Comscore Tracker

Mengapa Kita Bisa Terobsesi pada Suatu Hal? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ada bagian di otak yang dapat memicu perilaku obsesif 

Pernahkah kamu membaca sebuah buku atau menonton sebuah film dan terobsesi dengan salah satu karakter di dalamnya? Apakah kamu merupakan seorang penggemar garis keras dari seorang selebritas atau klub? Jika iya, pernahkah kamu terpikir mengapa seseorang bisa begitu menyukai dan terobsesi pada hal-hal seperti itu?

Ketika kita menggemari sesuatu, gairah yang kita miliki perlahan akan menuju ke arah obsesi tanpa kita sadari. Ternyata ada penjelasan ilmiah di balik fenomena ini. Dilansir Verywell Mind dan The Blnkpage, simak penjelasan ilmiah berikut sampai habis!

1. Obsesi dipengaruhi oleh bagian otak bernama ventral tegmental area (VTA)

Mengapa Kita Bisa Terobsesi pada Suatu Hal? Ini Penjelasan Ilmiahnyailustrasi wanita yang sedang mendengarkan musik (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Di otak tengah terdapat suatu daerah yang disebut ventral tegmental area (VTA). Area ini berisi berbagai jenis neuron. Salah satunya adalah dopaminergik yang melepaskan dopamin ke seluruh bagian otak.

Dopamin merupakan neurotransmiter yang terkait dengan pusat kesenangan otak. Hormon ini sering kali dilepaskan di saat situasi yang membuat kita merasa bahagia dan menyenangkan, seperti ketika kita makan makanan favorit.

Demikian pula untuk penggemar berat band tertentu. Mendengarkan musik dari band kesukaan akan menyebabkan tingkat dopamin di otak meningkat yang dapat memicu perasaan senang yang sangat kuat. Otak kemudian mengingat perasaan bahagia tersebut dan membuat seseorang terdorong untuk melakukannya lagi sehingga mendapatkan kebahagiaan yang serupa. Ini berpotensi menimbulkan perilaku obsesif.

2. Terbawa hubungan emosional

Mengapa Kita Bisa Terobsesi pada Suatu Hal? Ini Penjelasan Ilmiahnyailustrasi wanita yang sedang merenung (pexels.com/Engin Akyurt)

Alasan lain mengapa kita bisa melewati batas menjadi obsesi yakni terletak pada sifat manusia. Sebagai manusia, kita memiliki hubungan emosional bawaan dengan orang lain. Daerah otak tertentu seperti korteks insular anterior memiliki kaitan erat dengan rasa empati. Jadi, kita terprogram untuk berempati dengan orang lain.

Semakin kita merasa terhubung dengan seseorang atau sesuatu, semakin emosional juga kita terhadapnya. Faktanya, tidak jarang penggemar menjadi begitu tertarik dengan cerita karakter sehingga mereka mengalami emosi yang sama dengan yang dirasakan karakter tersebut.

Perasaan ini tampak begitu nyata karena wilayah neurologis yang sama di otak diaktifkan ketika kita menghadapi pengalaman tertentu. Hal ini pun dirangsang ketika membaca tentang pengalaman karakter yang dicintai itu sendiri.

Baca Juga: Gak Biasa, 5 Penguasa dengan Obsesi Tergila Sepanjang Sejarah Dunia

3. Perilaku obsesif berasal dari masalah di jalur antara korteks orbitofrontal dan ganglia basal

Mengapa Kita Bisa Terobsesi pada Suatu Hal? Ini Penjelasan Ilmiahnyailustrasi otak (unsplash.com/Robina Weermeijer)

Pada tingkat biologis, obsesi berasal dari masalah di jalur antara korteks orbitofrontal dan ganglia basal yang merupakan sekelompok inti di otak. Korteks orbitofrontal dan ganglia basar sendiri memliki peranan dalam kognisi dan emosi.

Masalah ini muncul dari peningkatan aktivitas metabolisme di korteks orbitofrontal karena ketidakseimbangan kadar serotonin dan dopamin, dua neurotransmiter yang penting dalam pembentukan emosi. Pada akhirnya, dapat menyebabkan seseorang menjadi lebih emosional dan obsesif terhadap rangsangan tertentu dibandingkan sebelumnya.

4. Sebagai bentuk pelarian

Mengapa Kita Bisa Terobsesi pada Suatu Hal? Ini Penjelasan Ilmiahnyailustrasi pria yang sedang berlari (pexels.com/S Migaj)

Dari perspektif sosial, menjadi penggemar juga merupakan suatu bentuk pelarian. Alasannya karena hal ini memungkinkan kita untuk mengalihkan perhatian kita dari beberapa kenyataan hidup yang keras.

Namun, mereka yang beralih ke perilaku ini untuk mengisi kekosongan dalam hidup mereka mungkin lebih rentan untuk membentuk perilaku obsesif. Hal ini karena mereka cenderung hidup secara perwakilan melalui karakter atau selebritas yang mereka sukai.

Tidak ada yang salah dengan melarikan diri dari kenyataan hidup sesekali. Namun, jika kita menghabiskan sebagian besar waktu kita menderita atas alam fiksi atau dari selebriti yang kita sukai, kemampuan kita untuk berfungsi secara normal di masyarakat akan semakin berkurang.

Sekarang sudah paham bukan mengapa kita bisa begitu terobsesi pada hal-hal yang kita sukai? Tidak ada yang salah jika kita menggemari sesuatu. Akan tetapi, alangkah baiknya jika kita memberikan batas dan menyukai dengan sewajarnya saja.

Baca Juga: Aneh! 7 Obsesi Ini Dimiliki Para Diktator Terkejam Sepanjang Sejarah

Sintya Yoo Photo Verified Writer Sintya Yoo

nothing

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Izza Namira

Berita Terkini Lainnya