Comscore Tracker

7 Lagu Kebangsaan Ini Berasal dari Lagu Revolusioner, Apa Saja?

Ada Indonesia Raya juga lho!

Seiring dengan bendera dan lambang negara, lagu kebangsaan juga menjadi salah satu simbol inti dari suatu negara. Beberapa negara membuat lagu kebangsaan mereka di masa damai, sedangkan yang lain mengubah lagu pro pemberontakan menjadi lagu kebangsaan mereka.

Beberapa negara dengan lagu-lagu kebangsaan yang revolusioner ini diedit agar tidak terlalu kental akan nuansa konflik, sementara yang lain tetap mempertahankan lirik asli dan eksplisit dari lagu tersebut.

Berikut 7 lagu kebangsaan yang berasal dari lagu revolusioner.

1. Qassaman - Aljazair

https://www.youtube.com/embed/Jb1pDK83rzQ

Qassaman ("We Pledge" atau "The Pledge") mungkin menjadi lagu yang paling "ganas" dari semua lagu kebangsaan di dunia. Liriknya ditulis oleh seorang revolusionis, Moufdi Zakaria selama penahanannya di Penjara Serkaji-Barberousse, di mana ia dipenjara oleh penjajah Prancis.

Supaya penjajah Prancis tahu bahwa kaum revolusioner benar-benar menantang mereka, lirik dalam lagunya mengatakan:

Jadi kami telah mengambil suara bubuk mesiu sebagai ritme kami dan suara senapan mesin sebagai melodi kami.

Liriknya bahkan menyebut Prancis, tidak hanya sekali tetapi dua kali:

O Prancis! 
Masa lalu adalah masa palaver 
Kami menutupnya saat kami menutup buku 
O Prancis! 
Hari untuk menyelesaikannya telah tiba! 
Persiapkan dirimu! Ini jawaban kami! 
Putusan, Revolusi kita akan mengembalikannya.

Sesuai dengan lirik tersebut, orang-orang Aljazair berperang melawan Prancis dan menang. Mereka mengadopsi lagu itu sebagai lagu kebangsaan Aljazair ketika mereka merdeka pada 5 Juli 1962.

2. Deutschlandlied - Jerman

https://www.youtube.com/embed/cIff7EB7pvc

Deutschlandlied ("Song of Germany") awalnya hanyalah melodi yang secara khusus dibuat untuk Kaisar Austria, Franz I, pada tahun 1797. Pada tahun 1841, August Heinrich Hoffman von Fallersleben menambahkan lirik pada melodinya untuk membentuk dasar dari apa yang akan menjadi lagu kebangsaan Jerman.

Liriknya menyerukan penggabungan beberapa kerajaan di sekitar Kekaisaran Jerman untuk menjadi satu negara Jerman yang bersatu. Pada tahun 1840, setahun sebelum Hoffman von Fallersleben menulis lagu ini, Jerman mulai membentuk negara yang bersatu karena khawatir akan rencana Prancis yang ingin menyerang wilayah mereka.

Lagu ini selesai dibuat pada tahun 1841, dan revolusi menyebar ke seluruh kekaisaran Jerman pada tahun 1848. Deutschlandlied adalah salah satu simbol pemberontakan, yang sekarang dikenal sebagai Revolusi Maret 1848.

Lagu ini resmi menjadi lagu kebangsaan Jerman pada tahun 1922. Saat Hitler berkuasa, hanya lirik pertamanya, "Deutschland, Deutschland uber alles ("Jerman, Jerman di atas semuanya") yang digunakan, karena saat itu ia ingin menunjukkan superioritas bangsa Jerman di dunia.

Lagu ini tetap digunakan di Jerman Barat setelah Jerman terpecah menjadi dua setelah Perang Dunia II. Ketika kedua negara bersatu kembali pada tahun 1990, bait ketiganya diubah dan dijadikan simbol dari persatuan Jerman.

3. La Marseillaise - Prancis

https://www.youtube.com/embed/4K1q9Ntcr5g

La Marseillaise ditulis oleh seorang perwira dan musisi Prancis, Claude-Joseph Rouget de Lisle, pada malam 24 April 1792 selama Revolusi Prancis. Saat itu, walikota Strasbourg (kebetulan Strasbourg dijadikan markas oleh Rouget de Lisle saat itu) meminta seseorang untuk menulis lagu untuk tentaranya.

