Comscore Tracker

11 Fakta Tenaga Medis dalam Perang Dunia II 

Sigap membantu meski di medan tempur

Menurut The National WWII Museum di New Orleans, sebanyak 407.316 orang Amerika tewas dalam pertempuran. Bahkan lebih banyak lagi, 671.278 terluka dan mungkin saja jumlahnya lebih banyak. Jumlah ini bisa dibilang sangat besar karena hanya mencakup Amerika saja. Tetapi ini hanya sebagian kecil kisahnya.

Di samping tentara-tentara yang terluka itu, sebenarnya banyak petugas medis yang sama-sama berjuang di samping mereka. Tugas ini sangat mengerikan, tak jauh berbeda dengan tentara di medan perang itu sendiri. Lalu, bagaimana fakta dan kisahnya? 

1. Petugas medis Perang Dunia II dilatih seperti pasukan tempur 

11 Fakta Tenaga Medis dalam Perang Dunia II Petugas medis menolong seorang prajurit infanteri, di bawah tembakan musuh. (ww2today.com)

Menurut Chapman University, berakhirnya perang dunia pertama juga membawa beberapa realisasi yang sulit. Departemen Medis Angkatan Darat AS mengatakan bahwa berkat kemajuan dalam peperangan, cara lama tidak lagi cukup membantu. Untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa, tentara yang terluka harus dirawat sesegera mungkin di tempat kejadian. 

Akhirnya, personel medis militer dikerahkan dan dilatih semaksimal mungkin. Perombakan prosedur di antara perang mengharuskan unit militer petugas medis dilatih untuk siap siaga di tengah pertempuran. Mereka menjalani pelatihan militer seperti tentara lainnya. Petugas medis yang mendaftar sebelum Perang Dunia II terkadang diberi pelatihan medis dalam situasi non-tempur. 

2. Terkadang petugas medis tidak diserang melainkan dijadikan target di wilayah tertentu

11 Fakta Tenaga Medis dalam Perang Dunia II Dua petugas medis yang sedang mengobati tentara yang terluka. (wwiimedic.com)

Batalion biasa terdiri dari 400 hingga 500 orang, dan bersama mereka ada sekitar 30 petugas medis. Nah, untuk membedakannya, petugas medis akan mengenakan helm dengan simbol palang merah berlatar belakang warna putih. Hal ini bertujuan untuk memudahkan tentara lain menemukan mereka dalam pertempuran, dan tentara musuh biasanya tidak akan menargetkan mereka. 

War History Online mengatakan bahwa petugas medis di setiap pertempuran menghadapi sikap dan situasi yang berbeda. Contohnya peperangan di Afrika Utara, umumnya musuh tidak akan menyerang tim medis, dan dalam konflik di Eropa Barat, hal ini juga berlaku (tetapi tidak selalu).

Ada pula kejadian pada tahun 1945, ketika pasukan Amerika menemukan tim medis Jerman yang terdampar. Mereka tidak menyerangnya, tetapi justru menyelamatkannya dengan mengisi bensin kendaraan tim medis Jerman itu dan membiarkannya pergi. Pasukan Kanada, di sisi lain, terkenal karena menembaki petugas medis karena sebagian besar petugas medis Jerman bersenjata.

3. Obat paling ampuh di dunia medis selama Perang Dunia II

https://www.youtube.com/embed/f_-eHyIZGfc

Dikutip The Conversation, menurut Peter C. Doherty, Profesor Laureate di University of Melbourne, tentara pra-Perang Dunia II lebih mungkin meninggal karena penyakit atau infeksi daripada cedera dalam pertempuran. Pada akhir Perang Dunia II, hal itu berbeda— hanya satu dari setiap sembilan tentara yang meninggal karena infeksi. Ini karena adanya penisilin.

Menurut National Geographic, orang pertama yang berhasil diobati dengan penisilin terjadi pada tahun 1941, ketika penisilin masih sulit diproduksi. Ketika obat habis, pasien meninggal. Tetapi karena adanya perang, para ahli mencari cara untuk memproduksinya secara massal. Serangkaian terobosan pada tahun 1944 berhasil mengirimkan sejumlah besar penisilin ke peperangan. Tapi apa yang digunakan sebelum adanya penisilin?

