Comscore Tracker

5 Penyebab Dasar Mengapa Jerman Kalah dalam Perang Dunia II 

Faktor mendasar yang jadi kemenangan sekaligus kehancuran 

Kemenangan Hitler dalam menumpas musuh-musuhnya memiliki medan yang sulit dan tak bisa dianggap remeh. Faktor terpenting dalam memenangkan sebuah perang adalah kemajuan teknologinya.

Jerman adalah negara adikuasa militer global pada Perang Dunia II. Sebab, pada akhir tahun 1800-an, mereka sudah memiliki teknologi perang yang lebih canggih daripada Inggris, AS, apalagi Uni Soviet.

Selain itu, faktor kemenangan selanjutnya adalah strategi yang matang, sistem militer modern, dan laju perekonomian yang baik. Namun, bagi Nazi Jerman, faktor-faktor mendasar tadi juga menjadi bumerang bagi mereka karena berhasil membalik keadaan.

Semua kegagalan akan ditarik mundur ke belakang, bagaimana kegagalan itu bisa terjadi. Seperti Nazi Jerman yang kalah dengan beberapa penyebab mendasar yang juga jadi faktor kemenangan mereka.

1. Tipe kepemimpinan Hitler 

5 Penyebab Dasar Mengapa Jerman Kalah dalam Perang Dunia II (kiri ke kanan) Hermann Goring, Mussolini, Hitler dan menantunya, Galeazzo Ciano pada 1930-an (commons.wikimedia.org/Unknown author)

Mungkin kamu berpikir jika Hitler adalah seorang diktator. Namun, kamu juga tak boleh melupakan bahwa ia juga "merangkap" sebagai penghasut nomor wahid dalam oratur ulung.

Marcel Susanto dalam artikelnya yang berjudul Mengapa Jerman Kalah di Perang Dunia II? (2018), Hitler punya gaya kepemimpinan yang suka mengadu domba para bawahannya. Pemimpin seperti Hitler hanya memikirkan satu cara agar bisa tetap duduk di kursi kekuasaan dan mempertahankan status quo-nya dengan "meminimalkan" ancaman dari para anak buahnya.

Hitler percaya bahwa manusia memiliki sifat serakah dan sulit dipercaya. Maka dari itu, ia memberikan tugas yang tumpang tindih kepada bawahannya. Ini dilakukan supaya anak buahnya sulit utuk mengancam dirinya dan kedudukannya. Tak hanya tugas dan tanggung jawab yang tumpang tindih, Hitler juga memanipulasi para bawahannya agar mereka saling membenci, bersaing, dan saling menjatuhkan satu sama lain.

Tentu, ada sisi positif dan negatif yang ditimbulkan dari gaya kepemimpinan Sang Fuhrer ini. Sisi positifnya, Hitler sukses besar untuk mengamankan posisinya sebagai pemimpin. Para bawahannya yang begitu dekat dengannya, seperti Hermann Goring, Heinrih Himmler, hingga Josep Gobbels, bahkan bisa saling bertengkar. Mereka bisa juga bersaing hingga akhirnya menjatuhkan satu sama lain.

Sisi negatifnya, para bawahan Hitler tadi tak pernah kompak. Organisasi yang dijalankannya pun tak pernah efisien, mengingat banyak kantor kementrian yang memiliki tugas sama. Padahal itu tak perlu dilakukan. Kasarnya, untuk apa ada macam-macam kementrian kalau masing-masing dari mereka memiliki tugas yang sama?

2. Tidak memiliki strategi jangka panjang 

5 Penyebab Dasar Mengapa Jerman Kalah dalam Perang Dunia II Seorang perwira Jerman dan Soviet yang berjabat tangan di akhir Invasi Polandia pada September 1939. (commons.wikimedia.org/unknown war correspondent of TASS)

Strategi perang paling terkenal dari Nazi Jerman adalah blitzkrieg atau metode perang cepat oleh infantri lapis baja dan serangan udara jarak dekat. Namun, sebelum blitzkrieg hadir, ada hal mendasar yang perlu diketahui bahwa Jerman sama sekali tidak memiliki strategi jangka panjang untuk mengalahkan lawan-lawannya di medan perang.

