Comscore Tracker

5 Fenomena Mengerikan ini Siap Membumihanguskan Umat Manusia

#SainSeru NASA punya ide gila untuk mengebor ke dalam Bumi

Dahulu kala, tepatnya pada tahun 1883 silam, Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus secara mahadahsyat. Kekuatan erupsinya oleh para ahli disetarakan dengan 3000 bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki, Jepang pada tahun 1945.

Ketika Gunung Krakatau meletus, para ahli juga menyebutnya dengan suara paling keras yang pernah didengar di seantero jagat. Sebanyak 36 ribu orang dilaporkan tewas saat itu.

1. Bencana alam yang biasa terjadi tidak sebanding

5 Fenomena Mengerikan ini Siap Membumihanguskan Umat Manusiameisterdrucke.com

Sekarang bayangkan ada 50 Gunung Krakatau meletus secara bersamaan di satu lokasi yang sama. Ia akan memuntahkan lava dan suhu yang sedemikian panas hanya dalam beberapa menit. Jika gunung berapi pada umumnya, akan membutuhkan waktu beberapa tahun.

Seperti halnya manusia takut mengalami bencana seperti gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan dan amuk badai, pada kenyataannya hanya terdapat segelintir peristiwa alam yang bisa membumihanguskan peradaban manusia.

Salah satunya tentu sebongkah meteor yang menghantam Planet Bumi. Mau tahu satu peristiwa alam lain yang bisa menghapus eksistensi umat manusia dalam sekali insiden?

2. Letusan mahadahsyat yang bisa mengubah wajah dunia

5 Fenomena Mengerikan ini Siap Membumihanguskan Umat Manusiapixabay.com/Pexels

74 ribu tahun yang lalu, Pulau Sumatra menjadi saksi bisu bagaimana letusan Gunung Toba hampir menyapu bersih umat manusia dalam sekali amukan. Para ahli menyebut letusan Gunung Toba tersebut dengan sebutan Supereruption atau Supererupsi, dilansir dari Nationalgeographic.com.au dan Livescience.com.

Gunung Toba sendiri masuk kategori Supervolcano atau Supervulkan yaitu gunung berapi yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan erupsi yang kekuatannya lebih dari 1000 kilometer kubik.

Letusan mahadahsyat Gunung Toba ketika itu mengakibatkan salah satu musim dingin terpanjang dalam sejarah yaitu enam tahun. Debu vulkanik yang menghalangi panas matahari itu juga mengakibatkan penyusutan jumlah populasi manusia dan perubahan sebagian topografi Bumi. Dibutuhkan waktu 1000 tahun untuk kembali normal.

3. Ada 20 supervulkan yang aktif di seluruh dunia

https://www.youtube.com/embed/kAlawvE8lVw

Kalau satu supervulkan meletus bisa mengakibatkan dampak yang sedemikan besar, bagaimana kalau ada dua, tiga atau bahkan puluhan supervulkan yang meletus secara bersama.

Terkait hal itu, para ilmuwan telah mengidentifikasi sekitar 30-40 supervulkan yang ada di dunia. Dari jumlah itu, menurut National Geographic terdapat 20 supervulkan di antaranya diketahui berpotensi aktif.

Supervulkan yang terakhir meletus adalah Gunung Taupo di Selandia Baru pada 26 ribu tahun yang lalu. Sementara supervulkan yang terbesar yang pernah meledak adalah Gunung San Juan di Colorado, Amerika Serikat yang terjadi sekitar 28 juta tahun lalu.

Ketika itu, Gunung San Juan memuntahkan magma yang setara dengan 5000 kilometer kubik. Jumlah itu bisa menutupi Pulau Papua sebanyak empat kali!

4. Ancaman multi-supererupsi datang dari Yellowstone

https://www.youtube.com/embed/lMLo0E66O8A

Para ahli vulkanologi dan geologi belakangan ini memusatkan perhatian mereka raksasa yang tengah tertidur pulas di Taman Nasional Yellowstone, Amerika Serikat. Yellowstone Park merilis, di sana sempat terjadi tiga supererupsi dalam kurun waktu 2,1 juta tahun terakhir.

Akibatnya, terbentuklah tiga kaldera yang salah satunya memiliki lebar 45 km dengan panjang 75 km. Sebagai perbandingan, Danau Toba di Sumatra Utara itu sejatinya adalah kaldera dengan lebar 30 km dan panjang 99 km.

Para ahli sendiri telah memperkirakan frekuensi bencana alam supererupsi oleh supervulkan di seluruh dunia rata-rata terjadi setiap 100 ribu tahun sekali. Bencana supererupsi terakhir terjadi di kawasan Phlegrean Fields yang terletak di Teluk Napoli, Italia yang meletus pada 35 ribu tahun yang lalu.

5. Tidak ada yang bisa diperbuat

https://www.youtube.com/embed/wt_r5xO2JkA

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, satu supervulkan bisa menghasilkan supererupsi yang dapat meluluhlantakkan dunia. Bagaimana dengan tiga supererupsi seperti di Yellowstone, baik bersamaan maupun bergantian.

Saat ini, tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghindari bencana mahadahsyat supererupsi. Para ahli sendiri terus memantau gerak-gerik supervulkan seperti Yellowstone. Tanda-tanda jelang letusan semisal frekuensi gempa bumi, deformasi tanah, perubahan suhu dan lain sebagainya itu masih jauh dari akurat untuk menyimpulkan sebuah peringatan dini dari ancaman supererupsi oleh supervulkan.

Bahkan, seperti yang bisa kamu tonton di atas, NASA sendiri memiliki rencana untuk mengebor Yellowstone guna menyelematkan umat manusia. Caranya, mereka berniat membuat lubang ke dalam bumi dan mengalirinya dengan cairan dengan tujuan untuk mendinginkan inti magma supaya tidak meledak. Namun, banyak kalangan menilai langkah NASA itu sebagai ide gila dan berbahaya.

Terlepas dari upaya itu semua, semoga saja prediksi per 100 ribu tahun para ahli itu tepat ya guys. Dengan insiden amuk supererupsi terakhir terjadi pada 35 ribu tahun yang lalu, umat manusia masih memiliki waktu 65 ribu tahun lagi untuk bersiap menghadapi bencana alam paling mematikan yang pernah ada. Mungkin ketika itu terjadi, umat manusia sudah berhasil mengungsi ke planet lain.

Rangga Putra Photo Verified Writer Rangga Putra

Lahir di Kota Pahlawan Surabaya dan besar di Kota Santri Gresik. Suka Bismillah dan Alhamdulillah.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya