Comscore Tracker

Black Death hingga Demam Kuning, 11 Wabah yang Mengubah Sejarah Dunia

Dari berakhirnya feudalisme hingga merdekanya suatu negara

Peradaban, sebenarnya hanyalah sistem kesepakatan untuk mematuhi aturan tertentu, seperti tidak melintasi perbatasan, misalnya. Jadi, tidak mengherankan bahwa stabilitas dalam masyarakat tidak sepenuhnya abadi—banyak hal yang terus berubah dalam menanggapi tekanan sekecil apa pun. Saat tekanan itu berskala global dengan peristiwa yang mempengaruhi area yang luas, perubahan yang terjadi bisa sangat dramatis.

Seperti yang diketahui semua orang hari ini, pandemi adalah krisis global yang memiliki konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang yang sangat besar. Kita mungkin mengira bahwa setelah krisis selesai semuanya akan kembali seperti sedia kala, tetapi sejarah menunjukkan bahwa akan ada perbedaan dalam kehidupan masyarakat. Untuk melihat apa yang terjadi, inilah bagaimana pandemi mengubah jalannya sejarah.

1. Black Death, berakhirnya feudalisme dan serangan viking

Black Death hingga Demam Kuning, 11 Wabah yang Mengubah Sejarah DuniaPeta yang menunjukkan sejarah Black Death di seluruh dunia. (commons.wikimedia.org/Munro Scott Orr)

The Black Death (wabah pes) masih menjadi pandemi paling mematikan dalam sejarah. Dimulai di Asia dan disebarkan oleh tentara Mongol, ia tiba di Eropa pada pertengahan abad ke-14 dan menewaskan antara 30 sampai 50 persen populasi Eropa, lapor American Scientist. Di suatu tempat, antara 75 hingga 200 juta orang meninggal hanya dalam beberapa tahun.

Seperti yang dilaporkan oleh History, Black Death mengakhiri perang antara Inggris dan Prancis, dan memaksa Viking untuk menghentikan serangan dan penjelajahan mereka, yang mengubah arah sejarah bangsa Nordik.

Meninggalnya banyak pekerja akibat wabah juga membuat sistem feodal Abad Pertengahan runtuh. Akibatnya, pekerja menuntut upah yang lebih baik dan kesejahteraan. Faktor-faktor ini meningkatkan mobilitas sosial dan mencetuskan akar masyarakat modern.

Black Death juga menghancurkan kekuatan Gereja Katolik. Angka kematian yang tinggi mendorong masyarakat beralih ke dalam mistisisme dan menabur benih keraguan tentang agama. Masyarakat mempertanyakan tentang doktrin Katolik, menggerakkan proses yang akan mengarah pada Reformasi.

2. Wabah Justinian mengakhiri Romawi untuk bersatu dan meningkatnya Kekristenan 

Black Death hingga Demam Kuning, 11 Wabah yang Mengubah Sejarah DuniaSt. Sebastian saat memohon pengampunan bagi mereka yang menderita wabah pada abad ke-7 di Pavia. (commons.wikimedia.org/Walters Art Museum/Josse Lieferinxe)

Pada abad ke-6 M, Kekaisaran Romawi Barat sudah tidak ada, tetapi Kekaisaran Romawi Timur — yang oleh para sejarawan dinamai sebagai Kekaisaran Bizantium, sedang berkuasa. Sementara itu, Kaisar Justinian ingin melawan Kekaisaran Sasaniyah di Persia, dia berencana untuk merebut Barat dan menyatukan kembali Kekaisaran Romawi seperti kejayaannya dulu, sebagaimana yang dijelaskan Institute for the Study of Western Civilization.

Namun, ketika wabah menyebar ke seluruh kekaisaran (kemungkinan besar penyakit pes), Justinianus terpaksa membatalkan rencana ini. Wabah ini membuat ekonominya morat-marit, dan banyak orang yang tewas. National Geographic memperkirakan antara 30 sampai 50 juta orang meninggal—sekitar setengah dari seluruh populasi dunia pada saat itu.

Wabah Justinian menjadikan agama Kristen sebagai agama dominan di Byzantium dan Eropa. Tingginya kematian membuat banyak masyarakat percaya bahwa dunia akan berakhir, dan banyak yang pergi ke Gereja untuk mendapatkan bimbingan. Kekristenan bangkit dan Gereja mencapai kekuatannya karena pandemi yang melanda dunia pada masa itu.

