Comscore Tracker

Inilah 7 Mitos Tentang Objek Langit yang Selalu Dianggap Benar

Di poin berapa nih mitos yang kamu percayai? 

Seberapa sering sih kamu keluar dan menatap langit? Mungkin kamu jarang ya menatap langit, apalagi kalau langit lagi terik di siang bolong. Bahkan kita mungkin menatap langit di malam hari hanya untuk sekadar melihat bintang atau bulan. Ah, tapi tidak juga. Mungkin kita lebih senang menatap layar tv untuk menonton acara kesayangan.

Namun, jika kamu pernah keluar rumah sesekali dan tak sengaja melihat komet yang lewat, atau memastikan hujan meteor yang pernah kamu dengar di berita, kemungkinan kamu masih memiliki beberapa kesalahpahaman yang kamu dapatkan dari sekolah dasar. Hmm, kita cari tahu, yuk!

1. Meteor bisa mencapai permukaan bumi

Inilah 7 Mitos Tentang Objek Langit yang Selalu Dianggap Benaramsmeteors.org

Hujan meteor pasti akan masuk berita jika itu terjadi dalam skala yang relatif besar. Tapi, itu bukanlah meteor - melainkan meteorit. Perubahan nama terjadi ketika ia menyentuh tanah. Ia bukan meteor sampai ia mengenai atmosfer Bumi. Saat ia berada di luar angkasa, namanya adalah meteoroid.

Dilansir dari space.com, hanya meteor terbesar yang bertahan untuk mencapai Bumi, dan kecepatannya itu sekitar 30.000 mph, dengan suhu 3.000 derajat Fahrenheit. Maka tidak mengherankan, jika sebagian besar tidak berhasil menembus atmosfer tanpa hancur sepenuhnya, seperti yang dilakukan setidaknya lima mil di atas permukaan planet. Lainnya, hanya meledak biasa.

Sangat jarang bahwa batu ruang angkasa besar berhasil menembus permukaan, di mana mereka bisa meledakkan kawah jauh lebih besar daripada yang kita pikirkan. Yang lebih kecil itu sudah umum, dan sekitar 5 hingga 10 persen dari semua meteor menjadi meteorit.

2. Hujan meteor besar-besaran

https://www.youtube.com/embed/NwCyN3ZYxKc

Dilansir dari amsmeteors.org, meskipun langit tidak selalu dipenuhi dengan bintang atau meteor jatuh, tetap ada peluang untuk kita melihatnya (jika beruntung). Hujan meteor yang berbeda akan memiliki frekuensi yang berbeda pula. Hujan meteor terbesar, paling intens (seperti Perseid) mampu menciptakan hingga 100 bintang jatuh setiap jamnya.

Di hari yang lebih lambat, hujan Perseid tertentu mungkin hanya memuntahkan sekitar satu meteor per menit, dan beberapa hujan dengan kerapatan lebih rendah? Kita bisa melihat sekitar 5 hingga 10 setiap jamnya.

Masih ada hujan meteor lain yang bahkan lebih sulit untuk dilihat, beberapa diketahui hanya memiliki satu atau dua yang terlihat setiap jam, setidaknya dari sudut pandang dari Bumi. Betapa seringnya meteor jatuh itu tidak konstan.

Baca Juga: Dari Hujan Meteor Hingga Gerhana, Ini 9 Peristiwa Langit Terbaik 2019!

3. Hujan meteor terjadi secara acak

https://www.youtube.com/embed/X3Fq_EkEfAY

Hujan meteor terbesar contohnya Orionid, yang terjadi dalam satu menit. Menurut earthsky.org,  hujan meteor Orionid terjadi setiap tahun pada akhir Oktober, dan ini sangat teratur karena ini adalah waktu yang sama setiap tahun ketika Bumi melewati orbit Komet Halley.

Meskipun komet itu jelas tidak ada di sana, ia melakukan orbitnya berkali-kali, yang meninggalkan sejumlah besar puing-puing di belakangnya, dan itulah mengapa hujan meteor Orionid terjadi.

Jadi mengapa disebut Orionid? Karena semua meteor akan terlihat seperti berasal dari area yang sama di langit - dari titik pandang manusia, itulah rasi bintang Orion. Bumi melewati orbit komet dua kali. Hujan meteor lainnya terjadi pada bulan Mei, yakni hujan Eta Aquarid, sebagian besar dilihat dari belahan bumi selatan.  

4. Bintang jatuh selalu memiliki warna yang sama

Inilah 7 Mitos Tentang Objek Langit yang Selalu Dianggap Benardailyfx.com

Bintang jatuh semuanya berwarna sama, kan? Agak keputihan? Kita tahu kalau itu sebagian besar warna dari bintang di langit. Namun beberapa peneliti telah mengamati bintang jatuh yang berwarna merah dan biru.