Invasi Polandia oleh Jerman tahun 1939 yang ditengarai jadi awal Perang Dunia II pun menjadi salah satu contohnya. Sebenarnya, Hitler tidak pernah menginginkan adanya perang di tahun 1939. Sebab, di tahun itu ekonomi Inggris dan Prancis sedang carut marut, sehingga ia berpikiran bahwa kedua negara itu akan tutup mata ketika Jerman menyerang Polandia.

Namun, keadaan di lapangan tak sama dengan apa yang ada di pikiran Sang Fuhrer. Akhirnya, Inggris dan Prancis yang saat itu sudah berjanji untuk melindungi Polandia pun menyatakan perang kepada Jerman.

Celakalah Jerman, Hitler, dan para militernya yang masih belum siap untuk berperang pada saat itu. Tatkala Hitler sedang mengembangkan mesin militernya, pihak sekutu malah sudah menyatakan perang kepada Jerman.

Angkatan Laut Jerman masih jauh lebih kecil daripada Angkatan Laut milik Inggris. Jerman masih kekurangan mesin-mesin perang untuk mengalahkan "musuh tak diundangnya" ini.

Jerman juga belum mengerahkan ekonomi mereka sepenuhnya untuk memenangkan perang. Itu sangat berbanding terbalik dengan Inggris yang langsung mengerahkan ekonomi mereka sepenuhnya untuk memenangkan perang.

Kembali lagi ke masalah awal. Masalah kekurangan mesin perang atau infantri mungkin masih bisa dikejar. Namun, kembali lagi ke faktor paling mendasar, yaitu adanya kegigihan Hitler untuk mengadu domba para anak buahnya. Alhasil, Hitler tidak memiliki anak buah yang kompak.

Baca Juga: 12 Fakta Pemuda Hitler, Program Doktrinisasi oleh Nazi

3. Kesalahan strategi dan kekurangan bahan bakar, terutama minyak 

5 Penyebab Dasar Mengapa Jerman Kalah dalam Perang Dunia II pesawat Soviet Il-2 terbang di dekat Moskow ( RIA Novosti archive via commons.wikimedia.org/Samaryi Guraryi / амарий арий)

Lambat laun, Hitler pun menyadari jika Inggris tak kunjung ingin berdamai. Di sini, akhirnya ia menyadari satu hal, yaitu minyak sebagai kuncinya. Logikanya, tidak ada minyak, maka truk, tank, kapal perang, dan mesin-mesin perang lainnya tidak akan bergerak.

Sumber minyak Hitler terdapat di Polesti, Rumania. Namun sayangnya, ladang minyak itu tidak cukup untuk menggerakan mesin-mesin perang Jerman. Sebenarnya, Jerman sudah bisa menciptakan bensin dan solar dari batu bara, tapi terlalu mahal. Alhasil, mata Hitler pun langsung tertuju pada sumber minyak Uni Soviet di daerah Kaukasus.

Satu-satunya cara agar Inggris mau berdamai dengan Jerman adalah dengan menaklukkan Uni Soviet yang diharapkan Inggris bisa menjadi sekutu dengannya. Hitler pun memerintahkan para jenderalnya untuk menyusun rencana sebuah invasi yang dikenal sebagai Operasi Barbarossa. Dalam operasi itu, Hitler mengerahkan tiga juta pasukannya bersama tentara sekutu-sekutunya untuk menyerbu Uni Soviet.

Namun, kenyataan di lapangan lebih rumit. Hitler dan jenderal-jenderalnya pun memiliki pemikiran yang berbeda. Para jenderal Hitler berpikir untuk merebut Moskow, karena menurut mereka cara untuk menaklukkan sebuah negara adalah dengan merebut ibu kotanya.

