Comscore Tracker

Wah, Ilmuwan Hitung Ada 20 Kuadriliun Semut di Bumi!

Jumlah manusia kalah dengan semut.

Yuk, coba hitung jumlah bintang di langit. Tak terkira banyaknya. Bagaimana dengan jumlah manusia di Bumi? Oh, bisa dipastikan, jumlah penghuni Bumi akan mencapai 8 miliar.

Banyak, 'kan? Meski begitu, ternyata jumlah manusia yang banyak tersebut tak sebanding dengan jumlah semut. Iya, semut! Memang berapa banyak? Setelah dipelajari, inilah jumlah semut di muka Bumi. Jangan kaget, ya!

1. Meneliti hampir 500 studi dari berbagai bahasa, habitat, dan benua

Wah, Ilmuwan Hitung Ada 20 Kuadriliun Semut di Bumi!ilustrasi semut (pexels.com/ Poranimm Athithawatthee)

Dalam studi bertajuk "The abundance, biomass, and distribution of ants on Earth" yang dimuat dalam jurnal PNAS pada 19 September 2022, para peneliti dari Jerman, China, dan Australia ingin mengetahui jumlah serangga, terutama semut. Mengetahui jumlah ini memberikan dasar untuk memantau populasi semut dan perubahan lingkungan.

Perlu diketahui, saat ini ada lebih dari 15.700 spesies dan subspesies semut dan banyak yang belum dinamai. Karena memiliki organisasi sosial yang andal, semut bisa menduduki ekosistem dan kawasan Bumi. Meski begitu, jumlah pasti semut yang berdasar sains masih belum dapat diketahui.

Oleh karena itu, para peneliti Hong Kong melibatkan analisis 489 studi mengenai populasi semut yang dilakukan oleh peneliti semut dari penjuru dunia. Studi ini mencakup semua benua dan habitat (dari kota hingga hutan dan gurun).

2. Jumlah semut di Bumi adalah 20 kuadriliun!

Dari studi tersebut, para peneliti menemukan jumlah semut di Bumi adalah 20 kuadriliun (20.000.000.000.000.000). Angka ini ternyata 20 kali lebih tinggi dari prakiraan para peneliti sebelumnya. Sebagai perbandingan, Bimasakti memiliki 100 miliar bintang. Dengan kata lain, jumlah semut di Bumi lebih banyak dari bintang di Bimasakti!

"Kami tak bisa membayangkan 20 kuadriliun semut di satu tumpukan," ujar salah satu peneliti dari University of Würzburg, Patrick Schultheiss kepada The Washington Post.

Lalu, para peneliti menimbang "berat" para semut melalui susunan karbon. Ternyata, 20 kuadriliun semut memiliki berat biomassa hingga 12 juta ton karbon. Berat ini lebih dari kombinasi biomassa burung dan hewan mamalia liar, dan 20 persen dari total biomassa manusia. Artinya, satu manusia sepadan dengan sekitar 2,5 juta semut.

"Saya terkejut bahwa biomassa semut lebih tinggi dari kombinasi biomassa mamalia dan burung liar, dan beratnya mencapai 20 persen dari biomassa manusia. Ini membuktikan seberapa besar peran semut," ujar peneliti dari University of Würzburg dan University of Hong Kong, Sabine S. Nooten.

Baca Juga: 6 Hewan dengan Bentuk Jantung Paling Aneh, Deg-degan!

3. Populasi semut kaya di kawasan tropis

Wah, Ilmuwan Hitung Ada 20 Kuadriliun Semut di Bumi!ilustrasi semut berenang (pexels.com/Skyler Ewing)

Para peneliti juga menemukan bahwa semut-semut ini terdistribusi secara tak merata. Dengan perbedaan hingga 6 kali lipat, semut paling padat di daerah tropis, menandakan pentingnya kawasan tropis untuk memelihara populasi semut.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa populasi semut paling pada di daerah hutan. Mengejutkannya, populasi semut juga tak kalah banyak di daerah gersang. Namun, jumlah semut kian menipis di habitat buatan manusia.

Meski begitu, para peneliti mencatat bahwa ada beberapa kekurangan dalam penelitian ini. Lokasi sampling tak merata hingga mayoritas sampel semut yang dikumpulkan di atas tanah saja, para peneliti mengatakan bahwa temuan ini "tidak lengkap".

"Ada bagian-bagian dunia yang minim datanya, dan kami tak bisa mencapai estimasi yang akurat untuk semua benua. Contohnya, Afrika yang diketahui kaya akan semut, tetapi tak begitu dipelajari," ujar Patrik kepada Reuters.

Mengetahui jumlah semut amat penting untuk mengetahui keadaan ekosistem dan lingkungan. Sayangnya, para peneliti mencatat bahwa jumlah serangga global tengah berkurang karena hancurnya habitat, penggunaan senyawa kimia, hingga perubahan iklim.

Meski begitu, data mengenai biodiversitas serangga tak cukup. Oleh karena itu, para peneliti berharap penelitian ini bisa menjadi dasar untuk studi-studi selanjutnya dan peneliti bisa memantau kondisi populasi semut di tengah perubahan lingkungan yang masif dewasa ini.

4. Pentingnya semut untuk ekosistem

Menurut Patrick, semut memiliki peran penting dalam ekosistem terestrial. Semut juga adalah serangga yang amat beragam, dan beda spesies, beda juga fungsinya. Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal The Royal Society Publishing pada Agustus 2022 menemukan bahwa semut lebih berguna mengusir hama dibanding pestisida.

"Beberapa semut bisa amat mengesalkan, tetapi ini adalah pandangan subjektif manusia. Kebanyakan semut sebenarnya bermanfaat, bahkan untuk manusia," kata Patrick.

Dilansir The Conversation, para peneliti mencatat bahwa semut memiliki kaitan erat dengan organisme lain. Beberapa burung mengandalkan semut untuk menarik mangsa, dan tanaman menjadikan semut sebagai pelindung atau saran menyebarkan bibit. Beberapa semut juga predator sehingga tetap menjaga keseimbangan populasi serangga.

"Bayangkan, materi organik yang diedarkan, dibuang, didaur ulang, dan dikonsumsi 20 kuadriliun semut. Faktanya, semut amat penting untuk proses biologis yang lancar, sehingga mereka disebut 'insinyur ekosistem'," papar Patrick.

Mencengangkan, 'kan? Ternyata, yang selama ini kita coba basmi amat berguna untuk ekosistem. Jadi, kalau lihat semut yang sedang berbaris, mari pelajar dan jangan injak. Pelihara nyawa, demi pelihara lingkungan!

Baca Juga: Gak Nyangka, 11 Hewan Ini Sudah Mencicipi Luar Angkasa

Topic:

  • Fatkhur Rozi

Berita Terkini Lainnya