Comscore Tracker

Olahraga Ternyata Bisa Meningkatkan Risiko Terinfeksi Virus Corona

Ternyata tak semua olahraga meningkatkan imunitas tubuh

Jakarta, IDN Times - Olahraga jadi hal yang penting untuk menjaga imunitas tubuh di tengah merebaknya virus corona atau COVID-19. Tapi jangan salah, latihan fisik juga ternyata tak semuanya baik, jika hal itu bisa menurunkan imunitas yang berisiko membuat badan mudah tertular virus, terutama virus corona.

Mengapa bisa demikian? Seperti kita ketahui, olahraga sejatinya membuat tubuh sehat dan bugar. Apalagi hal itu dibarengi dengan mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Sudah seharusnya itu membuat tubuh punya imunitas tinggi dan menjaga dari segala jenis penyakit.

Tapi tak semua olahraga seperti itu, kita patut memahami dulu prinsip umum latihan olahraga untuk bisa menentukan bagaimana latihan fisik yang bisa meningkatkan imunitas tubuh.

Menurut Lippincott Williams & Wilkins dalam bukunya ACSM (2018) ACSM’s Guidelines for Exercise Testing and Prescription edisi ke-10 yang diedit D. Riebe. prinsip umum latihan olahraga itu terdiri dari empat bagian.

Bagian-bagian tersebut yakni, seberapa sering latihan tersebut dilakukan per pekan (frekuensi), durasi waktu yang dihabiskan, bagaimana intensitasnya, sampai jenis latihan yang terdiri dari tiap individu, di mana hal itu jadi kunci bagaimana imunitas tubuh seseorang.

Pada salah satu prinsipnya, ternyata intensitas latihan berbanding terbalik dengan imunitas seseorang. Menurut kaca mata sains olahraga ilmu kepelatihan, kondisi tersebut dikenal dengan J-Curve atau Kurva J --titik di mana seseorang yang intensitas olahraganya berat justru membuat imunitas tubuh menurun, bahkan lebih lemah dari yang tak berolahraga.

1. Olahraga dalam intensitas tinggi merupakan kesalahan besar di tengah wabah corona

Olahraga Ternyata Bisa Meningkatkan Risiko Terinfeksi Virus CoronaKurva J menunjukkan olahraga tak selalu berbanding lurus dengan imunitas tubuh. (Dok. Ido Nur Abdulloh).

Dikutip dari analisis Ido Nur Abdulloh dalam presentasinya terkait kesalahan olahraga saat pandemik COVID-19, olahraga dengan intensitas tinggi itu tak direkomendasikan saat mudahnya virus corona menjangkit orang-orang. Sebab, fisik kita ternyata sedang kurang baik walau secara kasat mata terlihat bugar.

Olahraga dengan intensitas tinggi bakal menimbulkan trauma pada otot lurik atau otot rangka, menyebabkan terbentuknya sitokin proinflamasi yang memengaruhi respons imun dalam tubuh. Hal itu membuat kita masuk dalam periode open window, yakni kondisi tubuh yang menjadi lemah, dalam artian rentan diserang virus dalam kurun waktu 3-84 jam.

Oleh sebab itu, olahraga dengan intensitas sedang justru yang paling direkomendasikan. Terlebih banyak manfaat yang didapatkan oleh tubuh, termasuk fungsi imun dalam tubuh yang bakal bekerja dengan baik melawan virus-virus yang berusaha masuk ke dalam tubuh.

Oleh sebab itu, kita perlu memerhatikan beberapa faktor dalam melakukan olahraga yang tepat saat merebaknya virus corona di Indonesia. Berikut adalah hal-hal yang perlu dihindari agar olahraga tak memicu kita jadi mudah tertular virus corona menurut Ido Nur Abdulloh yang dikutip IDN Times:

Olahraga Ternyata Bisa Meningkatkan Risiko Terinfeksi Virus CoronaKurva J menunjukkan olahraga tak selalu berbanding lurus dengan imunitas tubuh. (Dok. Ido Nur Abdulloh).