3. Pandemi flu 1918 menjadi pandemi modern pertama

Black Death hingga Demam Kuning, 11 Wabah yang Mengubah Sejarah DuniaPandemi influenza tahun 1918 di Washington, D.C. (commons.wikimedia.org/National Photo Company)

Pandemi flu H1N1 tahun 1918 (disebut sebagai flu Spanyol) adalah wabah yang menginfeksi setengah miliar orang dan menewaskan antara 50 sampai 100 juta di seluruh dunia, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

Pandemi ini diperparah oleh dampak Perang Dunia I yang mulai mereda, selain itu, banyak wilayah di dunia mengurangi pelayanan kesehatannya. Pada saat yang sama, ada gerakan besar-besaran di seluruh dunia yang menyebarkan dan mengaburkan informasi tentang wabah ini.

H1N1 adalah kejutan bagi dunia yang sudah lama tidak melihat wabah pada tingkat itu. Pemerintah harus menemukan strategi untuk pencegahan dan pengobatan dengan cepat, tetapi, seperti yang dicatat oleh Discover Magazine, keadaan darurat ini membantu mengakhiri pandemi dan menyelamatkan banyak nyawa. Faktanya, flu 1918 mengarah langsung pada pembuatan vaksin dan program mitigasi yang kita anggap remeh hari ini. 

4. Wabah Athena menjadi kejatuhan kota Athena 

Black Death hingga Demam Kuning, 11 Wabah yang Mengubah Sejarah DuniaSalah satu wabah paling terkenal dalam sejarah kuno pada tahun 429 SM. Wabah ini menyebabkan kehancuran besar di kota Yunani setelah menghancurkan Timur, Persia dan Mesir. (commons.wikimedia.org/Musée des Beaux-Arts/François Perrier)

Perang Peloponnesia berasal dari aliansi yang terbentuk antara negara-kota independen di Yunani Kuno, dengan Athena memimpin Liga Athena dan Sparta bagian dari Liga Peloponnesia. Tampaknya aliansi ini adalah untuk membantu mempertahankan Yunani dari agresi Persia, tetapi kenyataannya mereka adalah saingan domestik, dan pada 431 SM terjadi perang antara kedua kelompok.

Kekuatan militer Sparta terletak pada pasukan daratnya, sementara Athena dominan di angkatan lautnya. Sparta menyerbu dan mengepung Athena, tetapi wabah di Afrika utara menghancurkan Athena pada 430 SM. Worldhistory.org memperkirakan bahwa wabah itu membunuh sekitar sepertiga dari total populasi.

Meskipun perang terjadi selama hampir 26 tahun lagi, banyaknya penduduk yang tewas di Athena membuat mereka kalah, dan pada akhirnya menghancurkan pemerintahan demokratis di kota itu sendiri.

5. Wabah Antonine mengakibatkan destabilisasi Kekaisaran Romawi 

Black Death hingga Demam Kuning, 11 Wabah yang Mengubah Sejarah DuniaIlustrasi malaikat maut selama wabah Roma. Ukiran oleh Levasseur setelah J. Delaunay. (commons.wikimedia.org/Wellcome Images)

Wabah Antonine dimulai di suatu tempat di Asia sekitar tahun 165 M, dan disebarkan oleh bangsa Hun saat mereka menginvasi Eropa. Suku-suku Jermanik tertular wabah ini dari pasukan Hun, dan menyebarkannya ke pasukan Romawi.

Smithsonian Magazine menjelaskan bahwa wabah ini membunuh banyak masyarakat Romawi di setiap tingkat sosial masyarakatnya. Kaisar Marcus Aurelius, dipaksa untuk menjadikan budak dan gladiator sebagai prajurit Romawi, dan dia mengangkat banyak rakyat jelata dan bahkan budak ke peringkat aristokrat agar pemerintahnya tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Pada tahun 180 M, Marcus Aurelius sendiri meninggal karena wabah. Wabah itu mengakhiri rangkaian kaisar yang kuat dan cakap dan mengangkat putra Aurelius, Commodus, ke takhta. Seperti yang dijelaskan oleh Britannica, pemerintahan Commodus membawa bencana dan ketidakstabilan Kekaisaran Romawi yang disebut sebagai Krisis Abad Ketiga, yang mengubah Roma menjadi kediktatoran militer.

