Comscore Tracker

5 Studi dan Penelitian Psikologi Paling Kontroversial di Dunia

Dianggap tidak manusiawi

Dunia sains terus berkembang beriringan dengan begitu banyaknya studi, eksperimen, dan penelitian yang pernah dilakukan oleh ilmuwan di seluruh dunia. Nah, salah satu studi dan eksperimen yang cukup menarik untuk dilakukan adalah mengenai mental dan psikologis manusia.

Sayangnya, beberapa dari penelitian tersebut dianggap kontroversial karena sangat berisiko, berbahaya, dan bahkan tidak manusiawi. Berikut lima studi dan eksperimen psikologi kontroversial yang pernah dilakukan. Simak, ya!

1. Studi Monster

5 Studi dan Penelitian Psikologi Paling Kontroversial di DuniaAnak-anak yatim piatu yang menjadi bahan eksperimen Studi Monster pada 1939. (emaze.com)

Dilansir dalam laman Spring PsyBlog, pada 1939, seorang ilmuwan sekaligus ahli psikologi bernama Wendell Johnson pernah melakukan studi kontroversial di Iowa, Amerika Serikat. Studi dan eksperimen tersebut melibatkan puluhan anak yatim piatu yang dijadikan subjek penelitian psikologi.

Anak-anak tadi dipisah dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah anak-anak yang diberikan sugesti dan perkataan positif. Sementara itu, kelompok kedua merupakan anak-anak yang diberikan sugesti negatif, kata-kata kasar, dan perilaku menyimpang. Tujuan dari studi ini adalah menemukan kesimpulan ilmiah mengenai perilaku dasar manusia, termasuk di dalamnya kegagapan bicara, tindakan menyimpang, dan lain sebagainya.

Bagaimana hasilnya? Kelompok pertama memunculkan anak-anak dengan perilaku normal dan perkataan yang bermoral. Lalu, kelompok kedua memunculkan kondisi sebaliknya. Anak-anak pada kelompok kedua cenderung rendah diri, brutal, gagap, cemas, dan bahkan menarik diri dari lingkungan sosial. Itu sebabnya, anak-anak pada kelompok kedua ini dianggap sebagai monster karena perilaku menyimpang mereka muncul akibat studi-studi negatif.

2. Eksperimen MK Ultra

5 Studi dan Penelitian Psikologi Paling Kontroversial di DuniaEksperimen MK Ultra yang pernah dilakukan pada 1953. (deadline.com)

MK Ultra merupakan sebuah eksperimen, studi, dan proyek ilmiah yang pernah dilakukan oleh sebuah agensi Amerika Serikat. Laman History menulis bahwa Badan Intelijen Amerika (CIA) pernah melakukan studi yang sangat kontroversial pada 1953 hingga 1973 dengan ratusan subjek penelitian. Awalnya, program ini dijalankan secara rahasia sebelum akhirnya terungkap pada era 1970-an.

Tujuan dari eksperimen ini adalah menciptakan sistem pengendalian pikiran dengan obat-obatan kimia bernama lysergic acid diethylamide (LSD). Selain itu, eksperimen MK Ultra juga melibatkan sistem terapi kejut listrik, hipnosis, dan implan radiologis. Pemberian LSD awal mulanya hanya dilakukan pada pasien gangguan jiwa. Namun, beberapa catatan juga menyatakan bahwa warga sipil pun juga terlibat dalam pemberian LSD.

Bagaimana hasilnya? Buruk. Sebagian besar subjek eksperimen berperilaku depresif dan mengalami halusinasi parah. Bahkan, seorang ilmuwan dari Angkatan Darat AS yang bernama Frank Olson juga menjadi korban dari penelitiannya sendiri. Ia dijebak dan diberikan LSD oleh agen CIA. Hasilnya, Olson tewas akibat jatuh dari lantai 10 apartemennya. Tak jelas apakah ia bunuh diri atau mati akibat dibunuh.

Baca Juga: Memakan Ribuan Korban! Ini 7 Eksperimen Sains yang Paling Berbahaya

3. Penelitian Penjara Stanford

5 Studi dan Penelitian Psikologi Paling Kontroversial di DuniaMahasiswa Universitas Stanford yang melibatkan diri dalam eksperimen Penjara Stanford pada 1971. (insidehighered.com)

Seorang psikolog bernama Philip Zimbardo dari Universitas Stanford pernah melakukan studi terkait psikologis manusia yang menggunakan mahasiswanya sendiri sebagai subjeknya. Eksperimen yang dilakukan pada 1971 ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku dan kondisi mental manusia jika mereka berada di penjara buatan yang kejam.

