Comscore Tracker

5 Fakta Ilmiah tentang Sosiopat, Dikenal Suka Melanggar Hukum

Apa bedanya dengan psikopat?

hal-hal yang berkaitan dengan mental, psikis, dan perilaku manusia selalu menarik untuk dibahas. Nah, salah satu pembahasan yang mungkin sering diulas adalah psikopat, yakni mereka yang terindikasi secara medis mengalami gangguan empati. Biasanya, psikopat memang tidak memiliki empati dan bahkan kesulitan dalam membedakan mana yang benar dan salah.

Lalu, bagaimana dengan sosiopat? Apa bedanya antara sosiopat dengan psikopat? Kali ini, kita akan melihat beberapa fakta sains tentang sosiopat. Yuk, disimak sama-sama, ya!

1. Apa itu sosiopat?

5 Fakta Ilmiah tentang Sosiopat, Dikenal Suka Melanggar Hukumilustrasi pria menggunakan topeng (unsplash.com/Sammy Williams)

Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Cleveland Clinic menyatakan bahwa sosiopat adalah sebuah istilah untuk menggambarkan individu yang tidak bisa terlibat secara aktif dan pasif terhadap norma-norma sosial yang ada. Dengan kata lain, mereka yang tergolong sosiopat dinilai mengalami gangguan mental dan psikis karena sifatnya yang sangat antisosial.

Well, kamu harus tahu bahwa antisosial itu sangat berbeda dengan asosial. Antisosial adalah kondisi yang merujuk pada lawan dari norma-norma sosial yang diterapkan dalam masyarakat. Sementara, asosial merujuk pada keengganan atau kemalasan untuk bergaul. Nah, orang-orang yang introver, kutu buku, kuper (kurang pergaulan), dan suka menyendiri lebih digolongkan pada asosial.

Sifat antisosial sangat berbahaya karena orang seperti ini akan melawan hukum, suka kekerasan, dan tak jarang melampiaskan kemarahan di depan umum tanpa pandang bulu. Bisa saja mereka akan memakai topeng dan melakukan hal brutal di tempat umum. Tapi, tak menutup kemungkinan, mereka tidak akan mengenakan topeng sama sekali. Nah, sekarang kamu sudah paham dengan pengertian sosiopat, bukan?

2. Berbeda dengan psikopat

5 Fakta Ilmiah tentang Sosiopat, Dikenal Suka Melanggar Hukumilustrasi seseorang membawa tongkat (unsplash.com/Nolan Simmons)

Jika sosiopat melakukan aksi brutalnya dengan cara terbuka, di sisi lain, psikopat melakukan kejahatannya dengan cara tertutup. Dalam lamannya, Verywell Mind mengungkap bahwa sosiopat mungkin masih memiliki sedikit perasaan di dalam hatinya. Sementara, psikopat memang sudah kehilangan empati sehingga ia juga dianggap tidak memiliki perasaan sama sekali.

Nah, menariknya, orang sosiopat cenderung lepas kendali saat marah dan di kala mentalnya sedang lelah. Mereka akan melampiaskan segala sesuatunya pada lingkungan di sekitarnya. Dalam kasus ekstrem, sosiopat tak segan melakukan pembunuhan massal di sebuah tempat tertentu di hari yang sama.

Baca Juga: 6 Tanda Pasanganmu Seorang Sosiopat, Wajib Dibawa ke Psikiater! 

3. Sosiopat sering dikaitkan dengan pelanggaran hukum

5 Fakta Ilmiah tentang Sosiopat, Dikenal Suka Melanggar Hukumilustari garis polisi (pexels.com/Kat Wilcox)

Jelas saja sosiopat selalu dikorelasikan dengan pelanggaran hukum. Karena emosi dan pembawaan mentalnya yang tidak stabil, ditambah dengan minimnya rasa empati, membuat kaum sosiopat selalu berurusan dengan pihak penegak hukum. Jika seorang sosiopat belum pernah melakukan kekerasan di depan umum, sebaiknya segera bawa ke tempat rehabilitasi atau sarana medis khusus mental.

Kendati demikian, mayoritas sosiopat masih lebih sering melakukan pelanggaran yang relatif kecil. Nah, sebagian kecilnya lagi, sosiopat bisa saja melakukan tindakan ekstrem di luar nalar, seperti merusak tempat-tempat umum dan bahkan melakukan pembunuhan massal dengan berbagai cara. Beberapa kasus tentang tindakan ekstrem ini bisa kamu baca di berita yang biasanya terjadi di luar negeri.

4. Terapi untuk sosiopat

5 Fakta Ilmiah tentang Sosiopat, Dikenal Suka Melanggar Hukumilustrasi terapi mental secara komunal (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Menurut laman National Health Service (NHS), beberapa terapi bisa dilakukan untuk mereka yang terdeteksi sebagai antisosial dan sosiopat. Jenis terapi yang bisa dilakukan adalah terapi berbicara atau terapi berbasis mental. Biasanya, dalam terapi ini, seorang ahli akan memengaruhi dan mendorong pelaku sosiopat untuk sedikit mengubah cara pandang mereka. Dalam tahap ringan, biasanya terapi ini bisa efektif di rentang waktu tertentu.

Ada juga terapi berbasis komunitas. Mereka bisa saling berbicara secara terbuka mengenai perasaan dan pikiran mereka, termasuk hasrat untuk melampiaskan marah. Uniknya, ada banyak pihak yang dilibatkan dalam terapi ini, mulai dari psikiater, psikolog, kepolisian, dan bahkan narapidana. Mereka akan berusaha mendorong sosiopat untuk memahami konsekuensi hukum dari tindakannya tersebut.

5. Hanya bisa diatasi dan dikendalikan

5 Fakta Ilmiah tentang Sosiopat, Dikenal Suka Melanggar Hukumilustrasi terapi psikologi (pexels.com/Cottonbro)

Gangguan antisosial parah atau sosiopat bisa dikendalikan meskipun tidak bisa disembuhkan secara total. Mungkin bisa saja mereka sembuh, namun butuh proses dan waktu yang sangat lama, itu pun tidak bisa dilakukan secara penuh. Akan tetapi, untungnya, orang-orang antisosial tersebut masih dianggap sebagai individu yang memiliki hati nurani dan empati dalam takaran yang rendah.

Terapi yang intens bisa mengendalikan pikiran mereka ke arah yang lebih baik. Namun, tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa obat-obatan medis bisa menyembuhkan sosiopat secara total. Kendati demikian, kondisi ini bisa dikatakan masih sedikit lebih baik dibandingkan dengan psikopat murni. Ya, para ahli meyakini bahwa psikopat murni tidak dapat disembuhkan karena dipengaruhi oleh faktor genetik.

Ternyata, memang terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara sosiopat dengan psikopat. Mereka sama-sama berbahaya dan cenderung bertindak kriminal, tapi sosiopat masih lebih mudah untuk diatasi ketimbang psikopat murni.

Baca Juga: 7 Alasan Psikopat Justru Terlihat Menarik dan Normal

Dahli Anggara Photo Verified Writer Dahli Anggara

Age quod agis...

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Izza Namira

Berita Terkini Lainnya