Comscore Tracker

Kata yang Kamu Ungkapkan Bisa Jadi Indikator Depresi, Ini Studinya

Lewat ucapan ataupun tulisan

Penderita depresi lebih cenderung mengatakan kata-kata tertentu di setiap postingan ataupun tulisan di media sosialnya. Bukan hanya dari kata-katanya, penderita depresi juga bisa memengaruhi perilaku mendasar seperti caranya bersikap sehari-hari, hingga cara berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan terlihat juga dalam caranya berbicara dan mengekspresikan diri secara tertulis.

Kadang-kadang "bahasa depresi" ini dapat memiliki efek yang kuat pada orang lain. Contohnya saja dampak puisi dari penulis Sylvia Plath dan lirik lagu yang ditulis Kurt Cobain, dan sayangnya mereka berdua memutuskan untuk bunuh diri karena menderita depresi.

Lalu bagaimana ya penjelasannya?

1. Telah menjadi studi bagi para ilmuan terkait depresi dan bahasa

Kata yang Kamu Ungkapkan Bisa Jadi Indikator Depresi, Ini StudinyaUnsplash/Nick Morrison

Para ilmuwan telah lama mencoba untuk menjabarkan hubungan antara depresi dan bahasa, dibantu juga dengan teknologi canggih sekarang ini yang tentunya bisa membantu mengetahui gambaran yang tepat akan penelitian tersebut.

Studi terbaru yang diterbitkan dalam Clinical Psychological Science, sekarang sudah meluncurkan kelas kata yang dapat membantu secara akurat untuk memprediksi apakah seseorang menderita depresi atau tidak.

2. Melalui metode analisis teks

Kata yang Kamu Ungkapkan Bisa Jadi Indikator Depresi, Ini StudinyaUnsplash/Patrick Tomasso

Secara sederhana, analisis linguistik di bidang ini telah dilakukan oleh para peneliti dengan membaca dan mencatat. Saat ini, metode analisis teks terkomputerisasi dan memungkinkan pemrosesan data dalam hitungan menit.

Hal tersebut dapat membantu mengenali fitur linguistik yang mungkin terlewatkan oleh manusia, menghitung persentase prevalensi kata dan kelas kata, keragaman leksikal, rata-rata panjang kalimat, pola tata bahasa, dan banyak metrik lainnya.

Baca Juga: 5 Hal Kecil yang Bisa Kamu Lakukan untuk Mengalahkan Depresi

3. Penelitian difokuskan pada tulisan dan kalimat yang diucapkan seseorang

Kata yang Kamu Ungkapkan Bisa Jadi Indikator Depresi, Ini StudinyaUnsplash/Mikhail Pavstyuk

Sejauh ini, esai pribadi dan buku harian yang ditulis oleh orang-orang depresi sudah sangat membantu dalam penelitian tersebut, seperti halnya karya seniman terkenal seperti Cobain dan Plath.

Untuk kata-kata yang sering diucapkan, potongan bahasa seseorang dengan depresi juga memberikan masukan bagi para peneliti. Secara bersamaan, temuan dari penelitian tersebut mengungkapkan perbedaan yang jelas dan konsisten dalam bahasa antara pengidap depresi dan gak menderita depresi.

4. Pengidap depresi cenderung lebih sering menggunakan kata ganti dalam tulisan

Kata yang Kamu Ungkapkan Bisa Jadi Indikator Depresi, Ini StudinyaUnsplash/Calum MacAulay

Bahasa dapat dibagi menjadi dua komponen, yakni isi konten dan gaya. Konten tersebut berkaitan dengan makna atau pokok dari pernyataan. Mereka yang memiliki gejala depresi menggunakan kata-kata yang berlebihan dalam menyampaikan emosi negatifnya, khususnya kata sifat dan kata keterangan negatif, seperti "kesepian," "sedih" atau "sengsara."

Orang-orang dengan gejala depresi secara signifikan juga menggunakan lebih banyak kata ganti orang pertama tunggal, seperti "aku," dan "diriku," dan kata ganti orang kedua dan ketiga yang secara signifikan lebih sedikit, seperti "mereka," atau "dia."

Pola penggunaan kata ganti tersebut bisa menunjukkan seseorang dengan depresi pada diri mereka sendiri, dan kurang terhubung dengan orang lain. Para peneliti telah melaporkan bahwa kata ganti dapat diandalkan dalam mengidentifikasi depresi daripada kata-kata emosi negatif.

5. Penelitian melibatkan forum-forum kesehatan mental

Kata yang Kamu Ungkapkan Bisa Jadi Indikator Depresi, Ini StudinyaUnsplash/Andrew Neel

Gaya bahasa berhubungan dengan cara seseorang mengekspresikan diri. Peneliti baru-baru ini melakukan analisis teks data dari 64 forum kesehatan mental online yang berbeda, memeriksa lebih dari 6.400 anggota.

Mereka yang mengalami depresi akan memiliki pandangan yang lebih hitam dan putih tentang kehidupan, dan terbentuk dalam gaya bahasa mereka. Dibandingkan dengan 19 forum yang berbeda, prevalensi kata-kata absolut sekitar 50 persen lebih besar di forum kecemasan dan depresi, dan sekitar 80 persen lebih besar untuk forum ide bunuh diri.

Pronoun menghasilkan pola distribusi yang sama dengan kata-kata absolut di seluruh forum, tetapi efeknya lebih kecil. Sebaliknya, kata-kata emosi negatif secara paradoks kurang lazim di forum ide bunuh diri daripada di forum kecemasan dan depresi.

6. Mengklasifikasikan bahasa sehari-hari dari media sosial

Kata yang Kamu Ungkapkan Bisa Jadi Indikator Depresi, Ini StudinyaUnsplash/Kaleidico

Memahami bahasa depresi dapat membantu kita memahami bagaimana seseorang memiliki gejala depresi. Para peneliti menggabungkan analisis teks dengan mengklasifikasikan berbagai kondisi kesehatan mental dari sampel teks bahasa sehari-hari seperti postingan di blog dan media sosial. Klasifikasi semacam itu sudah secara akurat mengidentifikasi masalah kesehatan mental yang spesifik, seperti perfeksionisme, masalah harga diri, dan kecemasan sosial.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia hidup dengan depresi, peningkatannya lebih dari 18 persen sejak tahun 2005. Mendeteksi melalui bahasa dan tulisan ini tentu penting untuk mengetahui kondisi seseorang dan mencegah terjadinya bunuh diri seperti yang terjadi pada banyak kasus.

Kita tahu bahwa kesendirian dan isolasi sosial adalah gejala umum dari depresi, tapi hal tersebut gak mengungkapkan gaya berpikir seseorang yang sebenarnya. Kita gak bisa menilai seseorang depresi hanya karena mereka ingin menghabiskan waktunya sendirian bukan? Melalui analisis bahasa dan tulisan menjadi salah satu alternatif mendeteksi seseorang mengalami depresi atau tidak.

Jadi alangkah lebih baiknya kita lebih peka terhadap orang sekitar di lingkungan kita. Kita bisa mengetahuinya dari postingan atau tulisan-tulisannya di media sosial. Gak ada salahnya kan untuk saling peduli agar gak terjadi sesuatu yang gak diinginkan.

Baca Juga: Cara Mengetahui Temanmu Sedang Depresi dan Bagaimana Membantunya

Amelia Solekha Photo Community Writer Amelia Solekha

Killing my time with arts, literature, phraseology, visualization, and manipulate. https://ameliasolekha.blogspot.com/

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You