Comscore Tracker

Tunas Bangsa Butuh Perhatian, 11 Hal Berikut Perlu Diperbaiki

#DearFutureIndonesia waspada lelah mental dan fisik pelajar

Negara yang maju adalah negara yang mengedepankan pendidikan. Setidaknya itulah yang dipercaya pemimpin Jepang ketika kota Hiroshima dan Nagasaki mengalami serangan bom atom pada Agustus 1945, pertama kali yang diperbaharui adalah pendidikan dan kesehatan. Hasilnya, Jepang saat ini menjadi salah satu negara paling maju di dunia terkhusus dalam bidang ekonomi dan teknologi.

Indonesia yang saat ini mengalokasikan 20 persen APBN untuk bidang pendidikan masih berjuang menciptakan sistem pendidikan yang efektif dan produktif. Dan sistem pendidikan tidak hanya mengenai kegiatan belajar mengajar.

Ada tanggung jawab moral juga yang harus diperhatikan. Jangan sampai psikologi anak terbentuk tidak pada waktunya bahkan rusak hanya karena tuntutan untuk memperoleh nilai tinggi di sekolah. Aspek lainnya juga perlu diperhatikan, walaupun terlihat seperti tidak berkaitan. Dan berikut hal-hal kecil yang patut mendapat perhatian pemerintah.

1. Kembalikan TK menjadi taman kanak-kanak lagi

Tunas Bangsa Butuh Perhatian, 11 Hal Berikut Perlu DiperbaikiUnsplash.com/Robbie36

TK adalah tempat bagi anak usia dini mulai mengenal kehidupan bersosialisasi yang baik. Bagaimana si anak mendapat pendampingan dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan seumurannya, yang pada umumnya menghabiskan waktu untuk bermain bersama.

Namun saat ini, banyak yayasan TK menambahkan materi-materi pelajaran sekolah, alasannya agar si anak tidak kaget ketika memasuki dunia sekolah. Sangat disayangkan ketika usia yang seharusnya menikmati dunia bermain dan berteman, harus dijejalkan dengan rutinitas sekolahan. Jangan renggut masa kanak-kanak mereka.

2. Pelajar bukan karyawan, jangan bebankan segudang PR setiap hari

Tunas Bangsa Butuh Perhatian, 11 Hal Berikut Perlu DiperbaikiUnsplash.com/Ben White

Memberikan pekerjaan rumah bagi para murid tentu baik, agar mereka bisa kembali mempelajari materi sebelumnya di sekolah, dan melatih diri untuk mencari solusi penyelesaian. Bukan berarti, setiap hari para murid harus diberikan PR untuk setiap pelajaran.

Fokus mereka sudah terkuras lebih kurang 9 jam di sekolah, dan sesampainya di rumah mereka harus pula mengerjakan PR yang tidak sedikit. Lelah fisik dan mental tentu menggerogoti para murid, apalagi kegiatan ini hampir setiap hari berlangsung.

Guru sebaiknya saling berkoordinasi, agar PR yang dibebankan kepada murid tidak menumpuk, karena murid tidak hanya belajar 1 mata pelajaran, dan kehidupan mereka tidak hanya mengenai sekolah. Memberikan 2 PR setiap hari dengan mata pelajaran yang bergantian sudah cukup bagi para murid. Mereka bukan karyawan kantor yang selalu dikejar deadline.

3. Jadwal mata pelajaran seharusnya sesuai kapasitas pelajar, bukan menyesuaikan jadwal pengajar

Tunas Bangsa Butuh Perhatian, 11 Hal Berikut Perlu DiperbaikiUnsplash.com/Husniatisalma

Ada banyak mata pelajaran yang diajarkan kepada para siswa. Mulai dari matematika, Ilmu pengetahuan alam, Ilmu pengetahuan sosial, Bahasa, Olahraga, Agama, dan lainnya. Jadwal pelajaran ini dibuat oleh pihak sekolah, namun seringnya hanya menyesuaikan dengan jumlah dan waktu pengajar.

Ada banyak kasus akan jadwal yang tidak efektif, contohnya jadwal anak SMA, tidak jarang ditemukan pelajaran eksak seperti fisika, kimia dan biologi yang dijadwalkan di hari yang sama. Ada pula pelajaran matematika yang dimulai pada siang hari, yang membuat para siswa jenuh berpikir.

