Comscore Tracker

5 Fakta Pygmy Hog, Babi Kerdil yang Populasinya Sudah Langka

Sudah termasuk Endangered, namun masih diabaikan

Kita semua tahu bahwa babi merupakan hewan yang bisa memakan apa saja. Sifat mereka yang begitu rakus membuat mereka identik dengan sosok hewan yang sangat gemuk. Namun, tahukah kamu kalau tidak semua babi berbadan besar?

Yups, dari sekian banyaknya spesies babi, ada satu jenis yang memiliki tubuh mungil alias jauh lebih kecil dibandingkan babi pada umumnya. Mereka adalah Pygmy hog atau Porcula salvania. Sudah langka dan kerap diincar oleh predator yang berbahaya, kita simak lima fakta babi kerdil lewat ulasan berikut, yuk!

1. Mempunyai ukuran tubuh yang lebih mungil dibandingkan spesies babi lainnya

5 Fakta Pygmy Hog, Babi Kerdil yang Populasinya Sudah LangkaRelivearth.com

Seperti namanya, babi kerdil memiliki badan yang tergolong mungil untuk sekelas babi. Dijelaskan pada laman Animalia, mereka umumnya tumbuh dengan bobot yang hanya berkisar 6—11 kg, panjang tubuh 55—71 cm, dan tinggi sekitar 20—30 cm. Kulit mereka berwarna hitam kecoklatan, dan bulu di sekujur tubuh mereka juga berwarna gelap.

Ketika bayi, mereka dilahirkan dengan kulit berwarna merah muda keabu-abuan. Penampilan mereka itu juga dilengkapi dengan corak garis berwarna kekuningan. Saat dewasa, babi kerdil mulai mudah dibedakan, sebab yang berjenis kelamin jantan mempunyai taring atas di kedua sisi mulut.

2. Hanya ditemukan di Asia Selatan

5 Fakta Pygmy Hog, Babi Kerdil yang Populasinya Sudah LangkaRelivearth.com

Di Indonesia, kita mungkin tidak akan bisa menemui spesies babi yang satu ini. Hal itu dikarenakan Pygmy hog hanya bisa ditemukan di kawasan Asia Selatan. Mereka biasanya dapat dijumpai di Bhutan Selatan dan Assam, India. Mereka tinggal di habitat berupa padang rumput yang tinggi dan lebat.

3. Populasinya sudah sangat langka

5 Fakta Pygmy Hog, Babi Kerdil yang Populasinya Sudah LangkaPygmyhog.org

Berdasarkan daftar merah IUCN, babi kerdil sudah tergolong endangered. Hewan yang mempunyai sinonim nama Sus salvanius ini dulunya tersebar luas di daerah Himalaya. Sejak tahun 2008, mereka sudah langka. Bahkan, kontras sekali dengan populasi babi hutan atau Sus scrofa cristatus, kini populasi mereka kabarnya kurang dari 250 individu di alam. 

Penyebab dari kelangkaan mereka itu antara lain, rusaknya habitat asli yang berupa padang rumput karena merambahnya kegiatan manusia.

Baca Juga: Makan Babi Bahaya atau Gak? Waspadai Penyakit dari Daging Babi Ini!

4. Merupakan hewan diurnal dan omnivora

5 Fakta Pygmy Hog, Babi Kerdil yang Populasinya Sudah LangkaDowntoearth.org.in/Pygmy Hog Conservation Programme

Babi kerdil adalah hewan yang gemar beraktivitas di siang hari. Melansir dari Soft Schools, mereka bisa mencari makanan hingga lebih dari enam jam. Makanan mereka itu dapat berupa akar, umbi, biji-bijian, buah, rumput, serangga, telur, hingga berbagai jenis reptil kecil.

5. Dapat terancam oleh adanya predator yang berukuran lebih besar

5 Fakta Pygmy Hog, Babi Kerdil yang Populasinya Sudah LangkaEdgeofexistence.org/J.T. Johnsigh

Selain sudah langka karena hilangnya habitat asli, populasi babi kerdil pun makin menipis karena ancaman dari predator yang ganas. Ya, mereka dapat menjadi mangsa ular sanca atau karnivora yang berbadan lebih besar saat dewasa, sedangkan ketika masih muda, mereka dapat dijadikan santapan yang lezat bagi gagak atau kucing.

Untuk berlindung dari serangan predator tersebut, mereka akan menggali cekungan, lalu menutupinya dengan rumput hingga berbentuk seperti kubah.

Itu tadi lima fakta tentang Pygmy hog, si babi kerdil yang keberadaannya sudah langka. Pembiakannya masih kurang diperhatikan jika dibandingkan dengan hewan langka yang lain. Semoga, untuk kedepannya, pemerintah dan juga masyarakat lebih peka terhadap pentingnya melestarikan hewan ini.

Baca Juga: Yuk Coba Bikin Resep Babi Hong yang Mantul Abis!

Muna Waroh Photo Verified Writer Muna Waroh

Just a fangirl

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • erwanto

Berita Terkini Lainnya