan juga masa depan kalian, terutama perasaan anak-anak kalian nantinya. Lalu, bijaknya kalian pun harus terima jika kelak anak laki-laki kalian melakukan poligami. Serta terima jika anak perempuan kalian dipoligami, entah menjadi istri pertama, kedua, ketiga, atau keempat.

Di usia sembilan belas tahun ini, saya menegaskan lagi pada diri saya. Saya tidak mau dipoligami. Saya akan secara gamblang mengatakan hal tersebut pada calon suami saya kelak. Jika dia tidak bisa menerima saya, maka jangan dulu bicara soal pernikahan, kami harus menyatukan pandangan terlebih dahulu.

Ini pandangan saya sejauh ini. Besok atau tahun depan, mungkin bisa berubah. Jika semakin mendapat banyak pandangan, mungkin pandangan saya akan berubah. Tahun depan, saat menginjak usia kepala dua, mungkin saya bisa semakin dewasa untuk menerima poligami. Entahlah, yang jelas saat ini saya berdiri sebagai wanita yang tidak mau dipoligami.

Baca Juga: Poligami atau Monogami, Manakah yang Lebih Memuaskan?

Nursyifa Afati Muftizasari Photo Community Writer Nursyifa Afati Muftizasari

Lulusan SMA Negeri 1 Karanganyar, Solo. Berkuliah di Universitas Padjadjaran, Sumedang. Ikuti saya di Instagram @afa_mufti

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Siantita Novaya

Just For You