Comscore Tracker

Studi: 90 Juta Tahun Lalu, Antarktika Tidak Bersalju!

Kok sekarang bisa bersalju?

Apa yang ada dalam benakmu saat mendengar "Kutub Selatan"? Tempat bersalju? Tempat tinggal Sinterklas?

Mayoritas orang berpikir bahwa tempat yang terletak di benua Antarktika tersebut identik dengan suhu di bawah titik beku dan salju. Namun, temuan para ilmuwan berikut ini akan mengejutkanmu!

Kenapa? Ternyata, 90 juta tahun yang lalu, Kutub Selatan jauh dari kata "bersalju".

1. Kutub Selatan dulunya hutan hujan!?

Melalui penelitian gabungan antara Inggris dan Jerman berjudul "Temperate rainforests near the South Pole during peak Cretaceous warmth" pada 1 April 2020, ternyata Kutub Selatan dulunya menjadi rumah bagi hutan hujan.

Dilansir dari jurnal Nature, para peneliti meneliti sampel tanah hutan yang dapat ditelusuri kembali dari Periode Kapur (dari 145 juta hingga 66 juta tahun lalu) dalam jarak 900 km dari Kutub Selatan dan menganalisis akar, serbuk sari, serta spora yang tersimpan di dalam tanah tersebut.

Refresh pelajaran Sejarah di SMU, Periode Kapur adalah masa di mana dinosaurus memenuhi dan menjelajahi dataran Bumi.

Salah satu peneliti, Tina van de Fliedt dari Department of Earth Science and Engineering di Imperial College London, Inggris, mengatakan bahwa meskipun tak ada sinar matahari, hutan hujan berusia sekitar 90 juta tahun ini tetap tumbuh dan terjaga dengan baik.

"Bukti hutan hujan berusia 90 juta tahun yang tetap lestari ini memang luar biasa. Akan tetapi, yang lebih mengejutkan lagi adalah hal-hal mengenai dunia purba yang diungkapkannya," papar Tina.

"Bahkan selama bulan-bulan tanpa sinar matahari, hutan hujan dapat tumbuh amat dekat dengan Kutub Selatan. Hal ini menunjukkan iklim yang bahkan lebih hangat dari yang kami asumsikan," imbuhnya.

2. Temperatur udara yang hangat

Studi: 90 Juta Tahun Lalu, Antarktika Tidak Bersalju!sciencenews.org

Selain itu, para peneliti kemudian mencatat bahwa suhu Kutub Selatan di Periode Kapur kemungkinan besar sehangat Selandia Baru dan lebih hangat dari Jerman masa kini.

Hal tersebut didasarkan dari temuan para ilmuwan saat meneliti inti sedimen sepanjang 30 meter yang ditemukan dari pengeboran ke dasar laut dekat Pine Island dan gletser Thwaites, Antarktika Barat.

Rupanya, satu bagian dari inti sedimen tersebut menarik perhatian para peneliti karena warnanya yang tidak biasa.

"Kami sering melihat inti sedimen dari Antarktika. Tetapi, untuk yang ini? Kami baru melihatnya pertama kali," sebut kepala penelitian, Johann Klages dari Alfred Wegener Institute di Jerman.

Setelah dipindai dengan tomografi terkomputasi dan sinar X, para peneliti menemukan jaringan padat akar fosil yang tetap lestari, sampai-sampai mereka dapat melihat struktur sel individu, termasuk jejak serbuk sari dan spora dari tanaman yang tak terhitung jumlahnya.

Temuan tersebut menunjukkan suhu rata-rata tahunan di wilayah Kutub Selatan pada waktu itu adalah di kisaran 12° C, sedikit menutup kemungkinan adanya tudung es di Kutub Selatan pada saat itu.

Suhu rata-rata tersebut bahkan dua derajat lebih tinggi dibandingkan Jerman masa kini.

Saat musim panas, suhu rata-rata saat itu dapat mencapai hingga 19° C, sementara suhu di air dan sungai dapat mencapai 20° C. Curah hujannya pun dapat disandingkan dengan negara Wales masa kini.

Pertengahan Period Kapur memiliki temperatur udara terhangat dalam rentang 140 juta tahun. Di iklim tropis, suhu bisa mencapai 35° C dengan ketinggian air laut 170 m lebih tinggi dari laut masa kini.

Baca Juga: 8 Foto ini Akan Menjelaskanmu Bagaimana Susahnya Hidup di Antarktika

3. Kadar karbon dioksida tinggi

Studi: 90 Juta Tahun Lalu, Antarktika Tidak Bersalju!tecake.com

Membantah model iklim Periode Kapur modern, penelitian tersebut memaparkan bahwa kadar karbon dioksida di atmosfer pada pertengahan Periode Kapur lebih tinggi dari yang diharapkan.

Selain itu, para peneliti mengklaim bahwa temuan ini bahkan lebih signifikan, mengingat Kutub Selatan hanya mengalami satu periode malam kutub selama empat bulan, artinya selama sepertiga tahun, tidak ada sinar matahari.

Hasil penelitian tersebut mematahkan asumsi umum soal kadar karbon dioksida pada Periode Kapur. Sebelumnya, dunia memprakirakan kadar konsentrasi karbon dioksida di Periode Kapur adalah 1.000 parts-per-million (ppm). Ternyata? Butuh 1.120 - 1.680 ppm!

"Sebelum penelitian kami, asumsi umum adalah bahwa konsentrasi karbon dioksida global di Periode Kapur sekitar 1.000 ppm," papar Klages.

"Tetapi dalam percobaan berbasis model kami, butuh tingkat konsentrasi 1.120 hingga 1.680 ppm untuk mencapai suhu rata-rata saat itu di Antarktika."

Menutup penelitiannya, para ilmuwan akhirnya menyimpulkan bahwa sekitar 90 juta tahun yang lalu, benua Antarktika tertutup oleh hutan hujan lebat.

4. Kenapa Kutub Selatan sekarang dingin?

Studi: 90 Juta Tahun Lalu, Antarktika Tidak Bersalju!oceanwide-expeditions.com

Jika dahulu Kutub Selatan ternyata dipenuhi oleh hutan hujan dan suhu udara yang hangat mendekati panas, lalu mengapa Kutub Selatan sekarang bisa dingin? Pakar Glasiologi dari Goddard Space Flight Center NASA, Robert Bindschadler, akan menjawab pertanyaan tersebut.

Pertama, kedua daerah kutub bumi, Kutub Utara dan Kutub Selatan, memiliki suhu dingin karena mereka menerima radiasi matahari yang jauh lebih sedikit dibandingkan daerah tropis dan garis lintang tengah. Matahari tidak pernah naik lebih dari 23,5 derajat di atas cakrawala dan kedua lokasi mengalami enam bulan kegelapan terus menerus.

Penyebab keduanya adalah lapisan kedua kutub yang berwarna putih. Sebagian besar sinar matahari yang bersinar di daerah kutub terpantulkan oleh permukaan putih yang cerah. Oleh karena itu, suhu udara tetap dingin meskipun ada matahari.

Namun, pemenangnya tetap Kutub Selatan.

5. Kutub Selatan lebih dingin dari Kutub Utara

Studi: 90 Juta Tahun Lalu, Antarktika Tidak Bersalju!climate.nasa.gov

"Emang iya?"

Bayangkan saja, jika rata-rata suhu Kutub Utara saat musim panas dan dingin adalah 0° C dan -40° C, maka di Kutub Selatan rata-rata suhu musim panas dan dinginnya adalah -28,2° C dan -60° C!

"Brrrrr!"

Hal tersebut dikarenakan Kutub Selatan berdiri di atas lapisan es yang sangat tebal, lebih dari 2,7 km di atas permukaan laut, yang adalah benua Antarktika. Sampai saat ini, benua Antarktika adalah benua tertinggi di dunia, lho!

Sebagai perbandingan, Kutub Utara terletak di tengah Samudra Arktik, di mana permukaan es mengapung hanya sekitar 30 cm di atas laut sekitarnya. Selain itu, Samudra Arktik juga berperan besar sebagai penampung panas yang efektif, yang menghangatkan udara dingin di musim dingin setelah menarik panas dari udara musim panas.

Jadi, bukan salah manusia jika Kutub Selatan menjadi dingin saat ini. Itu murni perbuatan alam! Akan tetapi, jika Kutub Selatan tidak dingin lagi, membayangkannya saja sudah menyeramkan.

"Yuk, jaga lingkungan!"

Baca Juga: 7 Hal Unik dan Aneh di Antarktika, Tidak Ada Zona Waktu loh di Sana!

Topic:

  • Alfonsus Adi Putra
  • Bayu D. Wicaksono

Berita Terkini Lainnya