Comscore Tracker

Kerap Jadi Santapan Khas Imlek, 6 Fakta Ikan Hiu Ini Wajib Kamu Tahu

Makan hiu bisa bikin sehat. Mitos atau fakta?

Perayaan imlek telah tiba. Banyak warga etnis Tionghoa yang menghias rumah serta tempat ibadah. Seperti biasa, segala pernak-pernik imlek didominasi oleh warna merah. Dirayakan dengan penuh khidmat seperti keyakinan yang lainnya, sayang ada kebiasaan yang akan lebih baik jika dihentikan.

Adapun kebiasaan itu adalah mengonsumsi ikan hiu. Kegiatan yang marak terjadi adalah olahan sup sirip ikan hiu. Konon, sirip ikan hiu dapat menghaluskan kulit, meningkatkan gairah seksual dan beberapa manfaat lain untuk kesehatan. Padahal hasil penelitian tidak menyebutkan hal demikian. Justru kebalikannya. Berikut penjelasan selengkapnya.

1. Hiu memiliki peran penting di ekosistem lautan sebagai predator tingkat atas

Kerap Jadi Santapan Khas Imlek, 6 Fakta Ikan Hiu Ini Wajib Kamu TahuWWF/Cheryl-Samantha Owen

Masyarakat awam hanya akan berpikir bahwa hiu adalah ikan ganas yang hidup di lautan lepas. Faktanya tidak demikian. Deretan gigi taring tajam kerap membuat mereka terlihat ganas. Namun, peran mereka di ekosistem lautan bukan sekadar untuk membunuh.

Sebagai predator tingkat atas, hiu berperan untuk menjaga keseimbangan ekosistem lautan. Mereka juga memastikan terkendalinya populasi ikan. Termasuk keseimbangan ekosistem dengan memakan hewan yang sakit. Barangkali benar mereka memang pemburu, tapi tidak asal membunuh.

2. 50 persen dari total jenis hiu di Indonesia masuk daftar merah IUCN

Kerap Jadi Santapan Khas Imlek, 6 Fakta Ikan Hiu Ini Wajib Kamu TahuConservation International Indonesia via mongabay.co.id

Memiliki peran sepenting itu, sayangnya masih banyak masyarakat yang belum sadar akan hal tersebut. Menurut The International Union for Conservation of Nature (IUCN), dari 118 jenis hiu yang ada di Indonesia sekitar 50 persen masuk dalam daftar merah. Mayoritas masuk dalam status hampir terancam punah, sedangkan beberapa di antaranya termasuk langka dan sangat terancam.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan mengeluarkan peraturan untuk melindungi beberapa spesies hiu, yaitu Hiu Paus (Rhincodon typus) yang dilindungi secara penuh serta Hiu Martil (keluarga Sphymidae) dan Hiu Koboi (Carcharhinus longimanus) yang mendapatkan perlindungan terbatas.

Kegiatan ekspor komoditas yang berasal dari spesies-spesies tersebut tidak diperbolehkan. Selain itu, kini tidak diperbolehkan lagi adanya praktik shark finning, dengan kata lain hiu harus didaratkan dalam keadaan utuh.

Baca Juga: #ImlekBebasHiu: Menyuarakan Semangat Konservasi Hiu yang Menyenangkan

3. Permintaan sirip bayi hiu terus meningkat seiring mitos yang beredar

Kerap Jadi Santapan Khas Imlek, 6 Fakta Ikan Hiu Ini Wajib Kamu TahuWWF/Jeff Rotman

Permintaan pasar menjadi alasan adanya perburuan liar. Faktor utama yang mengancam kehidupan hiu menuju kepunahan. Meski masih didominasi dengan perdagangan sirip hiu, tak pelak bagian tubuh lain juga jadi incaran. Hal ini dipicu oleh mitos yang beredar.

Melalui mongabay.co.id, Aji Bromokusumo, seorang pakar kuliner dan budaya dari Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia, menjelaskan bahwa masyarakat Tionghoa meyakini sirip hiu memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan.