Baca Juga: Perlu Diluruskan, 7 Miskonsepsi Pandemik Flu Spanyol 1918

6. Wabah Cyprian membawa bangsa Saxon ke sejarah Inggris 

Black Death hingga Demam Kuning, 11 Wabah yang Mengubah Sejarah DuniaIlustrasi Anglo-Saxon dalam Costumes of All Nations (1882). (commons.wikimedia.org/Albert Kretschmer)

Wabah Cypria berasal dari Ethiopia sekitar tahun 250 M. Wabah ini dengan cepat menyebar melalui Afrika ke Roma, dan kemudian menjadi pandemi jarak jauh selama beberapa abad berikutnya.

Pada pertengahan abad ke-5, wabah ini sampai ke Kepulauan Inggris, di mana Romawi berjuang untuk mempertahankan kekuasaannya di wilayah selatan melawan tekanan konstan dari Picts dan Skotlandia di utara.

Seperti yang dijelaskan oleh Farmerville Gazette, ketika wabah mulai menghancurkan pasukan Romawi, mereka merekrut bangsa Saxon, suku Jermanik yang pernah menjadi musuh Roma. Saxon diterjunkan untuk melawan suku-suku utara, dan ini membentuk inti dari apa yang akan menjadi Inggris Anglo-Saxon setelah Romawi dipaksa untuk meninggalkan daerah tersebut. Mereka akan memerintah Inggris sampai 1066, ketika Normandia menyerbu dan menaklukkannya.

7. Wabah cacar menghancurkan peradaban suku Aztec 

Black Death hingga Demam Kuning, 11 Wabah yang Mengubah Sejarah DuniaPenaklukan Spanyol atas Kekaisaran Aztec oleh Hernán Cortés pada Juni 1520 yang diilustrasikan dan dilukis oleh Emanuel Leutze. (commons.wikimedia.org/Wadsworth Atheneum Museum of Art)

Pada abad ke-16, penjajah Spanyol membawa penyakit cacar ke dalam kerajaan Aztec yang berkembang pesat pada saat itu. Penyakit menular tersebut menghancurkan suku Aztec hingga mereka tidak dapat melawan Spanyol, meskipun faktanya Spanyol hanya memiliki sekitar 1.000 orang.

Seperti yang dijelaskan oleh Past Medical History, hubungan antara kedua kerajaan itu terjalin baik pada tahun 1517, tetapi dua tahun kemudian Spanyol memulai penaklukan, dan pada Agustus 1521, ibu kota Aztec hilang.

Beberapa dekade kemudian, cacar telah membunuh sekitar 90 persen dari populasi Aztec. Tidak dimungkiri bahwa penyakit itu adalah salah satu alasan utama mengapa suku Aztec menyerah sepenuhnya kepada Spanyol.

8. HIV/AIDS menjadi pandemi modern

Black Death hingga Demam Kuning, 11 Wabah yang Mengubah Sejarah Duniailustrasi demo kesejahteraan manusia (unsplash.com/Ian Taylor)

HIV dan AIDS merupakan penyakit yang telah merenggut lebih dari 34 juta nyawa selama beberapa dekade terakhir. Saat ini, lebih dari 37 juta orang hidup dengan mengidap HIV, dan masih belum ada obatnya.

Seperti yang dilaporkan oleh Globe and Mail, pandemi AIDS awalnya secara tidak proporsional menjangkiti homoseksual, dan akibatnya sering diabaikan atau tidak diprioritaskan oleh institusi perawatan kesehatan.

CNN menjelaskan bahwa kurangnya respons terhadap pandemi AIDS dan ketidakadilan terhadap komunitas LGBTQ+ membuat banyak orang marah, yang mengilhami mereka untuk menjadi aktivis. Sebelum pandemi AIDS, misalnya, tidak banyak organisasi nasional untuk orang-orang LGBTQ+, tetapi banyak organisasi muncul setelah penyakit tersebut.

9. Pandemi kolera ketiga membuat terobosan dalam kesehatan 

Black Death hingga Demam Kuning, 11 Wabah yang Mengubah Sejarah DuniaPasien yang menderita kolera di Jura selama epidemi 1854, dengan Dr. Gachet yang merawat mereka. (commons.wikimedia.org/Iconographic Collections/Paul-Ferdinand Gachet)

Kolera telah ada sejak lama, tetapi menjadi terkenal secara global pada awal abad ke-19 di India, tempat pandemi pertama. Penyakit ini datang dan pergi selama bertahun-tahun, dan pandemi ketiga melanda pada tahun 1851. Sampai saat itu, penyakit kolera masih misterius—tidak ada yang tahu persis bagaimana penyakit itu ditularkan atau apa penyebabnya.

