Comscore Tracker

[OPINI] Kemiskinan Struktural dan Sesat Pikir yang Mengelilinginya

Ketika rajin–tidak lagi—pangkal kaya 

Orang-orang selama ini sudah nyaman dengan konsep bahwa perbedaan strata sosial itu ditentukan dari seberapa kerasnya seseorang berjuang. Orang malas akan miskin, dan orang rajin akan kaya. Memang hal ini tidak sepenuhnya salah, hanya saja dunia tidak bisa dipandang dari hanya dari dua kacamata ini, hitam dan putih.

Ada banyak variabel dan hal-hal yang mempengaruhi segala sesuatu. Hidup itu sendiri kompleks dan tidak mudah dipahami, begitu juga manusia, lalu kenapa kita bisa begitu mudah menjustifikasi?

Tidak cukup rajin

Coba tengok penjual nasi uduk dan lontong sayur di depan jalan sana, cobalah sesekali sapa pemulung yang rutin memilah botol plastik di tempat sampah depan rumah,  atau simak baik-baik raut wajah si bapak yang mengangkut sampahmu setiap kali datangnya.

Sesekali amati atau boleh juga berbincang dengan manusia-manusia silver yang mangkal  di lampu merah, atau tidak perlu jauh-jauh, beberapa dari kita mungkin hanya perlu menyapa sanak saudara yang boleh jadi tidak memiliki apapun untuk di makan di rumahnya.

Cobalah sesekali kita melepas nyaman—sekaligus adiktif—nya scrolling on social media yang dipenuhi konten-konten flexing uang dan kebahagiaan, dan dengan seksinya selalu menggoda untuk memamerkan segala yang kita punya, bahkan yang tidak sebenar-benarnya kita punya.

Lalu pikirkan ini sekali saja,  apakah orang-orang yang disebut ‘miskin’ benar-benar pantas untuk diberi predikat malas atau bodoh, setelah siang malam mereka setiap harinya dihabiskan untuk bekerja? Bahkan jika kita sendiri termasuk di dalamnya, apakah kita benar-benar berpikir bahwa kesulitan yang kita alami karena kita tidak cukup rajin?

Kerja keras melewati ambang batas

Tidak peduli betapa kerasnya kita bekerja, jika kita belum kaya untuk bisa flexing di sosial media, maka tanpa disadari kita telah melabeli diri sebagai orang yang belum ‘cukup’.

Entah itu belum cukup rajin, belum cukup pintar, atau belum cukup keras dalam bekerja dan berusaha. Hingga sampai di satu titik, kita tumbang, fenomena ini biasa disebut dengan istilah burnout.

Karena sudah menjadi semacam prinsip umum, label tersebut juga tidak hanya berlaku pada diri sendiri, setiap orang menjadi terbiasa melabeli satu sama lain berdasarkan pencapaian dan status sosialnya.

Membuat seolah-olah orang yang berada di status sosial tertentu, pantas untuk dihujani berbagai label kebiasaan dan perilaku buruk, seperti malas itu tadi.

Hal itu sedikit banyak berpengaruh buruk karena sebagai manusia biasa, diri kita ini punya limit, punya batas baik secara mental maupun fisik. Maka dengan lestarinya anggapan seperti itu, banyak sekali contoh nasib yang terabaikan bahkan terhakimi karena kemiskinannya.

Dimana orang-orang begitu rajin dalam bekerja, dengan waktu dan energi yang bahkan tercurahkan secara tidak wajar, namun tetap saja berada dalam situasi kemiskinan, kelaparan, bahkan ada yang berujung kematian.

Terdengar seperti warisan kolonial ya? Tapi memang masih banyak yang seperti itu, belum lagi kestabilan emosi yang terganggu hingga berdampak pada KDRT dan perilaku-perilaku tidak terkontrol lainnya.

Kemiskinan struktural

Oleh karena itu kita perlu untuk dikenalkan dengan istilah kemiskinan struktural. Pada dasarnya, kemiskinan struktural adalah sebuah sudut pandang yang melihat bahwa kemiskinan tidak bersifat individual dan disebabkan oleh gap atau kesenjangan sosial.

Kemiskinan struktural tanpa sadar telah menciptakan sebuah lingkaran setan yang kerap menjebak generasi yang lahir di situasi kemiskinan. Sederhananya seperti ini, seseorang yang terlahir dalam situasi kemiskinan, akan dibesarkan dalam situasi itu hingga dewasa hingga kemudian menikah dengan orang yang situasinya sama, dan akhirnya melahirkan dan membesarkan anak dalam kemiskinan juga.