Selain itu, ditemukan pula jadwal pelajaran yang benturan dengan waktu istirahat, sehingga jam istirahat mereka berkurang. Lebih baik jam pelajaran disesuikan dengan kapasitas murid sehingga kelas tetap produktif.

Baca Juga: 7 Startup Inovatif Ini Siap untuk Memajukan Pendidikan Indonesia

4. Pelajaran "Muatan Lokal" jangan sampai tergerus zaman

Tunas Bangsa Butuh Perhatian, 11 Hal Berikut Perlu DiperbaikiUnsplash.com/Ayahya09

Salah satu cara melestarikan kekayaan budaya dan bahasa daerah ialah memasukkan "Muatan Lokal" sebagai mata pelajaran wajib. Sangat disayangkan ketika beberapa sekolah mulai meniadakan pelajaran "Muatan Lokal", sibuk mempelajari bahasa asing.

Pemerintah dapat mewajibkan "Muatan Lokal" ada di setiap sekolah, negeri maupun swasta, setidaknya mulai berlaku kelas 4 SD sampai kelas 10 SMA/sederajat. Jangan sampai bahasa daerah sendiri tidak dimengerti generasi muda.

5. Alangkah bijaknya jika tayangan televisi berpihak pada pelajar

Tunas Bangsa Butuh Perhatian, 11 Hal Berikut Perlu DiperbaikiPexels.com/Vidalbalielojrfotografia

Sudah menjadi kekesalan bersama bahwa kebanyakan tayangan televisi tidak mendidik, seperti serial drama, "reality show", acara gosip ataupun lainnya. Mempertontonkan dunia remaja yang tidak seharusnya, perkelahian pasangan kekasih yang sengaja diumbar, masalah pribadi para selebriti yang tak berhenti diekspos.

Sebagai media informasi dan hiburan, pertelevisian Indonesia seharusnya bijak dalam menayangkan suatu acara. Pasalnya, tidak sedikit para penonton, khususnya pelajar, yang meniru adegan tidak pantas dari suatu tayangan, beranggapan hal itu wajar dilakukan karena di televisi berulangkali dipertontonkan.

6. Penyetaraan pengajar dan materi didik

Tunas Bangsa Butuh Perhatian, 11 Hal Berikut Perlu DiperbaikiUnsplash.com/Yakimadesign

Ternyata bukan cuma kesenjangan ekonomi yang melanda Indonesia, tetapi juga kesenjangan pendidikan. Sekolah-sekolah di wilayah terpencil memiliki para pengajar yang tidak semuanya berkompeten di bidangnya. Terkadang sekolah di pelosok materinya jauh berbeda dibandingkan dengan sekolah di perkotaan, hasilnya dapat dilihat dari nilai Ujian Nasional yang kontras.

Pemerintah seharusnya mengirimkan pengajar-pengajar profesional ke setiap daerah secara merata. Memastikan keseragaman materi didik setiap pengajar di setiap sekolah karena mendapat pendidikan yang layak dan sama adalah hak setiap warga negara Indonesia.

7. Variasi cara mengajar dari berbagai sekolah terakreditasi A

Tunas Bangsa Butuh Perhatian, 11 Hal Berikut Perlu DiperbaikiUnsplash.com/Thutra0803

Sekolah yang terakreditasi A biasanya memiliki guru-guru yang ahli dalam mengajar di bidang mereka. Alangkah baiknya jika keahlian mereka juga bisa dicontoh oleh guru lain dari sekolah yang belum terakreditasi A. Para guru dari sekolah akreditasi A dapat membuat video bagaimana dia mengajarkan suatu materi sehingga murid mudah mengerti.

Selanjutnya pemerintah mengumpulkan video mengajar dari para guru tersebut, mengurutkannya berdasarkan materi dan mata pelajaran, mengunggahnya ke suatu website dan memberi akses kepada guru maupun murid di seluruh Indonesia untuk menontonnya.

Tentu cara ini sangat efektif dan praktis, apalagi kamu yang mengakses tidak perlu takut kehabisan paket data, karena ada #Super4GKuota dari Smartfren yang mengerti kebutuhan internet masyarakat Indonesia. Ada paket internet mulai Rp30 ribu per bulan bagi yang senang internetan melalui smartphone, dan pihak sekolah pun bisa memilih paketan Wi-Fi agar para guru tetap bisa menonton video mengajar tersebut di sekolah maupun ruang kelas. Jangan sampai paketan internet menghambatmu untuk #KuotakanSuaramu #KuotakanMaumu untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik.

8. Pertukaran pengajar antar sekolah di kabupaten

Tunas Bangsa Butuh Perhatian, 11 Hal Berikut Perlu DiperbaikiUnsplash.com/Neonbrand

Melakukan pertukaran pengajar akan menambah pengalaman mengajar para guru, dan harapannya mereka dapat lebih baik lagi mengajar siswa di kelasnya. Selain itu, siswa juga diuntungkan karena pemahaman materi yang lebih variatif dan suasana kelas yang berbeda sehingga mengurangi tingkat kebosanan siswa akan pelajaran maupun guru mereka. Pertukaran pengajar ini cukup diadakan sekali pertemuan setiap tahunnya.

9. Kendaraan operasional buat antar jemput pelajar

Tunas Bangsa Butuh Perhatian, 11 Hal Berikut Perlu DiperbaikiUnsplash.com/Austin_pacheco

Denpasar menjadi salah satu kota yang sudah menerapkan konsep ini. Ada banyak keuntungan apabila sekolah menerapkan antar jemput para siswanya. Mereka akan belajar disiplin, tepat waktu dan bertanggung jawab karena mereka harus bersiap-siap menunggu kendaraan sekolah.

Selain itu, tidak ada kesenjangan sosial antar siswa karena mereka sama-sama diantar ke sekolah dalam kendaraan yang sama. Hal ini juga dapat mengurangi kemacetan di pagi maupun sore hari, karena jumlah kendaraan yang ada di jalanan berkurang.

10. Razia rutin dan pemberlakuan jam penggunaan smartphone

Tunas Bangsa Butuh Perhatian, 11 Hal Berikut Perlu DiperbaikiUnsplash.com/Jaelynnalexis

Smartphone seakan tidak bisa terlepas dari genggaman, termasuk bagi pelajar. Takut ketinggalan "informasi" menjadikan pelajar tidak pernah jauh dari smartphone mereka, termasuk saat kegiatan belajar mengajar di kelas, dan hal ini akan mengalihkan konsentrasi belajar mereka.

Melakukan razia setiap hari dan pemberlakuan jam penggunaan smartphone dapat menjadi pilihan pihak sekolah. Guru juga dapat memanfaatkan razia tersebut untuk mengantisipasi para pelajar membawa benda-benda berbahaya atau yang tidak seharusnya, karena akhir-akhir ini marak terjadi tauran antar pelajar.

11. Sanksi tegas yang tertulis

Tunas Bangsa Butuh Perhatian, 11 Hal Berikut Perlu Diperbaikiukrlawcouncil

Otoritas guru sebagai seorang pengajar seakan abu-abu jika sudah dihadapkan dalam pendisiplinan muridnya. Banyak kasus di mana murid tidak lagi menghargai gurunya, melakukan tindakan tercela di depan guru, bahkan melawannya. Kalaupun ada guru yang berniat "mendisiplinkan" anak didiknya, guru tersebut akan dituntut orang tua murid karena telah melakukan "kekerasan".

Perlu adanya aturan tertulis yang jelas dan tegas mengenai pemberian sangsi maupun pendisiplinan murid. Apa saja yang boleh dan tidak boleh, dan bagaimana prosedurnya, agar guru juga tidak ragu bertindak mendisiplinkan anak didiknya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan berbanding lurus dengan pembangunan suatu negara. Perlakuan pemerintah setiap negara terhadap sistem pendidikan mereka mungkin berbeda-beda. Namun yang pasti memiliki tujuan yang sama, agar tunas-tunas muda dapat membawa negaranya lebih maju dan sejahtera. Mari bersama kita majukan pendidikan Indonesia dengan melakukan bagian kita masing-masing.

Baca Juga: Tuangkan Harapanmu untuk Indonesia dan Menangkan Macbook Air!

Taoto Photo Community Writer Taoto

Mulai saja dulu, nanti pasti terbiasa

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You