Rouget de Lisle menerima permintaan itu dan menulis Chant de guerre de l'armee du Rhin ("Song War of the Army of the Rhine").

Namun lagu itu lebih dikenal dengan nama La Marseillaise, yang kemudian menjadi nama resminya karena sering dinyanyikan oleh tentara dari Marseille. Dilansir dari Britannica, Prancis mulai mengadopsi lagu tersebut sebagai lagu kebangsaannya pada 14 Juli 1795.

Ketika Napoleon Bonaparte berkuasa, ia sempat melarang lagu ini karena liriknya yang revolusioner. Begitu juga dengan Raja Louis XVIII dan Napoleon III. La Marseillaise akhirnya boleh dinyanyikan kembali pada tahun 1879.

Seperti yang ditulis oleh Rouget de Lisle, lagu aslinya memiliki enam bait, tetapi dua bait lagi ditambahkan setelahnya. Namun hanya bait pertama dan keenam — yang berisi deskripsi perang — yang biasa dinyanyikan.

Lagu ini berisi seruan kepada warga Prancis untuk mengangkat senjata melawan tiran-tiran "biadab" yang ingin memotong tenggorokan mereka, kemudian memerintahkan mereka untuk membunuh para tiran sampai darah kotor mereka menyirami ladang di seluruh Prancis.

Uniknya, La Marseillaise juga turut mempengaruhi budaya Indonesia, sehingga ada kemiripan nada dengan lagu "Dari Sabang Sampai Merauke." Lalu, ada juga lagu All You Need Is Love dari The Beatles yang sama-sama mengadopsi nada pembukanya.

Baca Juga: Ini 4 Fakta Unik Atlet Irak yang Viral Nyanyi Indonesia Raya 

4. Lupang Hinirang - Filipina

https://www.youtube.com/embed/-FUBJY6nco0

Pada tanggal 11 Juni 1898, komposer Filipina, Julian Felipe, memainkan melodi yang nantinya akan digunakan untuk lagu kebangsaan Filipina. Dia memainkannya atas permintaan Jenderal Emilio Aguinaldo, yang menginginkan melodi "persatuan" untuk masyarakat Filipina dalam revolusi melawan Spanyol.

Lagu ini pertama kali ditampilkan untuk umum pada 12 Juni 1898, ketika Aguinaldo menyatakan Filipina sebagai negara merdeka. Felipe menyebut melodi ini dengan nama "The Marcha Filipina Magdalo," yang terinspirasi dari nama panggilan Aguinaldo dan nama pasukannya pada masa perang.

Revolusi tersebut berakhir saat Spanyol menyerahkan Filipina ke Amerika Serikat pada Desember 1898. Beberapa bulan kemudian, pada Februari 1899, Perang Filipina-Amerika pecah ketika Filipina berjuang untuk merdeka dari penjajah barunya.

Selama masa perang inilah Jose Palma, seorang prajurit Filipina, menambahkan lirik ke dalam melodi Felipe. Lagu itu dinyanyikan sepanjang perang sampai Aguinaldo ditangkap pada Maret 1901.

Amerika Serikat sempat melarang lagu itu, walau akhirnya menjadi lagu kebangsaan Filipina ketika mereka merdeka pada tahun 1946. Lagu itu dinamai Lupang Hinirang yang berarti "Tanah Terpilih."

5. Tien Quan Ca - Vietnam

https://www.youtube.com/embed/SceSkkRtC2s

Pada tahun 1944, Nguyen Van Cao menulis sebuah lagu berjudul "Tian Quan Ca" ("Marching Forward") untuk mendukung kemerdekaan Vietnam. Republik Demokratik Vietnam mendeklarasikan kemerdekaan setahun kemudian dan mengadopsi Tian Quan Ca sebagai lagu kebangsaannya.

Lagu kebangsaan itu berisi lirik yang mengancam, seperti "gemuruh senjata yang jauh melewati tubuh musuh kita" dan "terlalu lama kita menelan kebencian kita." Salah satu liriknya bahkan mengklarifikasi bahwa Vietnam siap untuk perang ("Jalan menuju kemuliaan dibangun di atas tubuh musuh kita").

