Comscore Tracker

Setahun Pandemik, dari Pasar Minggu hingga Kuningan

#SatuTahunPandemik COVID-19

Pasar Minggu, selamanya, akan jadi tempat spesial buat saya. Di sana, saya pertama kali merasakan bagaimana lika-liku bekerja di Jakarta. Namun, hidup memang harus terus berjalan.

Di Pasar Minggu, saya melalui banyak hal. Mulai dari menabrak kucing, ditabrak orang, sakit, bahkan tersesat. Di situ juga, saya menemukan warung kopi dan warung makan yang begitu menyenangkan.

Segala hal pertama yang saya rasakan tentang Jakarta, semua tertumpahkan di Pasar Minggu. Lekuk jalannya, ramai suasananya, hingga celoteh orang-orang yang kerap bercanda gurau di sudut-sudut gang mengingatkan saya akan Cicaheum, kampung halaman saya di Bandung.

Di sana juga, saya mengenal arti memahami secara paripurna. Saya sadar bahwa dalam hidup, setiap orang punya perjuangannya masing-masing dan kita harus menghargai itu. Semesta tidak cuma tentang kita seorang.

Tak terasa, sudah 2,5 tahun lebih saya berkutat di Pasar Minggu. Namun, hidup sejatinya memang harus terus bergerak. Pandemik COVID-19 yang mulai melanda sejak Maret 2020, membuat hubungan saya dengan Pasar Minggu menjadi renggang.

***

Pandemik COVID-19 ini, kalau boleh saya ibaratkan, seperti seorang ibu yang tengah menjewer anaknya yang nakal. Saat sang anak tidak mau pulang ke rumah meski petang datang, sang ibu akan menghampiri sang anak dan akan membawa sang anak pulang ke rumah meski ia masih ingin bermain.

Dulu, sebelum pandemik datang, hidup terasa cair. Berdiskusi sambil menyeruput kopi di pinggir jalan, dibarengi dengan mengisap satu atau dua batang tembakau, adalah hal yang lumrah. Berceloteh ria bersama kawan di rumah makan jadi sesuatu yang begitu dinanti.

Namun, semua berubah saat pandemik datang. Pertemuan di warung kopi tergantikan oleh Zoom. Tatap muka sambil berceloteh di warung makan jadi sesuatu yang dilarang. Bersalaman, memberikan kasih sayang lewat pelukan, jadi hal yang musykil dilakukan.

Awalnya saya merasa pandemik COVID-19 cuma akan berpengaruh di situ saja. Pikir saya, ah, toh saya yang memang kadang rada individualis ini tidak terlalu berat melakukan hal yang demikian. Asal saya masih boleh memeluk istri saya sepulang kerja, itu tidak masalah.

Sialnya, dampaknya lebih dari itu. Hubungan saya dengan Pasar Minggu makin lama makin longgar. Tidak ada lagi kehangatan warung makan Tegal di Pejaten. Tidak terjadi lagi diskusi ringan dibarengi segelas kopi di warkop milik Mang Iik, orang asli Cibeureum, Sumedang.

Puncaknya, sebuah surat tak terduga datang pada 21 Juni 2020. Surat itu menegaskan bahwa hubungan saya dengan Pasar Minggu memang sudah tidak bisa berlanjut lagi. Tanggal 25 Juni 2020, hubungan saya dengan Pasar Minggu resmi putus.

Saya memang tidak menangis. Jujur, saya malah sempat tertawa ketika hubungan saya dengan Pasar Minggu mesti berakhir. Namun, hati saya tersayat. Saya ingat bahwa dari hubungan ini, saya bisa menghidupi diri sendiri dan istri.

Alhasil, kelimpungan melanda. Saya coba membuat eskapisme untuk diri saya sendiri dengan membuat band bernama The Quarantine bersama teman-teman. Saya juga coba membuat beberapa proyek sampingan. Namun, kenangan itu kadung melekat. Pasar Minggu memang masih memikat.

Hati saya, nyatanya sudah tertambat di sana. Namun, hidup memang harus terus berjalan.

***

Seorang teman menghubungi saya sekira Oktober 2020. Ilyas Listianto Mujib namanya. Ia menawari saya sebuah hubungan baru. Kali ini, dengan wilayah yang lebih elite dari Pasar Minggu: Kuningan.

"Bro, geus coba asupan weh kadieu. Bae ieu mah itung-itung meh maneh teu nganggur we (Bro, coba masukin aja ke sini (Kuningan). Biarin, ini ya hitung-hitung biar kamu tidak menganggur)," ucapnya saat menghubungi saya lewat Whatsapp.

Saya berpikir dan tertegun. Pasar Minggu memang memikat dan akan selalu punya tempat spesial di hati saya. Namun, ya, hidup memang harus terus maju. Saya pun coba menerima tawaran Ilyas, menjalin hubungan dengan Kuningan.

Saya kembali melakukan pendekatan. Berkenalan, saling tanya jawab, mengenal diri masing-masing. Sedikit aneh memang rasanya. Dulu, saya juga melalui proses macam ini saat berkenalan dengan Pasar Minggu. Namun, sekarang rasanya berbeda.

Tetapi, demi hidup yang harus berlanjut, saya tetap melakukan pendekatan ini. Alhasil, setelah melalui beberapa proses pendekatan, saya resmi menjadi bagian dari Kuningan. Tidak terlalu terkejut, karena saya sudah yakin bakal menjalin hubungan dengan Kuningan ini.

Kuningan pun menyambut saya dengan tangan terbuka. Sebuah selamatan kecil digelar di tengah pandemik, diiringi sambutan-sambutan lewat gawai dari anggota keluarga di sana. Singkat cerita, hubungan saya dan Kuningan mulai berjalan.

***

Saat saya liputan di Kudus, sekira akhir 2019, saya menyadari bahwa dalam hidup, perjuangan adalah sebuah keniscayaan. Melihat anak-anak yang mencoba mengejar mimpi, menyadarkan saya bahwa kutipan dari teman saya memang ada benarnya.

"Struggling terus nepi ka paeh! (Terus berjuang sampai kita mati!)"

Kutipan ini selaras dengan apa yang dilantunkan Dewa dalam lagu mereka, Hidup adalah Perjuangan. Kegagalan dan kemenangan hari ini, bukan berarti kegagalan dan kemenangan esok hari. Tidak ada yang jatuh dari langit dengan cuma-cuma, harus disertai usaha dan doa. Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti.

Hubungan saya dengan Pasar Minggu tuntas. Kenangan tetap tertambat, karena bagaimana pun, waktu 2,5 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Namun, saat hubungan itu selesai, apalagi selesai karena sebuah keterpaksaan, itu mungkin pertanda dari Ilahi bahwa hubungan itu memang sudah harus selesai.

Kini, hubungan baru saya dengan Kuningan sudah terjalin selama tiga bulan. Entah apalagi yang akan menanti saya di depan nanti. Tetapi yang pasti, di dalamnya kelak akan ada kadar kesedihan dan kesenangan yang berkelindan jadi sebuah kenangan.

Ah, nya kitu we hirup, mah!

#SatuTahunPandemik adalah refleksi dari personel IDN Times soal satu tahun virus corona menghantam kehidupan di Indonesia. Baca semua opini mereka di sini.

Baca Juga: Memulai Pandemik di Negeri Ratu Elizabeth dan Trauma yang Dalam

Topic:

  • Umi Kalsum

Berita Terkini Lainnya