“Ya kenapa begitu? Kan manusia punya pilihan?”

Benar, tapi beberapa pilihan membutuhkan akses modal untuk menjangkaunya. Misalnya pendidikan, anak yang terlahir dalam situasi yang tidak atau kurang sejahtera akan cenderung memilih atau dipilihkan kualitas pendidikannya sesuai dengan kemampuan.

Tentunya akan berbeda dengan anak yang lahir di situasi yang sejahtera. Hal ini sangat berpengaruh dengan pilihan-pilihan yang berikutnya akan di ambil oleh si anak.

Jadi bisa disimpulkan bahwa kemiskinan yang dialami oleh si anak ini tidak ada hubungannya dengan rajin atau tidaknya si anak, maupun pintar atau bodohnya si anak tersebut.

Baca Juga: 5 Hal yang Mungkin Terjadi Bila Tak Ada Kemiskinan di Dunia

Kesadaran

Lalu solusinya gimana? Harus diputusnya lingkaran setan bernama kemiskinan itu, yang tentu membutuhkan kesadaran individual untuk memutus lingkaran ini. Namun kesadaran individual saja tidak cukup. Sebab ada kesenjangan itu tadi sehingga menyebabkan masalah ini menjadi sistemik.

Dilansir dari The Economic Thinking, “Since the problem (poverty) is structural, the solution must be structural as well,” yang artinya, “Sejak masalahnya (kemiskinan) adalah struktural, maka solusinya harus struktural juga.” Maksudnya, kemiskinan yang struktural tidak bisa diputus sendirian. Butuh sistem, butuh kesadaran bersama.

Setidaknya dimulai dari kesadaran bersama untuk menghentikan pikiran-pikiran sempit semacam “Oh orang miskin adalah orang yang bodoh dan malas, maka dari itu mereka pantas mendapatkan nasib seperti itu,”

Sebab kenyataannya sangat jauh dari itu. Status sosial tidak hanya ditentukan dari faktor individual.

Ada banyak variabel yang menentukan itu diantaranya: garis start yang berbeda, akses-akses yang tidak semua orang bisa menjangkaunya, ketimpangan-ketimpangan yang sangat kontras, pembodohan yang tersebar dimana-mana, ada banyak sekali hal yang dipertaruhkan untuk bisa mengubah keadaan.

Serta tanpa kesadaran bersama, itu menjadi lebih sulit bagi orang-orang yang berada di lingkaran setan bernama kemiskinan itu tadi.

Orang kaya adalah orang malas yang berpikir ....

Diluar pembahasan mengenai kemiskinan struktural, moto atau prinsip semacam rajin pangkal kaya memang kurang tepat. Beberapa tahun yang lalu seorang pengusaha muda bernama Bong Chandra, mengatakan di seminar-seminarnya, dan di bukunya yang berjudul Unlimited Wealth bahwa,

“Orang kaya adalah orang malas yang berpikir bagaimana uang bekerja untuk saya.”

Pertama kali mendengar kata-kata itu, cukup banyak membongkar cara pikirku sebelumnya. Di saat yang bersamaan itu sama dengan mematahkan moto rajin pangkal kaya itu tadi. Karena moto tersebut cenderung menuntun kita pada cara pikir “Bagaimana saya bisa terus bekerja untuk uang?”

Bukan berarti rajin itu menjadi buruk, rajin tetap memiliki arti yang sangat baik dan mengandung nilai-nilai seperti ketekunan, kedisiplinan, dan konsistensi. Penafsirannya aja yang selama ini salah, dan cenderung digunakan untuk memperdaya orang-orang yang tidak mempunyai akses modal.

Poinnya adalah tentang siapa yang menjadi tuan disini, uang ataukah diri kita sendiri? Bekerja untuk uang, atau uang bekerja untuk kita?

Begitulah kiranya pembahasan mengenai sebuah prinsip yang dinilai telah usang dan sering disalahtafsirkan.

Kata ‘rajin’, yang mungkin sudah saatnya diganti dengan diksi ‘produktif’, dimana fokusnya bukan lagi pada kuantitas banyaknya waktu dan energi yang dihabiskan, tapi lebih ke seberapa efektif waktu dan energi yang dihabiskan itu.

Baca Juga: 5 Hal yang Mungkin Terjadi Bila Tak Ada Kemiskinan di Dunia

Sarah Husna Photo Writer Sarah Husna

Trying to fill my free time with activities other than eating and binge-watching. Cuap-cuap lain di apagimana.medium.com

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya