Comscore Tracker

5 Ilmuwan 'Gila' yang Melakukan Percobaan Pada Dirinya Sendiri

Sampai ada yang rela diisolasi di ruangan penuh muntahan!

Untuk menemukan vaksin atau membuktikan kebenaran dari sebuah teori, para ilmuwan harus melakukan berbagai macam percobaan. Bukan hanya untuk memastikan bahwa teori mereka benar, tapi juga memastikan bahwa apa yang mereka buat aman untuk digunakan.

Dilansir Healthline, biasanya untuk menguji sebuah penemuan para ilmuwan dibantu oleh sukarelawan. Namun nyatanya tidak semua ilmuwan begitu. Di masa lalu, ada banyak ilmuwan yang cukup nekat untuk melakukan uji coba pada dirinya sendiri hanya untuk memastikan teorinya. Siapa mereka?

1. Albert Hofmann 

5 Ilmuwan 'Gila' yang Melakukan Percobaan Pada Dirinya SendiriAlbert Hofmann (clarin.com)

Albert Hofmann adalah seorang ahli kimia asal Swiss sekaligus juga penemu LSD. Suatu hari di tahun 1938, ketika sedang bekerja di Laboratorium Sandoz di Basel, Hofmann secara tidak sengaja mencampur asam lisergat dari jamur ergot dengan zat dari tanaman obat squill. Awalnya dia menganggap campuran itu tidak berguna, dan membuangnya.

Lima tahun kemudian, Hofmann yang sedang mencari obat baru untuk psikiatri, memutuskan untuk mencampur dua bahan itu lagi. Ketika sedang bekerja, Hofmann tidak sengaja menelan campuran itu dan merasakan efek seperti gelisah, pusing, dan mabuk. Penasaran, dia pun kembali mencobanya dengan dosis sebanyak 25 miligram untuk mengetahui reaksi obat itu pada fikirannya.

Dalam perjalanan pulang menggunakan sepeda, Hofmann mengalami halusinasi dikejar-kejar penyihir. Hari ini, LSD adalah barang terlarang di banyak negara dan penggunaannya sebagai obat harus mendapatkan pengawasan ketat dari dokter. Pasalnya bukan cuma bisa menimbulkan halusinasi, LSD bahkan bisa menyebabkan kematian jika digunakan secara berlebihan.

2. Jonas Salk 

5 Ilmuwan 'Gila' yang Melakukan Percobaan Pada Dirinya SendiriJonas Salk (phila.gov)

Ketika wabah polio menyerang dunia, banyak ilmuwan berusaha membuat vaksinnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Jonas Salk, seorang peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Saint Pittsburg. Setelah bekerja keras, Dr. Salk berhasil menemukan vaksin yang dapat melumpuhkan serangan polio.

Sayang, dia bukan yang pertama. Sebelum Dr. Salk, beberapa peneliti lain sudah mendahuluinya, bahkan menguji coba vaksin buatan mereka pada sukarelawan yang kemudian berakhir dengan kematian. Kejadian itu nyatanya membuat orang takut untuk mengajukan diri sebagai sukarelawan. Tidak memiliki pilihan lain, Dr. Salk dan keluarganya memutuskan untuk menguji vaksin itu pada diri mereka sendiri.

Hasilnya? Antibodi seluruh keluarga Dr. Salk meningkat, dan mereka terlindung dari polio. Penemuan vaksin ini kemudian berhasil menurunkan angka kasus polio secara drastis hanya dalam waktu dua tahun. Yang luar biasa sekaligus mengharukan, Dr. Salk memutuskan untuk tidak mematenkan penemuannya itu dan memberikan vaksinnya secara gratis pada semua orang di dunia.

3. Barry Marshall 

5 Ilmuwan 'Gila' yang Melakukan Percobaan Pada Dirinya SendiriBarry Marshall (blackincbooks.com.au)

Pada tahun 1985, para dokter dan ahli medis percaya jika gaya hidup yang buruk menjadi satu-satunya penyebab utama dari penyakit maag. Namun pendapat yang berbeda justru diberikan oleh seorang dokter junior asal Australia bernama Barry Marshall.

Alih-alih menyalahkan gaya hidup, Barry dan salah satu rekannya percaya bahwa bakteri Helicobacter pylori adalah biang kerok dari berbagai penyakit lambung. Sayangnya proposal penelitiannya selalu ditolak oleh pihak rumah sakit. Karena rumah sakit menolak proposalnya dan tidak bisa meminta bantuan sukarelawan, Barry Marshall tidak memiliki pilihan lain selain menguji teorinya pada diri sendiri.

Diam-diam, Barry menelan cairan yang mengandung bakteri Helicobacter pylori. Tiga hari kemudian, Barry mengalami sejumlah gejala maag seperti mual, bau mulut, dan muntah. Biopsi yang dilakukan menunjukkan bahwa bakteri Helicobacter pylori sudah menginfeksi perutnya, dan dia diharuskan untuk mengkonsumsi antibiotik untuk mencegah infeksi. Kabar baiknya, setelah penderitaannya, pada tahun 2005 Barry Marshall dan rekannya mendapatkan Hadiah Nobel untuk bidang Fisiologi.

Baca Juga: Bikin Penasaran, Ini 5 Prediksi Ilmuwan tentang Bumi di Masa Depan

4. Stubbins Ffirth 

5 Ilmuwan 'Gila' yang Melakukan Percobaan Pada Dirinya SendiriStubbins Ffirth dan rekan-rekannya berdiskusi tentang yellow fever. (pbs.org)

Eksperimen biasanya identik dengan rasa sakit, tapi hal yang berbeda justru harus dialami Stubbins Ffirth, seorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir University of Pennsylvania tahun 1804. Stubbins yang kala itu sedang membuat tesis, memutuskan untuk meneliti epidemi wabah kuning yang pernah melanda dunia tahun 1793, termasuk mencari tahu tentang seberapa menular penyakit tersebut.

Untuk mengetahuinya, Stubbins kemudian melakukan serangkaian eksperimen pada dirinya sendiri. Mulai dari mengoleskan muntahan pasien ke luka di kulitnya, meneteskan muntahan ke kedua matanya, mengoleskan berbagai cairan seperti urin dan keringat pasien ke kulitnya, hingga yang paling parah adalah diisolasi di dalam ruangan yang penuh dengan muntahan pasien demam kuning.

Karena tidak kunjung merasa sakit, Stubbins mengambil kesimpulan bahwa penyakit ini sama sekali tidak menular, dan dia berhasil mendapatkan gelar doktornya. Belakangan baru diketahui, bahwa demam kuning bisa menular. Tidak melalui muntahan, melainkan melalui gigitan nyamuk.

5. David Pritchard 

5 Ilmuwan 'Gila' yang Melakukan Percobaan Pada Dirinya SendiriDavid Pritchard (abcnews.go.com)

Berawal dari penelitiannya di Papua Nugini dari tahun 1980, ahli imunologi-biologi dari University of Nottingham bernama David Pritchard menemukan bahwa parasit tertentu seperti cacing tambang Necator americanus dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada penderita alergi dan penyakit autoimun.

Untuk memastikannya, dia memutuskan untuk melakukan eksperimennya pada tahun 2004. Namun karena pengajuan eksperimen di universitas memiliki birokrasi yang berbelit-belit, David Pritchard memutuskan untuk melakukan eksperimen mandiri dengan cara menyuntikkan 50 cacing tambang ke kulitnya sendiri dan merasakan gatal-gatal. Meski harus mengalami rasa gatal, eksperimennya menunjukkan bahwa infeksi cacing tambang ringan memang dapat meningkatkan sedikit sistem kekebalan tubuh terhadap alergi.

Mengikuti jejaknya, para ahli mencoba melakukan eksperimen yang sama. Sayangnya, banyak peneliti mendapatkan hasil yang berbeda sehingga mereka sepakat bahwa cacing tambang bukanlah metode yang menjanjikan untuk menyembuhkan alergi.

Menemukan obat sebuah penyakit, atau membuktikan kebenaran sebuah teori memang bukan hal yang mudah. Selain membutuhkan ketelitian, dan proses yang panjang, tidak jarang para ilmuwan harus mengambil berbagai langkah berani, termasuk menjadikan dirinya sendiri sebagai tikus percobaan.

Baca Juga: Belum Terjawab, 9 Misteri Otak Manusia yang Bikin Bingung Para Ilmuwan

Siti Marliah Photo Verified Writer Siti Marliah

instagram.com/sayalia

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Agustin Fatimah

Berita Terkini Lainnya