Comscore Tracker

Punah, Anggota Terakhir Suku Pedalaman Amazon Ditemukan Tidak Bernyawa

Satu-satunya anggota suku yang selamat dari genosida 

Menurut Survival International, hutan Amazon, Brazil, menjadi rumah bagi jutaan orang-orang pedalaman yang terbagi ke dalam ratusan suku. Beberapa di antara mereka mau berinteraksi dengan orang asing, sementara sebagian yang lain menutup diri dari akses dunia modern. Sehingga, tidak banyak suku yang berhasil diidentifikasi, setidaknya nama suku dan kehidupan mereka.

Pada Jumat lalu (26/8/2022), organisasi perlindungan suku pedalaman, Funai, dikejutkan dengan penemuan sesosok laki-laki suku pedalaman yang telah tidak bernyawa di dalam gubuknya. Mereka mengenali sosok lelaki ini. Dia dikenal dengan sebutan Man of the Hole.

Kematian lelaki ini cukup menampar para aktivis perlindungan hak suku pedalaman. Ini menjadi indikasi bahwa keberadaan mereka telah terancam. Dan, bisa jadi suku yang tidak diketahui namanya ini bukan menjadi yang terakhir, suku-suku lainnya bisa saja menyusul.

1. Selama 25 tahun hidup sendiri

Punah, Anggota Terakhir Suku Pedalaman Amazon Ditemukan Tidak Bernyawailustrasi gubuk (unsplash.com/Sebastian Goldberg)

Gubuknya tertata rapi, ada peralatan makan dan barang-barang khas suku pedalaman. Itu adalah gubuk nomor 53, menurut data dari tim Funai, dibangun dengan jerami, memiliki satu pintu dan terdapat lubang sedalam kurang lebih 2 meter. Di dalam gubuk itulah, terbaring si Man of the Hole. Tidak ada yang tahu namanya, bahasa ataupun sukunya.

Menurut seorang ahli suku dalam, Marcelos dos Santos, sebagaimana dikutip Smithsonian Magazine, dia terbaring di hammock (tempat tidur gantung) miliknya dan tubuhnya dipenuhi bulu-bulu burung. Menyiratkan bahwa dia telah menunggu kematiannya. Saat itu diperkirakan dia berusia 55-65 tahun.

Menurut petugas, laki-laki itu meninggal secara alami karena tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan maupun perkelahian. Namun demikian, mereka tetap membawa jasad laki-laki itu 1.000 mil jauhnya, dari daerah konservasi Tanaru di negara bagian Rondonia ke Brazil untuk uji forensik. 

2. Tidak ada yang tahu siapa namanya, etnisnya ataupun bahasanya

Punah, Anggota Terakhir Suku Pedalaman Amazon Ditemukan Tidak BernyawaSosok Man of the Hole yang berhasil tertangkap kamera. (independent.co.uk/Funai)

Tidak banyak yang tahu tentang suku dari Man of the Hole ini. Satu hal yang pasti, suku ini menjadi target pembantaian berdarah pada tahun 1970an. Dilansir Science Alert, tanpa perlindungan dari pemerintah, seluruh anggota suku diracuni dan dibunuh secara brutal. Imbasnya pada tahun 1990, anggota suku yang tersisa tinggal 7 orang.

Sayangnya, 6 orang diantaranya dibunuh oleh penambang ilegal pada tahun 1995. Sehingga, tinggal tersisa satu orang saja, dialah Man of the Hole. Butuh setahun bagi Funai menyadari bahwa masih ada satu anggota suku yang selamat. Saat itulah mulai tahun 1998, mereka terus memantau gerak-geriknya.

Fiona Watson, peneliti sekaligus direktur advokasi Survival International mengatakan, tidak bisa dibayangkan, kengerian apa saja yang telah dia saksikan ketika seluruh kelompoknya dibunuh. Menjadi satu-satunya yang selamat dan hidup seorang diri selama lebih dari 25 tahun, pasti sangat kesepian.

Sebetulnya, Funai sempat berupaya berinteraksi dengannya, namun dia selalu menghindar dan bersikap agresif. Trauma? Sangat mungkin. Berbagai upaya telah dilakukan untuk berkomunikasi, sampai akhirnya Funai memutuskan untuk membiarkannya sendiri. Mungkin itu yang dia butuhkan.

