Comscore Tracker

Tak Mudah, Ini 'Kelumpuhan' yang Dialami Para Korban Pelecehan Seksual

Hati-hati jika mengomentari korban pelecehan seksual, ya!

Banyak orang berpikir bahwa jika terjadi penyerangan seksual, korban (harusnya) akan melawan. Namun sebuah studi baru dari Swedia menemukan bahwa, dalam sebuah serangan, umum bagi korban untuk mengalami reaksi bawaan dan defensif yang membuat mereka lumpuh.

Jadinya seperti gak berbuat apa-apa dan terkesan "mau" padahal ada hal kompleks yang banyak orang gak tahu. Berikut penjelasan ilmiahnya!

1. Reaksi orang ketika sedang terserang secara seksual umumnya dikenal dengan nama "imobilitas tonik"

Tak Mudah, Ini 'Kelumpuhan' yang Dialami Para Korban Pelecehan Seksualmochimag.com

Menurut penelitian ini, respons fisiologis yang terjadi itu, yang disebut "imobilitas tonik", normal terjadi pada ketakutan yang ekstrem dan terjadi tanpa disengaja saat terjadi serangan. Pada golongan hewan, reaksi ini cenderung dikenal sebagai "bermain mati."

2. Di dunia hewan, imobilitas tonik adalah taktik bertahan hidup

Tak Mudah, Ini 'Kelumpuhan' yang Dialami Para Korban Pelecehan Seksualcom.au

Jika seekor hewan tampak mati, pemangsa kemungkinan gak akan menyerang, menurut penulis utama studi Dr. Anna Möller, seorang OB-GYN di Rumah Sakit Umum Stockholm di Swedia. Namun selama terjadi penyerangan seksual, reaksi ini gak lantas membuat penyerang menghentikan serangan tersebut.

Baca juga: 3 Tipe Orang Ini Secara Ilmiah Paling Besar Kemungkinan Selingkuh

3. Imobilitas tonik terjadi pada 7 dari 10 korban serangan seksual

Tak Mudah, Ini 'Kelumpuhan' yang Dialami Para Korban Pelecehan Seksualrabble.ca

Para peneliti menulis bahwa seseorang gak dapat bergerak, mungkin gak dapat berbicara dan gak responsif. Möller kepada Live Science bahwa awalnya, ketika seseorang diserang, sistem saraf simpatik, yang bertanggung jawab atas respons fight-or-flight jadi diaktifkan.

Tak Mudah, Ini 'Kelumpuhan' yang Dialami Para Korban Pelecehan Seksualaskmen.com

Nah, imobilitas tonik adalah hasil dari respons tubuh selanjutnya. Ini terjadi ketika sistem saraf parasimpatis mulai diaktifkan, yang bertindak sebagai penyeimbang sistem saraf simpatik. Proses tersebut akan mencegah gerakan otot.

4. Penelitian imobilitas tonik ini bisa mengubah pandangan dan keputusan hukum pada kasus perkosaan. Ini awal yang baik!

Tak Mudah, Ini 'Kelumpuhan' yang Dialami Para Korban Pelecehan Seksualsnaderlawgroup.com

Hasil penelitian ini akan berguna baik dalam situasi hukum maupun dalam psikososial korban perkosaan. Karena selama ini pihak hukum menentukan bahwa kasus perkosaan akan ditutup, jika korban gak terbukti melakukan perlawanan balik atau pertahanan diri.

Padahal secara ilmiah perlawanan balik itu sangat susah. Sebuah studi tahun 2002 dari Florida menyatakan bahwa penyerang lebih mungkin untuk diadili, jika korban menunjukkan tanda-tanda trauma. Sayangnya, tidak semua orang bisa menunjukkan tanda-tanda trauma secara gamblang.

Temuan tambahan soal imobilitas tonik ini dipublikasikan pada tanggal 7 Juni 2017 di jurnal Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica.

Tak Mudah, Ini 'Kelumpuhan' yang Dialami Para Korban Pelecehan Seksualthehour.com

Sebanyak 70 persen wanita yang mengalami serangan seksual dilaporkan mengalami imobilitas tonik ini dan 48 persennya dalam taraf ekstrem. Efek imobilitas teknik juga gak main-main. Jika mengalaminya maka, korban 2 kali lebih rentan terkena PTSD setidaknya 6 bulan setelah serangan dan 3-4 kali lebih rentan alami depresi berat. Risiko imobilitas tonik meningkat drastis untuk wanita yang baru saja minum alkohol.

Tak Mudah, Ini 'Kelumpuhan' yang Dialami Para Korban Pelecehan Seksualsalt1065.com

Jadi, berhati-hati dan jaga diri ya, minimal jauhkan diri dari kondisi berisiko terjadi serangan seksual. Dan untuk kamu yang belum pernah mengalami, jangan sembarangan mengomentari korban ya, karena situasi saat kejadiannya tak selalu seperti yang kamu bayangkan. Buat rasa aman kepada orang sekitar atau terdekatmu yang menjadi korban pelecehan seksual, tanpa banyak bertanya, mengomentari apalagi menghakimi.

Baca Juga: Suka Melamun? Riset Ilmiah Ini Punya Kabar Baik Untukmu!

Topic:

  • Bayu D. Wicaksono

Berita Terkini Lainnya