Sekadar informasi, seperti diberitakan dalam Simply Psychology, kondisi awal dari para mahasiswa tersebut sehat dan tidak pernah terlibat kriminalitas. Hanya dalam beberapa hari, mereka semua (termasuk yang memerankan sipir penjara) bisa sangat menjiwai dan bahkan para tahanan palsu tersebut mengalami tekanan mental yang berlebihan.

Mahasiswa yang ditugaskan sebagai sipir pun berlaku ofensif dan makin brutal terhadap para mahasiswa lainnya. Hal ini tidak direkayasa dan bahkan studi dihentikan karena sudah dianggap kelewat batas. Melalui eksperimen itu, Zimbardo menyimpulkan bahwa manusia normal akan menjadi jahat di saat kondisinya memaksa demikian.

4. Studi Albert

5 Studi dan Penelitian Psikologi Paling Kontroversial di DuniaBayi berusia sembilan bulan dijadikan bahan penelitian. (imaginaciontalento.com)

Eksperimen Albert adalah salah satu studi yang dianggap kejam dan mendapatkan begitu banyak kecaman setelah eksperimen tersebut terbongkar. Pada 1920, seorang ahli psikologi bernama Profesor John B. Watson telah melakukan eksperimen yang melibatkan bayi berusia sembilan bulan. Studi gila ini dilakukan untuk mendapatkan kesimpulan akhir bagaimana kondisi mental manusia akibat rasa takut.

Dilansir dalam Verywell Mind, eksperimen tersebut memberikan hasil bahwa rasa takut dan fobia merupakan sistem pertahanan otak sebagai akibat rangsangan dari luar tubuh. Albert kecil awalnya diberikan tikus dan hewan berbulu lainnya. Mulanya, ia tidak merespons apa-apa dan menganggap hewan-hewan tersebut adalah hal biasa. Namun, semua berubah ketika Albert diberikan rangsangan.

Rangsangan tersebut adalah suara keras, sikap menakut-nakuti, dan bahkan intimidasi yang dilakukan orang dewasa terhadap Albert yang belum genap berusia satu tahun. Hasilnya, Albert mengalami fobia parah terhadap hewan berbulu. Tragisnya, tidak ada pengobatan terhadap Albert dan ia tetap dalam kondisi fobia sampai akhirnya anak bernama asli Dorlas Merrite tersebut meninggal dunia pada usianya yang ke-6 akibat gangguan otak.

5. Percobaan Milgram

5 Studi dan Penelitian Psikologi Paling Kontroversial di DuniaPasien yang dijadikan subjek penelitian Milgram pada 1961. (newrepublic.com)

Pakar psikologi dari Universitas Yale pernah melakukan percobaan yang ia namakan Eksperimen Milgram. Secara mendasar, studi dan percobaan tersebut dilakukan untuk mendapatkan kesimpulan mengenai kepatuhan manusia secara mutlak terhadap manusia lainnya. Dilansir dalam Behavioral Scientist, eksperimen tersebut dilakukan pada 1961 oleh Profesor Stanley Migram.

Eksperimen ini didasarkan pada eksperimen sama yang sebelumnya dilakukan oleh Adolf Eichmann, seorang Nazi yang juga melakukan eksperimen kepatuhan terhadap para tahanan di penjara-penjara Nazi. Ya, pada era Perang Dunia, Nazi memang kerap melakukan eksperimen kontroversial terhadap para tahanannya.

Penelitian tersebut melibatkan pemberian kejutan listrik terhadap semua pesertanya, seolah berada dalam kondisi penyiksaan. Hasilnya, pada kejutan listrik sebesar 300 volt, mayoritas peserta akan meminta studi dihentikan. Namun, untuk tegangan listrik yang lebih tinggi, mayoritas peserta menjadi diam dan tidak menuruti perintah dari orang lain.

Meskipun sangat kontroversial, hasil dari studi ini menyimpulkan bahwa manusia tidak akan patuh pada orang lain meskipun berada dalam penyiksaan tertinggi. Sebaliknya, cara-cara persuasif tanpa melibatkan kekerasan justru akan membawa dampak lebih besar bagi kepatuhan banyak orang.

 

Penelitian dan eksperimen di atas memang dinilai kejam dan kontroversial. Namun, saat ini, eksperimen seperti itu sudah dilarang dan ilmuwan punya metode lain tanpa melibatkan penyiksaan manusia atau bahkan hewan. Semoga bisa menambah wawasan kamu, ya!

Baca Juga: Cerita Relawan RSLI Dampingi Pasien COVID-19 Hadapi Masalah Psikologi

Dahli Anggara Photo Verified Writer Dahli Anggara

Age quod agis...

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Atqo

Berita Terkini Lainnya