2. Batasi latihan aerobik

Olahraga Ternyata Bisa Meningkatkan Risiko Terinfeksi Virus CoronaIDN Times/Candra Irawan

Ido Nur dalam penjelasanannya berpendapat jika kita harus membatasi durasi dalam melakukan aerobik. Dalam penjelasannya, bagi orang-orang biasa (non-atlet) dianjurkan melakukan olahraga dalam rentan waktu 30-45 menit dan untuk atlet selama satu jam atau 60 menit.

Tapi, kita juga harus tetap menjaga diri untuk meminimalisir terhindar dari risiko tertular virus corona dari orang lain. Oleh seba itu walau latihan aerobik dapat dilakukan di luar ruangan jika memungkinkan, harus tetap mengutamakan prinsip “jaga jarak”, “hindari keramaian” dan “hindari sentuhan” serta tubuh dalam kondisi fit.

Beberapa contoh aerobik yang bisa dilakukan seperti jalan jalan cepat sekeliling rumah, atau naik-turun tangga di dalam rumah selama 10-15 menit dan dilakukan 2-3 tiga kali per hari. Bisa juga menari atau lompat tari, sampai senam aerobik yang bisa dilihat melalui video.

3. Hindari latihan dengan menggunakan beban yang sangat berat (maximum load)

Olahraga Ternyata Bisa Meningkatkan Risiko Terinfeksi Virus Coronafreeletics.com

Latihan kekuatan otot memang sangat penting dalam kondisi di rumah. Namun, jangan sampai menggunakan beban yang berat, sehingga membuat kondisi tubuh memaksa untuk melebihi batas normal. Hal itu membuat latihan fisik yang dilakukan bisa masuk dalam kategori intensitas tinggi.

Lakukan lah latihan kekuatan otot yang mudah, seperti squat (jongkok-berdiri), push up, lunges. Atau bisa juga mengunduh latihan menggunakan beban tubuh melalui gadget pintar yang kita miliki.

Hindari duduk sepanjang hari saat kita dalam kondisi work from home, lakukan peregangan setiap 2 jam sekali. Peregangan statis dapat dilakukan dengan menahannya selama 10-15 detik.

Selain itu, kita juga harus memerhatikan cairan dalam tubuh. Perbanyak minum, karena kekurangan minum dapat meningkatkan risiko; pastikan asupan cairan tercukupi sebelum, saat, dan sesudah latihan, sehingga kita perlu memantau berat badan, urine, dan rasa di tenggorokan untuk menjaga kita terhindar dari dehidrasi.

4. Jangan merokok sebelum dan sesudah olahraga/lebih baik berhenti

Olahraga Ternyata Bisa Meningkatkan Risiko Terinfeksi Virus CoronaIlustrasi rokok. IDN Times/Hana Adi Perdana

Jangan merokok satu jam sebelum atau dua jam setelah melakukan latihan fisik. Sebab, hal itu sebenarnya dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh dalam melawan virus corona.

Lebih baik, kita mengikuti imbauan organisasi kesehatan dunia (WHO) untuk tak merokok lantaran para perokok lebih rentan tertular virus corona. Sebab, ada beberapa alasan terkait hal itu, salah satunya aktivitas merokok menggunakan tangan yang belum tentu steril meningkatkan kemungkinan transmisi virus dari tangan ke mulut.

Selain itu, ketika kita merokok, organ pernapasan menjadi kurang maksimal, tak seperti orang yang normal lain yang tidak merokok. Sebab,  yang diserang virus corona atau COVID-19 adalah sistem respirasi (pernapasan) manusia, orang yang merokok memiliki risiko fatalitas lebih tinggi akibat pandemik tersebut.

Baca Juga: Gejala Virus Corona Tanda-tanda Terjangkit Corona dan Cara Pencegahan

Topic:

  • Ilyas Listianto Mujib
  • Dwi Agustiar

Berita Terkini Lainnya