Comscore Tracker

[OPINI] Dengan atau Tanpa Gelar, Undangan Tetap Bercerita

Cukup datang dan nikmati pestanya, jangan kebanyakan nyinyir

Menyebut pernikahan, yang terdengar hanya kebahagiaan setelah rasa deg-degan berhari-hari. Bukan hanya calon mempelai atau keluarga yang dihinggapi kecemasan, sahabat, bahkan media sosial juga turut akan berkomentar tanpa dipersilakan terhadap pernikahan, siapapun. Terlebih jika pernikahan melibatkan orang tersohor seperti anak Presiden.

Pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dan Muhammad Bobby Afif Nasution juga tak luput dari spekulasi. Lagi-lagi soal undangan. Lantas bermunculan kubu-kubu yang saling membenarkan diri untuk memenangkan perdebatan apakah pantas atau tidak mencantumkan gelar akademik pada undangan pernikahan? Mungkin kebanyakan makan micin, semua hal selalu menarik diperdebatkan.

Undangan pernikahan Kahiyang dan Boby terbilang sangat sederhana untuk ukuran anak orang nomor satu di Republik. Hanya satu lembar. Undangan bersampul beludru merah marun itu pun hanya berukuran 18 x 26 sentimeter. Terdapat ukiran gunungan berwana emas.

Undangan itu dilapisi plastik mika sebagai pelindung. Di dalamnya terdapat secarik kertas berwarna biru tua untuk pengambilan suvenir. Di kertas tersebut juga terdapat sebuah imbauan. "Dengan tanpa mengurangi rasa hormat mohon maaf kami tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun."

Sementara di bawah ukiran gunungan terdapat nama kedua calon mempelai 'Kahiyang dan Bobby' tanpa embel-embel gelar akademik. Begitu juga ayah dan ibunya. Jika saja tak heboh oleh media sosial, tak ada seorang pun yang bisa menebak bahwa yang punya hajat adalah seorang Presiden.

Urusan kesederhanaan, Presiden Jokowi memang juara. Namun, dengan melihat undangan pernikahan ini, apakah kita lantas bebas nyinyir kepada mereka yang dengan sengaja dan sadar menuliskan gelar akademik dalam undangannya?

Lantas, apakah kita bebas membandingkan bagi mereka yang tak menulis gelar akademik bisa dianggap paling sopan atau yang menulis gelar akademik dalam kartu undangan adalah pribadi yang paling jumawa?

Melihat kartu undangan Kahiyang Ayu, banyak yang memuji kesederhanaan putri Presiden ini. Lantas, sebuah tulisan bertebaran di facebook yang seolah mengampanyekan untuk berhenti menuliskan gelar akademik di surat undangan.

Kalimatnya provokatif sekali,

"Lagipula ya, sekali lagi, ini mau nikah lho bukan ngisi seminar.

Bukankah yang menurut sudut pandang kita baik, belum tentu baik juga untuk sudut pandang seluruh manusia di muka bumi ini? Tidak perlu memaki begitu, teman.

Bayangkan, jika gelar yang diperoleh seseorang mati-matian, beasiswa setengah mati dicairkan, harus kerja siang malam demi menempuh yang namanya strata 2, belum lagi demi ilmu pengetahuan yang rasanya tak pernah benar-benar cukup untuk dimiliki, diamalkan, apakah masih juga nyinyir?

Bagi mereka yang tidak menuliskan gelar akademik di kartu undangan untuk menunjukkan kesederhanaan,  boleh saja. Namun, dengan nyinyir terhadap pemikiran lain, kesederhanaan itu bisa berubah 180 derajat. 

Jalan paling manusiawi adalah menghargai setiap keputusan seseorang. Memakai atau tidak memakai gelar tentu tidak bisa disamaratakan. Cukup hargai apa yang mereka tulis, surat undangan anda akan tampak bermakna, bukan melulu nyinyir.

Menuliskan kata-kata yang dirangkai jadi kalimat dalam setiap undangan pernikahan, pasti dipikirkan secara matang dan hati-hati oleh kedua mempelai. Setiap pertimbangan datang dan disepakati oleh perempuan maupun laki-laki yang mengundang.

Tentunya, mereka juga yang paling tahu dan paling berhak untuk menilai pantas atau tidak sebuah gelar dituliskan dalam undangan. Tugas yang diundang hanya datang dan menikmati pesta. Atau kalau tidak berkenan, jangan datang. Sesederhana itu bukan?

Mempersiapkan pernikahan bukanlah hal yang mudah, teman. Kedua mempelai harus mengorbankan waktu, tenaga, ide yang tidak sedikit. Mereka berburu, mencari, akhirnya menemukan yang tepat.

Patut diapresiasi, meski semuanya tak sesuai dengan keinginan. Percayalah, kedua mempelai telah melakukan dengan sebaik-baiknya, namun yang terfokus pada penglihatan terhadap ketidaksempurnaan.

Menuliskan gelar di undangan bisa jadi membuka pintu rejeki. Misalnya begini, kamu menulis gelarmu sebagai Sarjana Pendidikan. Maka jika tamu yang hadir ada yang membutuhkan pengajar untuk anak-anak mereka, bisa jadi kamulah pilihan yang dijatuhkan.

Mereka yang hadir tidak akan sungkan menghubungi kamu. Nah, begitu pula dengan profesi-profesi yang lain. Semakin kamu dikenal orang, maka semakin mudah pula pintu rejeki terbuka.

Dengan atau tanpa gelar, pernikahan adalah mewujudkan kebahagiaan. Bukan jaminan yang menulis gelar akan jauh lebih bahagia daripada yang tidak menulis. Begitu pula sebaliknya.

 

 

Ni Nyoman Ayu Suciartini Photo Verified Writer Ni Nyoman Ayu Suciartini

I'm a writer

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Faiz Nashrillah

Berita Terkini Lainnya