Kecepatan pergerakan meteoroid mungkin ada hubungannya dengan (yang lebih lambat biasanya tampak merah atau oranye), serta komposisi mineral dan batuan yang berbeda dapat mempengaruhi warnanya juga.

Menurut amsmeteors.org, hanya sekitar 5 persen dari aura yang dilepaskan oleh meteoroid berasal dari komposisinya sendiri (sisanya berasal dari ruang di sekitarnya), dan terkadang warnanya tidak konstan.

Pembakaran nikel secara tiba-tiba, akan menghasilkan warna geren, namun itu sepertinya juga tidak akan bertahan lama. Ada juga masalah penglihatan warna oleh kita sendiri (dan batas-batas penglihatan itu). Apa yang kita lihat, terkadang cenderung  tidak dapat diandalkan.

5. Komet hanyalah batu biasa

https://www.youtube.com/embed/MC8Nj1m3e5Y

Komet biasanya dianggap sebagai batu-batu tua yang membosankan, namun nyatanya, menurut space.com, sebagian besar komet terbuat dari es, debu, dan gas seperti karbon dioksida dan metana.

Ada juga pertanyaan yang masih belum terpecahkan, yakni bagaimana hal-hal seperti air bisa ada di Bumi, dari mana datangnya. Satu hipotesis menyatakan bahwa potongan air pertama kali dibawa oleh sebuah komet yang akhirnya berdampak pada permukaan planet ini sejak dulu sekali.

Dan pada tahun 2005, salah satu pesawat penyelidik NASA mendekati sebuah komet bernama Tempel 1. Saking dekatnya, ia mendapat sampel dari inti kepala komet. Komet itu penuh dengan lubang, mereka juga berdebu, gas, dan sedingin es.

6. Komet selalu memiliki ekor

https://www.youtube.com/embed/7tRPepkiOPw

Jika kamu disuruh untuk membayangkan komet, pasti kamu berpikir kalau komet itu bundar di bagian depan dan memiliki ekor di bagian belakangnya, kan. Saat komet melewati ruang angkasa, mereka menumpahkan sebagian dari diri mereka. Itulah yang menciptakan ekor, bagi kebanyakan komet.

Menurut sciencealert.com, pada 2016, para ilmuwan menemukan komet aneh yang muncul dari Oort Cloud, yang merupakan rumah dari sebagian besar komet yang ditemukan sejauh ini. Setiap beberapa ratus tahun, orbitnya membawa mereka melalui tata surya kita, dan kita mengenal mereka dengan ekor yang berbeda itu.

Namun, komet khusus ini tidak memiliki ekor. Ia juga tidak memiliki kandungan es yang besar yang dimiliki sebagian besar komet, dan menurut spektrumnya (yang merupakan hal astronomis yang dapat digunakan para ilmuwan untuk mengidentifikasi tubuh ketika mereka bergerak melalui ruang angkasa), komet khusus ini belum pernah ada.

Jadi, mengapa benda ini dianggap sebagai komet? Ini karena orbitnya, yang membuat beberapa ilmuwan berpikir mereka harus melakukan revisi mengenai definisi "komet."

7. Komet dan ruang angkasa tidak memiliki bau

https://www.youtube.com/embed/T6aGXAhmyzs

Di ruang angkasa, katanya, tidak ada yang bisa mendengarmu menjerit. Tapi bagaimana dengan bau? Jika suara tidak ada, masuk akal dong ya kalau aroma juga tidak bisa tercium? Tapi tim di belakang misi Rosetta pada 2014, mengungkapkan faktanya.

Dilaporkan newscientist.com, Rosetta mendarat di sebuah komet bernama 67P / Churyumov-Gerasimenko, dan mereka melaporkan bahwa adanya hal-hal seperti hidrogen sianida, amonia, dan hidrogen sulfida (antara lain karbon dioksida, yang tidak berbau).

Informasi yang dikumpulkan memungkinkan tim untuk berbalik dan memberikan data itu ke Inggris, yang kemudian dibuat seperti apa aroma komet itu. Didapati kalau komet itu berbau seperti telur busuk dan sedikit berbau urin.

Dari ketujuh mitos di atas, apakah kamu pernah mendengarnya di sekolah, atau justru baru mengetahuinya?

Baca Juga: Super Langka, 7 Fenomena Langit Indah yang Sayang untuk Dilewatkan

Amelia Solekha Photo Verified Writer Amelia Solekha

Killing my time with arts, literature, phraseology, visualization, and manipulate. https://ameliasolekha.blogspot.com/

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya