Mengapa Ada Seseorang yang Anti-Vaksin? Inilah Sejarah di Baliknya!  

Jangan sampai kamu menjadi anti-vaksin, ya

Anti-vaksin merupakan sebuah paham di mana seseorang yang tidak percaya pada vaksin dan tidak mau divaksin. Dalam bahasa Inggris, paham ini disebut "anti-vaxxer". Seseorang yang mempunyai paham ini akan lebih sering dicap negatif daripada seseorang yang pro-vaksin.

Para pendukung anti-vaksin berpotensi membahayakan orang lain dengan pemahamannya. Mereka pun cenderung menyebarkan pemahamannya di mana pun kepada semua orang, baik di dunia nyata maupun media sosial.

Padahal, vaksin merupakan salah satu pencapaian yang luar biasa dalam dunia kesehatan abad ke-20. Jadi, apa saja yang melatarbelakangi mereka dengan pemahaman anti-vaksin? Yuk, simak list berikut sebagaimana dikutip dari Very Well Health dan The History of Vaccine!

1. Anti-vaksin pertama kali terjadi saat penolakan vaksin cacar air pada akhir abad ke-18 

Mengapa Ada Seseorang yang Anti-Vaksin? Inilah Sejarah di Baliknya!  smithsonianmag.com

Vaksin pertama kali ditemukan oleh Edward Jenner, seorang dokter asal Inggris, pada tahun 1796. Vaksin tersebut berupa vaksin cacar karena pandemi cacar sedang melanda seluruh dunia saat itu, sebagaimana dilansir dari laman History of Vaccines. Beliau membuat vaksin tersebut dari getah bening kulit sapi yang melepuh akibat terkena cacar.

Jika vaksin tersebut diinjeksikan ke dalam tubuh seorang anak, maka ia akan bebas dari penyakit cacar. Ide beliau merupakan pengobatan yang terbilang baru saat akhir abad ke-18 tersebut.

Akan tetapi, vaksin tersebut menimbulkan kontroversi dari berbagai kalangan saat itu. Hal inilah yang mendasari pemahaman anti-vaksin pertama di dunia.

Salah satu alasan penolakan tersebut adalah metode injeksi vaksin yang menimbulkan ketakutan bagi para orang tua. Mereka beranggapan bahwa penusukan di kulit lengan untuk memasukkan getah bening dari orang yang telah divaksinasi adalah sangat mengerikan.

Alasan anti-vaksin lainnya adalah vaksin menujukkan identitas "ketidakristenan" karena terbuat dari hewan. Ditambah lagi, kemanjuran vaksin pun dipertanyakan karena anggapan cacar yang disebabkan oleh zat yang membusuk di atmosfer.

2. Perluasan pemahaman anti-vaksin di Amerika Serikat pada abad ke-19 

Mengapa Ada Seseorang yang Anti-Vaksin? Inilah Sejarah di Baliknya!  wellcomecollection.org

Buntut dari pemahaman anti-vaksin adalah disahkannya Undang-Undang Vaksinasi pada tahun 1853 di Inggris. Para penganut anti-vaksin pun tidak terima akan undang-undang tersebut karena melanggar kebebasan pribadi untuk merawat tubuh. Lebih parah lagi, pemahaman ini meluas ke Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-19.

Untuk menyokong pemahaman anti-vaksin, The Anti-Vaccination Society of America didirikan pada tahun 1879. Ahli anti-vaksin terkemuka Inggris, William Tebb, mengunjungi Amerika Serikat untuk menyebarluaskan pemahamannya.

Beberapa tahun kemudian, dua organisasi anti-vaksin Amerika Setikat lainnya didirikan, yaitu The New England Anti Compulsory Vaccination League pada tahun 1882 dan The Anti-Vaccination League of New York City  pada tahun 1885. Ketiga organisasi tersebut melancarkan serangan agar pengadilan mencabut Undang-Undang Wajib Vaksinasi di beberapa negara bagian, termasuk California, Illinois, dan Wisconsin.

3. Penolakan vaksin Difteri, Tetanus, dan Pertusis pada abad ke-20 

Mengapa Ada Seseorang yang Anti-Vaksin? Inilah Sejarah di Baliknya!  who.int

Dunia kesehatan semakin maju pada abad ke-20 dengan terciptanya vaksin untuk mengatasi berbagai penyakit, salah satunya vaksin Difteri, Pertusis (batuk rejan), dan Tetanus (disingkat: DTP). Vaksin DTP diciptakan pada tahun 1948, sebagaimana dilansir dari situs Children Hospital of Philadelphia. Sama seperti vaksin cacar di abad sebelumnya, kemunculan vaksin ini juga menimbulkan reaksi anti-vaksin dari berbagai kalangan.

Anti-vaksin DTP bermula saat 36 orang anak menderita kelainan sistem saraf setelah diberi vaksin DTP pada tahun 1974. Tragedi yang terjadi di Inggris tersebut memberikan reaksi penolakan akan keamanan vaksin tersebut. Ditambah lagi dengan film dokumenter anti-vaksin "DTP: Vaccine Roulette" yang dirilis pada tahun 1982. Sumber pemahaman anti-vaksin tersebut menyebabkan tingkat imunisasi yang rendah pada masa itu.