Namun, seperti yang dijelaskan oleh History of Vaccines, pandemi kolera ketiga memberikan beberapa wawasan penting. Pada tahun 1854, saat pendemi ini menyerang seluruh dunia, dokter Italia Filippo Pacini memeriksa usus para korban dan menemukan bahwa usus tersebut dipenuhi dengan partikel tidak biasa.

Pacini membuat beberapa kesimpulan yang benar berdasarkan penelitiannya, termasuk bagaimana kolera membuat penderita kehilangan cairan dan elektrolit dalam skala besar. Dia menyarankan agar pasien kolera di infus dengan air dan garam.

Pada saat yang hampir bersamaan, seorang dokter London bernama John Snow menemukan sumber wabah kolera, yakni di pompa air umum. Terobosan ini mengubah cara kita menghadapi pandemi dan berkontribusi pada pemahaman modern tentang kolera dan penularan penyakit.

10. Rinderpest, mengubah jalannya sejarah Afrika

Black Death hingga Demam Kuning, 11 Wabah yang Mengubah Sejarah DuniaWabah Rinderpest di Afrika Selatan, 1896. (commons.wikimedia.org/kaʁstn)

Rinderpest adalah penyakit yang menyerang sapi dan hewan lainnya termasuk kerbau, babi, dan jerapah. Penyakit ini mempengaruhi manusia secara tidak langsung. Seperti yang dijelaskan oleh New York Times, jenis rinderpest tertentu (yang secara harfiah berarti "wabah ternak") dapat membunuh 95 persen kawanan hewan dalam waktu yang sangat singkat.

Pada akhir abad ke-19, rinderpest mengoyak Afrika, mulai dari utara benua dan mencapai Afrika Selatan hanya dalam 10 tahun. Banyak negara di Afrika pada saat itu mengandalkan ternak untuk bahan makanan dan perekonomian mereka. Akibatnya, ekonomi Afrika hampir runtuh, dan epidemi dianggap sebagai salah satu faktor yang mendorong bangsa Boer untuk berperang dengan Inggris.

Kehancuran itu membuat Afrika terlalu lemah untuk melawan ambisi kolonial Eropa. Keruntuhannya mengakibatkan banyak negara di Afrika mudah direbut oleh kekuatan Eropa.

11. Demam kuning di Haiti memberikan kemenangan bagi penduduk Haiti 

Black Death hingga Demam Kuning, 11 Wabah yang Mengubah Sejarah DuniaPatung Toussaint Louverture (1743-1803) oleh seniman Dominique Dennery (2017) di Taman Toussaint-Louverture, Montreal. (commons.wikimedia.org/Coastal Elite)

Pemberontakan budak dan perang yang menjadikan Haiti sebagai negara merdeka pertama di Amerika Latin tercetus karena keberanian dan kecerdasan penduduk Haiti itu sendiri, terutama para pemimpin seperti Toussaint Louverture, tetapi mereka terbantu berkat epidemi demam kuning.

Napoleon Prancis telah menguasai pulau itu dari Inggris pada akhir 1790-an. Melansir tulisan Montana State University, ketika Louverture memimpin pemberontakan budak terbesar dalam sejarah dan menjadi penguasa di pulau itu, Napoleon mengirim 20.000 tentara yang dianggap sebagai yang terbaik di dunia pada saat itu. Prancis dengan cepat mengalahkan para pemberontak, dan yakin mereka akan menenangkan pulau itu secara utuh. Sayangnya, kenyataannya berbeda. 

Penduduk asli Haiti terbiasa dengan demam kuning, sedangkan orang Prancis tidak. Sekitar 80 persen pasukan Prancis meninggal karena demam kuning, memaksa Napoleon meninggalkan pulau itu. Ini yang membuatnya untuk melepaskan ambisinya di Amerika, yang mengarah pada penjualan Louisiana ke Amerika Serikat, sebuah langkah signifikan untuk menjadikan AS kekuatan global.

Pandemi membawa perubahan baru dalam tatanan kehidupan masyarakat. Jadi bukan COVID-19 saja, tetapi pandemi-pandemi di masa lalu juga memberikan perubahan yang signifikan pada jalannya sejarah dan peradaban.

Baca Juga: 7 Fakta Pertempuran Antietam, Hari Paling Kelam dalam Sejarah Amerika

Amelia Solekha Photo Verified Writer Amelia Solekha

Write to communicate. https://linktr.ee/ameliasolekha

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Izza Namira

Berita Terkini Lainnya