Menurut HistoryNet, petugas medis mengandalkan sulfa, yaitu bubuk kuning untuk mengobati luka, dan itu berhasil walaupun untuk sementara waktu. Obat sulfa--yang ditemukan oleh ahli patologi Jerman--digunakan secara berlebihan sehingga penyakit menjadi resisten, saat itulah penisilin masuk. 

4. Petugas medis Perang Dunia II tetap merawat tentara yang terluka meskipun dia sendiri terluka

https://www.youtube.com/embed/vbk47n52PI0

Edwin "Doc" Pepping adalah bagian dari Easy Company, Batalyon ke-2—grup yang kemudian diabadikan sebagai Band of Brothers. Departemen Pertahanan AS mengatakan bahwa pada D-Day, dia mengalami keretakan tulang belakang dan gegar otak saat melompat dari pesawat angkutnya.

Dia dipindahkan ke stasiun bantuan di dekat Pantai Utah, dan menghabiskan waktunya untuk merawat para tentara yang terluka, dan menyelamatkan sekitar 80 nyawa tentara. Tetapi, kisahnya bukan satu-satunya.

Hal serupa juga menimpa Ray Lambert yang berusia 24 tahun dan tim medisnya ketika menuju Pantai Normandia dengan pasukan gelombang pertama, dia tertembak di bagian lengan kanannya, dan NPR menjelaskan, meskipun begitu, ia tetap menyelamatkan para prajurit yang cedera.

Lambert kembali tertembak untuk kedua kalinya, tepat di kakinya. Dia mengikat kakinya dengan tourniquet dan terus berjalan, mengarungi air untuk menyelamatkan tentara yang tenggelam. Tetapi, ia tertangkap musuh dan diserang hingga sebagian tulang punggungnya patah, namun tetap saja, dia terus melaju.

Lambert selamat dari perang, dan pada 2019, veteran berusia 98 tahun itu kembali ke pantai. Batu yang melindungi dia dan tentara yang terluka, terpasang plakat dan dikenal sebagai "Batu Ray." 

Baca Juga: 5 Sniper Paling Mematikan di Masa Perang Dunia II, Korbannya Ratusan!

5. Petugas medis Perang Dunia II sering kali ikut bertempur dan bahkan mengorbankan diri sendiri untuk menyelamatkan nyawa orang lain 

https://www.youtube.com/embed/wPKIYyjOb7o

Menurut Jewish Virtual Library, Ben L. Salomon adalah seorang dokter gigi yang direkrut pada tahun 1940. Dia ditugaskan di unit senapan mesin di Infanteri ke-102, dan akhirnya dipindahkan ke Korps Gigi. Pada tahun 1944 di Saipan, Salomon mengajukan diri sebagai ahli bedah Batalyon ke-2.

Di sana, komandan Jepang memerintahkan semua prajuritnya--diperkirakan sekitar 6.000 orang--untuk mengambil alih wilayah tersebut. Akibatnya, stasiun Salomon terkepung. Pada saat yang sama dia berjuang untuk menyelamatkan 30 orang yang terluka, dia menembak dan membunuh tentara Jepang yang menemukan tenda medisnya.

Ia mengorbankan diri dengan mengambil senapan mesin dan membiarkan para tentara lain melarikan diri dari serbuan Jepang.  Saat pertempuran berakhir, National Museum of American Jewish Military History mengatakan bahwa tubuhnya ditemukan bersama 98 tentara musuh yang dia bunuh dalam upaya untuk melindungi pasiennya.