Akan tetapi, pemahaman anti-vaksin dapat dibantah oleh riset Institute of Medicine (IOM) pada tahun 1991. Lembaga penelitian tersebut menyatakan bahwa tidak cukup bukti bahwa vaksin DTP dapat menyebabkan kelainan sistem saraf dan penyakit pada tubuh lainnya. Ditambah lagi, media massa gagal memperbaiki semua informasi yang salah pada film Vaccine Roulette tersebut.

4. Kontroversi vaksin Measles, Mumps, dan Rubella (MMR) pada akhir abad ke-20 

Mengapa Ada Seseorang yang Anti-Vaksin? Inilah Sejarah di Baliknya!  gov.uk

Anti-vaksin pada abad ke-20 terjadi saat penolakan vaksin Measles (campak), Mumps (gondongan), dan Rubella (disingkat: MMR). Vaksin MMR diciptakan pada tahun 1971 saat wabah campak menyerang Amerika Serikat beberapa tahun sebelumnya.

Tujuan mulia vaksin ini untuk mengendalikan wabah campak pun tak luput dari para penganut anti-vaksin. Hal tersebut dipicu oleh riset Dr. AJ Wakefield, seorang dokter asal Inggris, pada Jurnal The Lancet tahun 1998.

Riset tersebut menyatakan bahwa beberapa anak yang telah divaksinasi MMR mengalami autis dan penyakit pada perut (diare, perut kembung, dan intoleransi pada makanan). Tentu saja riset ini memacu ketakutan publik akan vaksin MMR.

Pembelaan terhadap keampuhan vaksin MMR menemui titik terang pada tahun 2011. Saat itu, British Medical Journal mengungkapkan bahwa Dr. Wakefield telah memalsukan data penelitian dan hanya mengharapkan keuntungan finansial. Lebih jauh lagi, penelitian terhadap keamanan vaksin MMR telah dilakukan dan hasilnya adalah tidak ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme.

Walaupun vaksin MMR pernah tersandung kontroversi, vaksin ini sudah mempunyai prestasi yang luar biasa, lho! Menurut Center Disease Control and Prevention USA, vaksin MMR dapat membuat wabah campak berangsur-angsur hilang mulai tahun 2000 di Amerika Serikat. Hal ini terjadi karena pelaksanaan vaksinasi MMR dan pengendalian campak yang sangat efektif di negara tersebut.

Baca Juga: Pengujian Vaksin Sinovac Tetap Berlanjut saat Vaksin AstraZeneca Terhenti

5. Masih berkembangnya pemahaman anti-vaksin terhadap vaksin Corona pada saat ini 

Mengapa Ada Seseorang yang Anti-Vaksin? Inilah Sejarah di Baliknya!  time.com

Sepanjang tahun 2020, pandemi COVID-19 telah merenggut ratusan ribu korban jiwa di seluruh dunia. Berbagai riset telah menyatakan bahwa vaksin COVID-19 dapat menghentikan pandemi tersebut.

Pengujian beberapa jenis vaksin COVID-19 secara klinis sedang dilakukan saat ini. Hal tersebut berguna supaya vaksin tersebut mempunyai keefektifan yang tinggi untuk menjinakkan virus COVID-19.

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi tidak serta merta membuat sebagian kecil masyarakat mendukung vaksinasi. Selalu saja ada kaum yang sangat menjengkelkan, yaitu kaum anti-vaksin. Dukungan terhadap mereka salah satunya didapatkan dari film dokumenter "Plandemic" yang dibuat oleh seorang filmmaker, Mikki Willis.

Dilansir dari Business Insider, film yang beredar pada tanggal 4 Mei 2020 tersebut menceritakan bahwa ahli kesehatan Amerika Serikat dan perusahaan vaksin telah menciptakan virus COVID-19 untuk mendapatkan keuntungan. Tentu saja film tersebut dibantah oleh para ilmuwan dan ditarik beredar di Facebook dan Youtube.

Selanjutnya, kaum anti-vaksin tidak akan mudah menyerah. Mereka akan terus menyebarkan pemahamannya melalui media sosial maupun di dunia nyata. Semakin seriusnya pemahaman ini, World Health Organization (WHO) telah mengklaim bahwa "anti-vaksin" merupakan salah satu dari 10 ancaman kesehatan global pada tahun 2019, sebagaimana dilansir dari Science Alert.

Nah, apakah uraian di atas mengatasi rasa penasaranmu tentang anti-vaksin? Jangan sampai kamu menjadi "anti-vaksin" yang merugikan dirimu dan orang lain.

Baca Juga: Vaksin Merah Putih vs Vaksin Sinovac, Apa Bedanya?

Nuraina Fika Lubis Photo Verified Writer Nuraina Fika Lubis

Writing is a skill that I want to have. I try harder to make an article that worth to read. I receive critics and suggestions to upgrade my writing skill. Hope you enjoy what I write. Sincerely, me.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topik:

  • Agustin Fatimah

Berita Terkini Lainnya