3. Pemilik peternakan dituduh sebagai dalang genosida 

Punah, Anggota Terakhir Suku Pedalaman Amazon Ditemukan Tidak Bernyawailustrasi pemilik peternakan di tengah ternak-ternaknya (unsplash.com/Phinehas Adams)

Mengutip Independent, pihak yang disalahkan atas kejadian ini adalah pemilik peternakan dan pertanian. Seorang jurnalis yang selalu mengikuti aktivitas tim Funai, Monte Reel menuliskan bahwa pemilik peternakan tersebut menyewa sejumlah orang untuk menembaki suku itu, dan menggilas rumah-rumah mereka dengan traktor.

Hal ini tidak lain adalah untuk membuka lahan dalam kepentingan ekspansi bisnis peternakan. Peristiwa tersebut terus berlanjut, bahkan si Man of the Hole yang tengah bertahan hidup sendirian juga terus berupaya dibunuh. Hal ini merujuk pada temuan dua selongsong peluru yang berada di sekitar teritorialnya pada tahun 2019. Namun, sekali lagi dia berhasil selamat.

"Pemilik peternakan sempat meminta kita sebuah solusi. Dia menginginkan orang-orang pedalaman tersebut dipindahkan ke tempat lain. Perkataan mereka semakin memperjelas bahwa mereka akan terus menembaki suku-suku tersebut jika menemukannya," ujar Jose Algayer, koordinator Funai.

4. Wilayah Tanaru, tanah dilindungi yang menjadi objek eksploitasi

Punah, Anggota Terakhir Suku Pedalaman Amazon Ditemukan Tidak Bernyawailustrasi eksploitasi alam (freepik.com/pch.vector)

Tanaru digambarkan sebagai pulau hutan kecil kurang lebih seluas 8.000 hektar di tengah lautan peternakan. Ya, Tanaru telah menjadi rumah bagi suku pedalaman yang saat ini eksistensinya sedang terancam. Setelah keberadaan Man of the Hole membuat khawatir organisasi Funai, tahun 2007 mereka resmi menjadikan Tanaru sebagai wilayah konservasi.

Di sisi lain, Tanaru yang berada di negara bagian Rondonia, berbatasan dengan Bolivia, menjadi dambaan bagi para pembalak hutan, penambang, petani dan peternak. Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan demi kepentingan bisnis mereka. 

5. Punahnya satu suku tak bernama ini mungkin bukan yang terakhir, akan ada suku lain yang menyusul

Punah, Anggota Terakhir Suku Pedalaman Amazon Ditemukan Tidak Bernyawailustrasi demonstrasi terhadap genosida (unsplash.com/Manny Becerra)

Mengutip Science Alert, sepanjang 2020 tercatat 182 kasus pembunuhan atau 61 persen peningkatan pembunuhan terhadap suku pedalaman dibandingkan tahun sebelumnya. Sebenarnya konstitusi negara Brazil telah memberikan hak dan perlindungan terhadap masyarakat adat atas tanah mereka.

Namun, sepertinya Presiden Brazil Jair Bolsonaro justru berbuat sebaliknya. Setelah terpilih pada 2019 lalu, pemimpin berusia 66 tahun itu berupaya membuka area konservasi  suku pedalaman dan daerah dilindungi lainnya untuk peternakan dan pertambangan. Situasi ini akan menggiring ke arah genosida terhadap suku lain yang lebih masif.

Dia juga bertanggungjawab terhadap lonjakan deforestasi tertinggi sejak 15 tahun terakhir, serta laporan terhadap suku pedalaman juga semakin banyak di era pemerintahannya. Jika  situasi ini terus berlanjut, kejadian serupa akan terus terulang hingga seluruh suku pedalaman musnah dan punah.

Kejadian yang terjadi di Brazil membuka mata kita bahwa, bukan hanya satwa liar yang terancam deforestasi, tapi juga suku adat pedalaman. Mereka adalah simbol budaya, kekuatan dan ketangguhan, tapi juga tragis akibat ketamakan manusia yang menyebut dirinya modern.

Baca Juga: 5 Fenomena Sosial yang Kerap Dialami oleh Masyarakat Pedalaman

Refalution Photo Verified Writer Refalution

"Tidak harus jadi hebat untuk memulai, tetapi mulailah untuk menjadi hebat." - Zig Ziglar

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Ane Hukrisna

Berita Terkini Lainnya