Sebelum Bunuh Diri Pertimbangkan Satu Hal Ini Saja!

Pikirkan baik-baik...

Mengapa banyak orang --mulai orang biasa sampai selebriti-- terkenal memilih untuk bunuh diri? Perenungan atas peristiwa memilukan yang terjadi beruntun selama sebulan terakhir ini membuat saya mengingat kembali peristiwa bertahun-tahun yang lalu. Waktu itu saya sedang berada di kantor. Tiba-tiba seorang pemuda datang ingin konseling. Karena tidak ada janji, saya memintanya untuk bikin janji dulu dengan sekretaris kantor. Namun, begitu melihat pergelangan tangannya, saya langsung meminta pemuda ganteng ini masuk.

Pergelangan tangan ahli komputer ini dibalut perban dan masih ada darah merembes dari kasa putih itu. "Gawat ini," ujar saya dalam hati.

Dugaan saya benar. Pemuda berambut gondrong ini baru saja melakukan bunuh diri yang gagal. Saat saya persilakan bicara, dengan mata terus berlinang, dia mengatakan bahwa hidupnya tanpa harapan. Satu demi satu masalah menimpa dirinya.

Dimulai dari kakak sulungnya yang amat dia cintai melarikan diri dari rumah karena tidak diizinkan keluarga untuk menikah dengan orang yang berbeda agama. Berikutnya, dia di-PHK dari kantornya. Saat pacarnya mendengar pengakuannya bahwa dia sekarang jobless, dia memutuskan hubungan yang sudah terjalin bertahun-tahun.

Di tengah kekalutannya, matanya gelap. Dia ambil cutter di meja kerjanya dan menyayat tangannya. Beruntung sekali seorang anggota keluarganya mengetahuinya dan membawanya ke dokter. Nyawanya selamat, tapi semangatnya tidak. Keinginan bunuh diri itu terus-menerus  menghantuinya sehingga dia memutuskan untuk menemui saya.

Karena begitu seriusnya problem bunuh diri, saya memutuskan untuk mengosongkan jadwal saya hari itu. Saya dedikasikan waktu saya khusus untuk membantu menyelamatkannya.

Mula-mula saya biarkan dia untuk curhat sepuasnya. Bagi orang-orang semacam ini, didengarkan saja sudah merupakan penghiburan. Setelah selesai, saya sodorkan selembar kertas. "Coba buat daftar hal-hal menyenangkan apa saja yang Tuhan sediakan bagimu."

Saya tunggui dia menuliskan daftar kebahagiaan itu. Tidak lama kemudian, dia minta kertas baru. Rupanya, selembar kertas tidak cukup untuk menuliskan hal-hal positif yang pernah dia alami.

"Sudah cukup?" tanya saya begitu dia tampak diam.

"Belum," ujarnya. Tidak lama kemudian, dia lanjutkan dengan daftar lain. Dua lembar kertas penuh.

Saya tunggu sampai dia berkata, "Sudah" sambil menyerahkan lembar kertasnya.

"Sekarang isi kertas ini dengan hal-hal buruk yang menimpamu," ujar saya sambil menyodorkan kertas baru.

Dia tidak langsung menulis, tetapi kembali menangis. Saya biarkan dia sampai dia bisa menguasai dirinya. Lalu dengan mata sembab, dia tuliskan daftar hal-hal negatif yang dia terima. Tidak butuh waktu lama dia serahkan lembar kertas itu kembali kepada saya.

"Sekarang lihat, kertas di tangan kiri saya dan di tangan kanan saya," ujar saya. "Mana yang lebih banyak? Pengalaman indah atau menyedihkan?"

"Pengalaman indah," ujar pemuda cerdas ini cepat.

Dia menangkap point saya. Wajahnya yang semula gelap seperti mendung tebal sebelum hujan, kini mulai menampakkan pelangi harapan.

Kemudian saya menambahkan hal-hal positif yang belum sempat dia tulis. "Engkau bukan hanya tampan dan cerdas," ujar saya, "Engkau pun masih sangat muda. Artinya, masa depan cerah menantimu di depan!"

Sebelum berpisah, saya doakan dia sambil terus-menerus menyebutkan kebaikan Tuhan dan rencana-Nya yang indah yang terbentang lebar di depannya.

Belakangan, saya mendengar kabar dia sudah mendapatkan pekerjaan baru yang jauh lebih baik dari pekerjaan lamanya. Dia pun mendapatkan pacar baru yang lebih mengerti dirinya.

Jadi, sebelum memutuskan untuk bunuh diri, pertimbangkan satu hal ini saja: "Masih ada harapan bagi orang yang percaya!"

 

Xavier Quentin Pranata Photo Community Writer Xavier Quentin Pranata

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You