Vietnam Utara terus menggunakan Tian Quan Ca setelah berpisah dari Vietnam Selatan, tetapi akhirnya menjadi lagu resmi Vietnam ketika kedua negara bersatu kembali. Majelis Nasional Vietnam sempat mengusulkan untuk mengubah lagu kebangsaan tersebut, tetapi menyerah setelah warga Vietnam menentang proposal tersebut.

Namun, Majelis Nasional Vietnam kembali mempertimbangkan untuk mengubah lagu kebangsaan tersebut. Legislator mendukung hal tersebut, dengan menyebut bahwa lirik Tian Quan Ca tidak lagi relevan, karena saat ini Vietnam tidak sedang berperang atau menuntut kemerdekaan.

6. Lagu kebangsaan Afrika Selatan

https://www.youtube.com/embed/Gr0414FrN7g

Lagu kebangsaan Afrika Selatan adalah hasil dari penggabungan dua lagu kebangsaan yang dimiliki Afrika Selatan di akhir masa apartheid. Dari tahun 1994 hingga 1997, dua lagu kebangsaan mereka adalah Nkosi Sikelel 'iAfrika ("God Bless Africa") dan Die Stem van Suid-Afrika ("The Call of South Africa").

Kedua lagu itu digabungkan pada tahun 1997 untuk membuat lagu kebangsaan Afrika Selatan. Liriknya menggunakan lima dari 11 bahasa resmi yang paling umum digunakan di Afrika Selatan, yaitu Xhosa, Zulu, Sesotho, Afrikaans, dan Inggris.

Nkosi Sikelel 'iAfrika adalah salah satu dari dua lagu kebangsaan yang menggambarkan pemberontakan. Lagu ini ditulis pada tahun 1897 oleh seorang guru sekolah, Enoch Sontonga. Awalnya lagu ini adalah nyanyian gereja, tetapi dijadikan sebagai lagu perlawanan selama rezim apartheid.

Di sisi lain, Die Stem van Suid-Afrika adalah sebuah puisi yang ditulis oleh CJ Langenhoven pada tahun 1918. Setelah ditambahkan musik beberapa tahun kemudian, lagu itu akhirnya menjadi lagu kebangsaan Afrika Selatan bersama dengan God Save the Queen milik Inggris Raya dari tahun 1936 hingga 1957.

Setelahnya, Die Stem van Suid-Afrika menjadi satu-satunya lagu kebangsaan Afrika Selatan sampai tahun 1994.

7. Indonesia Raya - Indonesia

https://www.youtube.com/embed/5rX1EF_VzeE

Indonesia Raya ditulis oleh Wage Rudolf Soepratman yang mempresentasikannya di Kongres Pemuda Kedua pada tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta. Lagu ini menyerukan penciptaan satu negara dari beberapa wilayah koloni yang saat itu masih bernama Hindia Belanda, yang berada di bawah kendali Belanda.

Seperti kekuatan kolonial lainnya pada masa itu, Belanda memakai kebijakan "divide and rule" — atau politik devide et impera (politik adu domba) — dan membagi wilayah Hindia Belanda dengan garis-garis etnis, yang secara tidak langsung membuat warga negara Indonesia saling bermusuhan.

Lagu ini berhasil mengilhami penciptaan gerakan nasionalis Indonesia untuk pertama kalinya. Belanda juga tidak pernah benar-benar melarang lagu ini dan membiarkan orang Indonesia menyanyikannya selama mereka mengganti beberapa baris yang berisi "merdeka, merdeka" dengan "mulia, mulia."

Jepang sempat melarang lagu ini saat mereka menduduki Indonesia selama Perang Dunia II. Pada akhirnya, masyarakat Indonesia kembali mengadopsi "Indonesia Raya" sebagai lagu kebangsaannya ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Nah, itu tadi 7 lagu kebangsaan yang berasal dan sempat menjadi lagu revolusioner. Ternyata, perjuangan bangsa Indonesia juga tidak kalah keren dari bangsa lain dan lagu Indonesia Raya yang kita banggakan juga menjadi salah satu lagu revolusioner yang paling indah di seluruh dunia.

Baca Juga: 6 Tokoh Sejarah Dunia Ini Mengalami Rekontruksi Wajah Forensik

Shandy Pradana Photo Community Writer Shandy Pradana

"Verba volant, scripta manent." Rock n' Roll enthusiast. Cinephile.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Febrianti Diah Kusumaningrum

Just For You