Contohnya seperti meningkatkan kesehatan kulit, gairah seksual, menambah energi, mencegah penyakit jantung serta menurunkan kolesterol. Faktanya itu semua hanyalah mitos belaka.

4. Berbagai penelitian mengungkap ancaman racun yang tersimpan pada hiu

Kerap Jadi Santapan Khas Imlek, 6 Fakta Ikan Hiu Ini Wajib Kamu TahuFlickr/Vicky Chu

Alih-alih miliki berbagai manfaat seperti mitos yang tersebar, mengonsumsi ikan hiu justru berdampak buruk untuk kesehatan. Dilansir melalui wwf.or.id, Food and Drug Administration (FDA), sebuah lembaga kesehatan Amerika Serikat, mengungkap sebuah fakta. Bahwa satu dari tiga sirip hiu yang telah diteliti ternyata mengandung tingkat merkuri yang melebihi ambang batas aman untuk dikonsumsi.

Lebih lanjut, BPOM juga menjelaskan kandungan merkuri dalam ikan hiu mencapai 1-4 ppm, melebihi batas toleransi tubuh manusia, yaitu 0,5 ppm. Kontaminasi merkuri dapat mengakibatkan kerusakan pada sistem saraf pusat, ginjal dan hati.

5. Beberapa publik figur mulai ikut menyuarakan untuk stop konsumsi ikan hiu

Kerap Jadi Santapan Khas Imlek, 6 Fakta Ikan Hiu Ini Wajib Kamu Tahuinstagram.com/wwf_id

Olga Lidya melalui kampanye WWF Indonesia #SOSharks dengan tegas menolak konsumsi hiu. “Saya sih ogah ya kalau disuruh makan ikan hiu. Soalnya dia kan ada di puncak piramida makanan. Dimana ikan-ikan kecil itu dimakan ikan lebih besar, lebih besar dan berakhir di hiu. Sehingga akhirnya semua merkuri itu berkumpul deh di tubuh hiu,” jelasnya.

Mengakumulasi banyak polutan, mitos jika dibilang daging ikan hiu menyehatkan. Faktanya justru tidak baik untuk kesehatan. “Buat saya sehat itu mahal. Daripada makan ikan hiu yang mengandung merkuri mendingan menyelam terus kita foto mereka,” saran Olga kemudian.

Selain Olga, beberapa publik figur lain seperti VJ Daniel, Kaka Slank, Nadine Chandrawinata, Nugie dan masih banyak figur lainnya juga ikut menyuarakan untuk melestarikan hiu.

6. Bukan di meja makan, hiu miliki nilai ekonomi lebih besar jika hidup bebas di lautan

Kerap Jadi Santapan Khas Imlek, 6 Fakta Ikan Hiu Ini Wajib Kamu TahuWWF Global

Banyak oknum tertentu yang berdalih bahwa perburuan hiu memiliki nilai jual yang besar. Mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tergantung dimana tempat hiu tersebut dijual. Akan tetapi, hiu justru bernilai lebih besar jika dibiarkan hidup bebas di lautan.

Sebuah penelitian tentang Analisis Dampak Ekonomi wisata Hiu Paus di Gorontalo mencatat bahwa sekelompok unit usaha diperkirakan memperoleh setidaknya 90 juta rupiah dalam kurun waktu seminggu. Coba bandingkan dengan olahan hiu yang hanya dapat dinikmati di meja makan.

Bukan meningkatkan status sosial atau menunjukkan kemampuan secara finansial, tetap mengonsumsi hiu berarti kamu ikut andil dalam memburu hewan dengan cara keji. Tidak hanya itu, tindakanmu juga mengancam keberlangsungan hidup di lautan yang akhirnya berdampak pada hidupmu juga. Jadi gimana? Mau stop atau ikut punah secara perlahan?

Baca Juga: Hiu Gak Selalu Memangsa Manusia, Simak 7 Fakta Tentang Ikan Besar Ini!

Chalimatus Sa'diyah Photo Community Writer Chalimatus Sa'diyah

We only live once. Makes it worth and useful! Don't forget to be yourself. If you love content, then you can find out more about my stories here : www.instagram.com/diyah.dii_

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You