Hitler pun murka. Ia pun bertengkar dengan para jenderalnya yang memakan banyak waktu dan menciptakan kebingungan di kalangan tentara Jerman. Padahal, saat itu pasukan Uni Soviet sedang kocar-kacir karena mendapat serangan dadakan dari Jerman.

Andai, Jerman tidak menghabiskan waktu untuk bertengkar, mungkin mereka sudah bisa merebut Moskow atau Kaukasus sebelum musim dingin hebat tahun 1941. Pasukan Jerman terpukul mundur karena tidak memiliki persiapan perang di tengah musim dingin yang mencapai -40 derajat Celsius.

Alhasil, Moskow pun tidak pernah bisa direbut pasukan Jerman. Masalah lain muncul ketika Hitler tahu, bahwa kini Jerman tak memiliki persediaan bahan bakar yang mencukupi untuk memenangkan perang melawan Inggris.

Dikeroyok oleh banyak tentara Inggris, kekurangan amunisi, bahan bakar minyak, hingga bala bantuan manusia, membuat pasukan kecil pimpinan Erwin Rommel itu terpaksa mundur dari Mesir. Rommel bisa berbuat jauh lebih banyak, jika dari awal ia mendapat lebih dari dua divisi yang berisi sekitar 30 ribu tentara.

Pikirnya, daripada mengirim tiga juta tentara ke Uni Soviet, mengirim paling tidak 100 ribu tentara ke Afrika akan jauh lebih efektif. Sayang, Hitler tidak begitu mengindahkan saran dari Raeder dan Rommel yang terus menerus meminta bala bantuan untuk pasukan kecil mereka yang terdesak di wilayah Afrika ini.

4. Terobsesinya Hitler pada rasisme dan ras unggul yang akhirnya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, ras Arya, dan bangsa Jerman 

5 Penyebab Dasar Mengapa Jerman Kalah dalam Perang Dunia II Adolf Hitler sedang duduk di atas meja kerjanya yang ada di vacation house miliknya di Obersalzberg , Berghof (Deutsches Bundesarchiv/Heinrich Hoffmann via commons.wikimedia.org)

Negara kuat adalah yang memiliki tingkat toleransi tinggi. Namun, itu tidak berlakuk untuk Jerman yang kala itu dipimpin oleh seorang orator ulung, Adolf Hitler. Nazi Jerman membuat sebuah sejarah paling kelam dan kejam umat manusia lewat genosida besar-besaran terhadap orang-orang Yahudi. Tak hanya itu, Nazi Jerman juga melabeli beberapa bangsa lainnya, seperti Slavia dan Romani sebagai untermensch atau manusia rendahan.

Dalam bukunya yang berjudul Mein Kampf, Hitler menuturkan secara gamblang jika ia sangat membenci etnis-etnis tadi. Ia juga berniat untuk mensucikan dunia dari etnis-etnis untermensch tersebut. Mereka yang dirundung secara sistematis oleh Nazi sejak awal perang pun memilih untuk meninggalkan Jerman.

Kebanyakan orang-orang ini merupakan orang-orang yang tenaganya, kecerdasannya, dan keterampilannya amat dibutuhkan untuk memenangkan perang. Contohnya, dokter, ilmuwan, insinyur, seniman, dan lain-lain. Salah satu contoh tokoh ilmuwan terkemuka yang meninggalkan Jerman ialah Albert Einsten.

Orang "rendahan" ini ternyata bisa mengalahkan "ras unggul" yang begitu diagung-agungkan Hitler dan para pengikutnya. Orang rendahan tadi kebanyakan pindah ke AS dan menyumbangkan seluruh tenaga mereka untuk mengalahkan Nazi. Misalnya, menjadi tentara atau bergabung bersama para ilmuwan yang merancang bom atom pertama di dunia pada Proyek Manhattan.

Obsesi pada rasisme dan intoleransi ini membuat Jerman melewatkan kesempatan untuk mengalahkan Uni Soviet. Padahal, rakyat Uni Soviet begitu membenci partai komunis dan Stalin yang berhasil membantai jutaan saudara-saudara mereka.