6. Novelis Samuel Beckett memiliki kisah penuh harap dari para petugas medis yang ditugaskan di St-Lo, Prancis 

11 Fakta Tenaga Medis dalam Perang Dunia II Staf Palang Merah Irlandia di St-Lo, Prancis. (rte.ie/Ethna Gaffney)

Pada tahun 1945, Palang Merah Irlandia mengirim 60 pekerja rumah sakit militer ke St-Lo, Prancis. Menurut RTE, kedatangan pekerja rumah sakit Irlandia ini disyukuri oleh penduduk setempat.

Menurut The Irish Times, novelis Samuel Beckett direkrut untuk menjadi penerjemah, dan akhirnya menulis tentang dampak kedatangan petugas medis dan staf rumah sakit, yang mampu menangani penduduk kota dengan baik. 

Beckett mengungkapkan kepada BMJ, para petugas medis ini tidak hanya merawat mereka yang terluka akibat perang, tetapi juga warga sipil yang terluka dalam serangan udara, orang-orang yang terperangkap di gedung-gedung yang runtuh, dan penduduk kota yang saat itu rentan terhadap penyakit seperti TBC. Bahkan, petugas medis masih terus bekerja lama setelah pertempuran berhenti, yang dianggap membawa harapan. 

7. Persahabatan yang tak diduga antara dokter militer Jerman dan tentara Amerika yang tertembak pasukan Jerman

11 Fakta Tenaga Medis dalam Perang Dunia II Elmer Richardson dan Ludwig Gruber (desmoinesregister.com)

Elmer Richardson merupakan tentara Amerika Serikat. Dia dikirim ke Infanteri ke-12, dan berada di garis depan Pertempuran Bulge. Menurut Des Moines Register, dia ditembak dan disergap oleh tentara Jerman. Richardson dibawa ke tahanan Jerman, berakhir di Helenenburg, dan dikirim ke rumah sakit yang dikelola oleh staf medis Jerman. Seorang staf medis bernama Dr. Ludwig Gruber mengobati luka tembak yang parah di perut Richardson, dan ia menghabiskan berjam-jam memperbaiki kembali ususnya.

Richardson pulih, dan memberikan alamatnya kepada dokter tersebut. Dia meminta Gruber untuk menulis surat kepadanya dan memberi tahunya jika dia berhasil melewati masa perang. Mereka berdua selamat, dan—seperti yang dijanjikan—saling menulis surat. Richardson akhirnya meninggal pada tahun 1996 dan Gruber pada tahun 1998.

Di sinilah kisahnya terungkap, ketika putra Richardson menjelajahi kembali masa perang ayahnya di Eropa pada tahun 2015, ia bertemu dengan dua putra Gruber. Steve Richardson kemudian berkata, "Saya merasa seperti mendapatkan tiga saudara laki-laki." 

8. Beberapa tenaga medis PD II meninggal sebelum mereka mendapatkan penghargaan yang layak 

https://www.youtube.com/embed/dHA06Cst0sQ

Waverly B. Woodson merupakan tenaga medis yang mengalami luka serius saat turun dari kapal pendaratnya yang rusak pada D-Day. Ia pun berenang ke Pantai Omaha, dan menghabiskan 30 jam untuk merawat tentara lain yang terluka, yang terus-menerus datang ke hadapannya, bahkan ia harus kembali ke air untuk menyelamatkan beberapa orang yang tenggelam.

Dalam 30 jam itu, dia menyelamatkan sekitar 200 nyawa sebelum akhirnya pingsan karena kelelahan. Menurut History, setelah ia sadar dan memulihkan kekuatannya, dia kembali ke pantai untuk membantu lebih banyak tentara. 

Woodson dipuji sebagai pahlawan di surat kabar Amerika, tetapi tidak mendapatkan Medal of Honor, dan faktanya, tidak ada Medal of Honor yang diberikan kepada lebih dari satu juta tentara kulit hitam selama Perang Dunia II. Woodson pun meninggal pada tahun 2005. 

9. Desmond Doss: dari keteguhan iman hingga menjadi petugas medis yang pemberani

https://www.youtube.com/embed/X0PAoEFeXLo

The National WWII Museum mengatakan ada sekitar 25.000 orang yang tidak siap berperang direkrut menjadi posisi non-tempur, termasuk menjadi petugas medis. Satu di antaranya adalah Desmond Doss, ia menjalani pelatihan dasar, tetapi melewatkan latihan bersenjata, dan tanpa henti dianiaya karena keteguhan imannya.

