Comscore Tracker

[OPINI] Lalu, Berlalu Membanggakan

Bahwa berlari bukan berarti menjadi pengecut

Di antara banyak orang yang memilih lari dari kenyataan, ada pelari muda nan cepat yang tengah jadi perbincangan. Ialah pemuda bernama Lalu. Lalu berlalu begitu mengagumkan. Ia telah membuktikan pada dunia bahwa yang tercepatlah yang akan diakui. 

Kaki-kaki Lalu seolah sudah ditempa dengan baik. Kuda-kuda yang kuat seolah ingin menerobos segala keterbatasan dan ketidakmungkinan yang sering menghantuinya. Lalu Muhammad Zohri menjadi perbincangan Indonesia dan dunia ketika berhasil menjadi juara lomba lari 100 meter pada kejuaraan dunia atletik U-20.

Ini merupakan semangat baru bagi atlet Indonesia lainnya untuk menorehkan prestasi di ajang Asian Games yang sudah semakin dekat. Pelari asal Desa Pemenang Barat, Nusa Tenggara Barat, itu menjadi yang tercepat pada lomba lari 100 meter dalam kejuaraan dunia atletik U-20.

Catatan waktu Zohri adalah 10,18 detik (Dengan percepatan angin searah pelari 1,2 meter/detik). Saya sempat menyaksikan momen bersejarah ini berkali-kali. Wah, cepat sekali. Kaki-kakinya bagai kijang. Entahlah, bagaimana Lalu bisa mendapatkan kekuatan ini. Yang saya percayai bahwa kekuatan itu tidak didapat Lalu dengan nyinyir di media sosial sebagai netizen yang maha tahu.

Terpantau dan direkrut pelatnas sebagai pelari pengganti untuk nomor estafet 4x100 meter pada awal 2018, debut Lalu Muhammad Zohri di Kejuaraan Dunia U-20 membuktikan dirinya punya potensi lebih dari perkiraan.

Ia menjadi sosok yang begitu diperbincangkan di tengah riuh piala dunia, riuh penentuan cawapres Jokowi, juga ribut-ribu ganti atau tidak presidennya. Apapun yang tengah terjadi di negara ini, kabar juara dunia dari Lalu adalah angin segar untuk mengingatkan elite bahwa ada pekerjaan besar yang masih membutuhkan konsentrasi, selain berebut kuasa dan penguasa.

Berlaga di nomor 100 meter, Zohri yang baru pertama kali mengikuti ajang Kejuaraan Dunia U-20 ini menempati lintasan lari (Lane) paling luar alias jalur kedelapan pada babak final. Posisi tersebut kerap diasosikan dengan lintasan atlet tak diunggulkan, disebut terakhir seperlunya. Siapa sangka justru sosok ini yang menjadi juara.

Dari lintasan terluar, Zohri mempecundangi favorit juara dari nomor sprint 100 meter ini, Anthony Schwartz dan Eric Harrison dari Amerika Serikat. Catatan waktu Zohri adalah 10,18 detik (Dengan percepatan angin searah pelari 1,2 meter/detik). Lalu menjadi kuda hitam.

Ya. Memang lebih baik menjadi pemenang di antara yang tidak diunggulkan daripada dijagokan ternyata keok di kandang. Lalu berhasil menjadi satu-satunya pelari Indonesia yang menjadi juara dunia.

Mendapat perhatian dunia, kehidupan Lalu juga ikut diperbincangkan. Menjadi sangat istimewa ketika Lalu, yang semula orang biasa, cenderung menjalani kehidupan dalam keterbatasan, hingga bisa tampil membanggakan. Sebab, orang yang sukses itu tidak pernah lahir dari semua kemapanan maupun gelimang harta.

Mereka yang ingin mengubah nasib, berjuang di atas kaki mereka sendiri. Katanya, Lalu pernah meminta dibelikan sepatu agar bisa berlari lebih cepat. Namun, keterbatasan dana membuat sepatu yang diminta itu tak pernah bisa ia dapatkan. Toh, tanpa sepatu terbaik, kaki-kaki Lalu bisa melalui lintasan tanpa cela. Lintasan yang dihitung dalam setiap napasnya. Lintasan yang membuatnya harus bangga menyebut Indonesia.

Lalu tak lantas puas. Ia masih memiliki semangat yang tak kalah luar biasa untuk menorehkan prestasi di ajang Asian Games. Ia juga atlet lainnya yang bertanding harus didukung semaksimal mungkin.

Ada harga pantas yang telah menanti Lalu sepulangnya ke tanah air. Dinding dingin dan rapuh yang menjadi saksi latihan kerasnya bisa jadi berubah dinding kuat dan hangat. Dengan begitu, kenyamanan yang akan diberikan pemerintah pada Lalu tak lantas menjadikannya bermalas-malasan.

Dinding hangat ini harus mampu memacu pori-pori Lalu untuk lebih banyak mengeluarkan keringat dan berjuang untuk mengharumkan Indonesia. Memberikan pengetahuan pada dunia bahwa Indonesia tidak dapat diragukan dalam bidang apapun.

Ini juga spirit bagi anak muda Indonesia bahwa berlari bukan berarti menjadi pengecut. Tetaplah yakin jika kaki-kakimu bisa menjadi kekuatan untuk terus melangkah sesuai impian. Lalu, bagian membanggakan anak muda Indonesia. Mari viralkan. 

Ni Nyoman Ayu Suciartini Photo Community Writer Ni Nyoman Ayu Suciartini

I'm a writer

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Irma Yudistirani

Just For You