Alih-alih menyusun rencana untuk menginvasi Soviet dan menguasai negara itu, Jerman bersama SS justru sibuk dengan genosida sistematis mereka terhadap bangsa Yahudi. Alhasil, rakyat Uni Soviet bersatu di bawah komando Stalin untuk berperang mempertahankan kelangsungan hidup dan bangsa mereka melawan Nazi Jerman.

5. D-Day: Penghujung perang bermusuhkan Amerika Serikat dan para sekutunya

5 Penyebab Dasar Mengapa Jerman Kalah dalam Perang Dunia II Pasukan Angkatan Darat AS yang mengarungi pantai di Omaha Beach selama pendaratan D-Day pada 6 Juni 1944. (commons.wikimedia.org/Chief Photographer's Mate (CPHOM) Robert F. Sargent, U.S. Coast Guard)

Tak ada asap, jika tak ada api. Pada awalnya, itulah ungkapan yang patut disematkan kepada Jepang dan AS. Jepang lebih dulu "mengajak" AS untuk berperang di wilayah Pasifik hingga memaksa AS untuk "bergabung" dengan Perang Dunia II.

AS pun menyatakan perang kepada Jepang, tapi tidak dengan Jerman. Justru sebaliknya, Jerman yang lebih dulu mengajak AS untuk berperang. Sebab Hitler sepenuhnya percaya, jika Jerman akan memenangkan perang, mengingat dari serangan yang dilakukan Jepang di Pearl Harbor. Padahal, itu adalah suatu kesalahan perhitungan yang dilakukan Hitler. Setelah menjadikan Inggris dan Uni Soviet sebagai musuhnya, kini Jerman memiliki negara dengan ekonomi terbesar di dunia sebagai musuh barunya.

Adanya status perang tersebut membuat AS mengerahkan segenap kekuatan militer, sumber daya, dan industri mereka secara terang-terangan. AS bahkan mengirim ribuan kapal terbang, ratusan ribu tentara, dan infantri lainnya untuk menaklukan Jerman. 

Berkat bantuan AS, Inggris berhasil mengamankan Samudra Atlantik, menjatuhkan bom di kota-kota Jerman, melakukan penyerangan agresif terhadap posisi-posisi pertahanan Jerman di Afrika Utara, Italia, bahkan berhasil memecahkan kode enigma Jerman pada operasi amfibi terbesar dalam sejarah militer dunia. Semua invasi tadi tak akan mungkin dapat terlaksana jika Jerman tak "mengusik" AS dengan menyatakan perang kepada negara super power. AS pun juga tidak terlibat dalam perang terbuka melawan Jerman.

Kemenangan perang juga bukan hanya soal teknologi, ekonomi, administrasi, logisitik, pasokan bahan bakar, dan pengendalian ribuan tentara untuk berperang demi memenuhi ambisi pemimpinnya. Ini juga soal bagaimana solusi itu dapat terpecahkan lewat perang tadi. Namun, perang tetaplah perang yang memberikan dampak jangka besar, baik positif maupun negatif.

Hal yang paling terpenting dalam kegagalan Hitler, Nazi, dan bangsa Jerman dalam mengatasi permasalahan mereka selama Perang Dunia II juga menjadi penyebab kekalahan mereka sendiri. Intinya, sekuat apa pun sebuah mimpi dan obsesi Sang Fuhrer akan suatu kemenangan, ketika ada celah untuk tidak disiplin dalam mengatasi permasalahan-permasalahan tadi, itulah yang justru bisa jadi pintu gerbang dan penyebab utama kekalahan mereka sendiri.

Baca Juga: 5 Kekejaman Adolf Hitler dan Rezim Nazi selama PD II

Ines Melia Photo Verified Writer Ines Melia

Dengan menulis saya 'bersuara'. Dengan menulis saya merasa bebas.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Izza Namira

Berita Terkini Lainnya