Rekan-rekan prajurit dan komandannya sama-sama mengancamnya hingga pemecatan yang tidak terhormat, tetapi dia tetap bertahan. Pada tahun 1944, ia dikirim ke Pasifik bersama Infanteri ke-307. Dalam dua pertempuran pertamanya—Guam dan Leyte—dia mendapatkan dua Bintang Perunggu untuk keberaniannya, dan kemudian, ia pergi ke Okinawa. 

Dilansir NPR, di sana ia berpartisipasi dalam pertempuran paling berdarah dalam Perang Dunia II di Pasifik: Hacksaw Ridge. Bahkan saat menolong prajurit yang terluka ke tempat yang aman, dia berdoa—"Tuhan, tolong bantu saya mendapatkan satu orang lagi." Dia pun berhasil menyelamatkan 75 orang yang terluka parah. Doss juga tertembak di medan perang, mengidap TBC, dan dikirim pulang untuk menerima Medal of Honor

10. Gisella Perl: Petugas medis di Auschwitz

https://www.youtube.com/embed/aeV3vsOvBlo

Gisella Perl adalah seorang ginekolog yang membantu para wanita, sebelum akhirnya dia dikirim ke Kamp Wanita Hungaria di Auschwitz, latar belakang medisnya menarik perhatian Dr. Josef Mengele.

Mengele menugaskannya untuk mendata wanita hamil di kamp, ​​dan tidak lama kemudian Perl mengetahui alasan sebenarnya. Menurut BBC, Mengele memaksanya untuk mengeluarkan dan mengawetkan janin wanita berusia delapan minggu. Dia bahkan melihat wanita-wanita ini dipukuli oleh tentara sebelum masuk ke dalam krematorium kamp. 

Tetapi Perl menyelamatkan nyawa para wanita tersebut. Akibatnya, ia dipindahkan ke Bergen-Belsen, dan setelah dibebaskan, Perl kemudian kembali ke praktik medis untuk membantu korban Holocaust yang menderita masalah infertilitas. 

11. Mahasiswa yang direkrut menjadi petugas medis di kamp konsentrasi

11 Fakta Tenaga Medis dalam Perang Dunia II Para mahasiswa yang ditugaskan di Bergen-Belsen. (belsen.co.uk)

Berakhirnya perang membawa kengerian yang baru: diantaranya pembebasan kamp konsentrasi. Kamp konsentrasi Bergen-Belsen dibebaskan pada bulan April 1945, ada lebih dari 10.000 mayat yang harus dikuburkan, dan ada 43.000 orang yang selamat.

Pada bulan Mei, 95 mahasiswa kedokteran dari London direkrut, dan menurut BBC, mereka awalnya diminta untuk merawat anak-anak Belanda. Tetapi nyatanya, mereka dihadapkan dengan orang kekurangan gizi, dan sekarat. 

Mereka ditugaskan untuk pergi ke gubuk dan memindahkan mereka yang telah meninggal pada malam hari. Menurut King's College London, jumlah kematian harian turun dari 500 menjadi 50 karena kedatangan mereka.

Tenaga medis dalam Perang Dunia II adalah pekerjaan yang mengerikan, namun mereka harus siap untuk melakukannya demi membantu para tentara dan warga yang terluka akibat perang. 

Acevedo—seorang petugas medis dan orang Meksiko-Amerika pertama yang selamat dari Holocaust—menyampaikan: "Jangan pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Ingat apa yang saya dan teman-teman saya alami." 

Baca Juga: 5 Harta Karun Berharga yang Hilang di Masa Perang Dunia II, Apa Saja?

Amelia Solekha Photo Verified Writer Amelia Solekha

Killing my time with arts, literature, phraseology, visualization, and manipulate. https://ameliasolekha.blogspot.com/

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya