Comscore Tracker

Studi Ungkap Alasan Remaja Kerap Remehkan Perkataan Ibunya

Ini adalah hal yang normal karena adanya perubahan pada otak

Orang tua terkadang kehabisan akal ketika menghadapi putra-putrinya yang berusia remaja. Remaja seringkali berkehendak sesuai kemauannya sendiri, yang akhirnya mengabaikan perkataan sang ibu.

Fenomena ini sangat umum hingga ada penelitian yang menjelaskan mengapa hal ini bisa terjadi. Berikut adalah alasan mengapa remaja kerap remehkan perkataan ibunya.

1. Otak kita menunjukkan reaksi berbeda terhadap suara-suara tertentu 

Studi Ungkap Alasan Remaja Kerap Remehkan Perkataan Ibunyailustrasi penelitian pada otak (pexels.com/Edward Jenner)

Otak kita menunjukkan reaksi yang berbeda terhadap suara-suara tertentu. Reaksi tersebut secara alami berubah seiring waktu sehingga membuat suara yang tadinya terdengar khusus atau istimewa menjadi biasa saja sehingga terkesan mudah diremehkan bahkan secara tidak sengaja. 

Penelitian dalam Journal of Neuroscience menunjukkan, saat memindai otak anak-anak yang berusia 12 tahun ke bawah menunjukkan respons saraf yang eksplosif terhadap suara ibu mereka, yang mengaktifkan pusat penghargaan (reward system) dan pusat pemrosesan emosi di otak. Sistem penghargaan adalah salah satu sistem terpenting di otak.

Ini mendorong perilaku kita ke arah rangsangan yang menyenangkan seperti makanan, seks, alkohol, dan lain-lain. Sistem penghargaan juga adalah tempat kita merasakan emosi dan memproses emosi tersebut untuk memulai atau menghentikan tindakan.

2. Remaja umumnya tidak akan menyadari sikapnya secara langsung 

Studi Ungkap Alasan Remaja Kerap Remehkan Perkataan Ibunyailustrasi ibu dan anak remaja (pexels.com/Karolina Grabowska)

Seiring bertambahnya usia, kita semakin banyak mendengarkan suara secara abstrak dan kompleks. Baik suara manusia atau apa pun di sekitar kita. Penelitian menunjukkan, adanya perubahan respon terhadap suara yang terjadi ketika kita memasuki usia remaja. 

Oleh karena itu, suara ibu tidak lagi menghasilkan reaksi neurologis yang sama di telinga anak-anaknya yang remaja. Sebaliknya, otak remaja, apa pun jenis kelaminnya, tampak lebih responsif terhadap suara apa pun secara umum, baik yang baru maupun yang telah diingat.

Perubahan itu terlihat sangat jelas sehingga para peneliti dapat menebak usia anak hanya berdasarkan bagaimana otak mereka merespons suara ibu mereka.

Sebagai remaja, mereka tidak tahu bahwa mereka melakukan ini. Mereka hanya menjadi diri sendiri; mereka punya banyak teman termasuk teman baru dan ingin menghabiskan waktu bersamanya. Pikiran remaja semakin sensitif dan tertarik pada suara-suara yang baru dikenal tersebut.

Baca Juga: 5 Riset Sains yang Berusaha Ungkap Misteri Terbesar di Alam Semesta

3. Peneliti beranggapan ini adalah tanda otak remaja berevolusi

Studi Ungkap Alasan Remaja Kerap Remehkan Perkataan Ibunyailustrasi otak manusia (pexels.com/Mart Production)

Ketika dirasa remaja meremehkan suara ibunya, peneliti menduga ini adalah tanda otak remaja mengembangkan keterampilan sosial. Dengan kata lain, ketika seorang remaja secara tidak sengaja menutup diri dari keluarganya adalah masa ketika otak mereka baru saja matang dengan cara yang sehat.

Banyak bukti telah menunjukkan bahwa untuk anak kecil, suara ibu memainkan peran penting dalam kesehatan dan perkembangan mereka, memengaruhi tingkat stres mereka, ikatan sosial mereka, keterampilan makan mereka, dan pemrosesan bicara mereka.

Jadi masuk akal jika otak anak akan sangat selaras dengan suara orang tuanya. Namun, ada saatnya mendengarkan orang lain selain ibumu lebih menguntungkan.

"Ketika remaja tampak memberontak dengan tidak mendengarkan orang tua mereka, itu karena mereka diarahkan untuk lebih memperhatikan suara-suara di luar rumah mereka," kata seorang ahli saraf dari Stanford University. 

4. Perbedaan respon otak terhadap suara pada usia remaja dan masa anak-anak

Studi Ungkap Alasan Remaja Kerap Remehkan Perkataan Ibunyailustrasi ibu dan anak remaja (pexels.com/Cottonbro)

Studi yang diterbitkan di The Journal of Neuroscience menunjukkan bahwa otak anak sudah berevolusi. Fenomena ini memungkinkan perintah ibu terkadang diabaikan oleh sang anak sehingga ibu harus memintanya berulang kali untuk benar-benar dipatuhi. Seperti misalnya memintanya membuang sampah di tempat yang benar, merapikan tempat tidur atau membantu ibu di dapur.   

Kondisi tersebut terjadi karena otak remaja tidak lagi hanya fokus pada suara sang ibu, tetapi mereka juga sedang mendengarkan suara lainnya dalam satu waktu yang sama, termasuk mendengarkan suara-suara peralatan rumah tangga. Intinya, otak menjadi sangat responsif dalam merespon suara. 

Pada usia sekitar 13 tahun, mereka bergeser untuk mulai mendengarkan suara-suara baru. Itu bagian dari tumbuh dewasa. Temuan ini menunjukkan bahwa proses tersebut berakar pada perubahan neurobiologis. Ketika remaja tampak memberontak dengan tidak mendengarkan orang tua mereka, itu karena mereka terbiasa untuk lebih memperhatikan suara-suara di luar rumah mereka.

Sebuah studi meneliti anak-anak usia 13 hingga 16,5 tahun, meminta mereka mendengarkan beberapa suara; suara ibu mereka, suara wanita yang tidak mereka kenal, dan suara di sekitar rumah tangga biasa. Tidak seperti bayi, yang otaknya hanya menanggapi suara ibu mereka, otak remaja lebih tertarik pada apa yang dikatakan orang asing. Meskipun begitu, mereka masih mengenali suara ibu mereka 97 persen, tetapi otak mereka merespon kurang tertarik.

5. Perubahan neurologis ini membantu remaja untuk mahir secara sosial

Studi Ungkap Alasan Remaja Kerap Remehkan Perkataan Ibunyailustrasi ibu dan anak remaja (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Mengetahui lebih banyak tentang mekanisme neurobiologis yang mendasarinya dapat membantu kita memahami bagaimana perkembangan sosial terjadi. 

Temuan penelitian saat ini adalah yang pertama menunjukkan bahwa seiring bertambahnya usia, pendengaran kita kurang terfokus pada ibu kita dan lebih fokus pada suara-suara dari berbagai macam orang. Perubahan ini bisa menjadi bagian penting dari perkembangan sosial yang sehat, memungkinkan remaja untuk lebih memahami perspektif dan maksud orang lain.

Jadi, itu tidak berarti benar bahwa anak berubah menjadi arogan atau menyebalkan hanya karena mereka beranjak remaja. Namun hal ini terjadi karena adanya perubahan pada otak, baik pada remaja perempuan atau laki-laki sekalipun. Ini adalah sinyal yang membantu remaja terlibat dengan dunia dan membentuk koneksi yang memungkinkan mereka mahir secara sosial di luar keluarga mereka.

Baca Juga: 11 Karakteristik Pasangan Bahagia Menurut Riset Ilmiah

Nurul Zahara Photo Verified Writer Nurul Zahara

Hanya mencoba menguraikan isi kepala.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Bayu D. Wicaksono

Berita Terkini Lainnya