Comscore Tracker

Yulimar Rojas, dari Facebook Hingga Cetak Rekor Lompat Jangkit Dunia

Rojas lahir dari keluarga miskin

Jakarta, IDN Times - Olimpiade Tokyo 2020 berhasil mencatatkan rekor dunia di cabang olahraga atletik nomor lompat jangkit. Atlet Venezuela, Yulimar Rojas, berhasil merengkuh medali emas, sekaligus membuat catatan istimewa usai melakukan lompatan 15,67 meter.

Rojas memecahkan rekor tersebut saat mentas di nomor lompat jangkit putri dalam duel yang digelar di Stadion Nasional Tokyo, Minggu (1/8/2021).

Atlet 25 tahun itu berhasil memecahkan rekor yang sudah hampir tiga dekade tak bisa terpecahkan. Catatan rekor sebelumnya diciptakan atlet putri Ukraina, Inessa Mykolajivna Kravets, dengan catatan 15,50 meter yang dihasilkan 26 tahun silam, tepatnya pada 1995.

1. Tak menduga bisa memecahkan rekor dunia

Yulimar Rojas, dari Facebook Hingga Cetak Rekor Lompat Jangkit DuniaYulimar Rojas (Venezuela) peraih medali emas dan memecahkan rekor dunia di cabang olahraga lompat jangkit Olimpiade Tokyo 2020. (beinsport.com).

Rojas sebetulnya sudah diprediksi meraih medali di Olimpiade kali ini. Terlebih, dia acap kali menjadi juara di kejuaraan dunia dan beberapa ajang besar dalam lima tahun terakhir, termasuk perak (Olimpiade Rio 2016), hingga meraih gelar juara (Kejuaraan Dunia 2019 dan 2020). Namun, tak ada yang menyangka jika Rojas bisa membuat rekor mengilap.

"Saya kehilangan kata-kata. Sangat sulit menggambarkan perasaan saya saat ini. Saya bisa meraih medali emas, sekaligus menorehkan rekor Olimpiade dan dunia. Ini benar-benar malam yang sangat luar biasa," kata Rojas dikutip laman resmi Olimpiade.

Tak hanya rekor dunia, Rojas juga ternyata membuat catatan istimewa buat negaranya. Dia menjadi atlet putri pertama Venezuela yang berhasil meraih medali emas di Olimpiade. 

2. Besar dalam keluarga miskin dan tak berkecukupan

Perempuan kelahiran 21 Oktober 1995 ini merupakan atlet yang sudah sering mengharumkan Venezuela di cabang olahraga atletik nomor lompat jangkit putri. Namun siapa yang menyangka, Rojas harus menghadapi hidup yang pahit dan berat untuk bisa menjadi atlet berprestasi.

Rojas lahir di Caracas dan dibesarkan di daerah miskin Racito, yakni gubuk pertanian kecil, wilayah Pozuelos, Anzoategui. Memiliki enam saudara kandung, keluarganya hidup kurang berkecukupan. Jangankan untuk hidup senang, Rojas dan keluarga harus berjuang keras untuk bisa makan setiap harinya. 

Laiknya anak kecil yang sering mencoba segala hal baru, Rojas pun mencari potensi dalam dirinya. Dia berusaha mencari potensi yang bisa mengangkat keluarganya dari zona kemiskinan. Terinspirasi delegasi Venezuela di Olimpiade 2008, Rojas pun mulai menggeluti berbagai olahraga.

Baca Juga: Greysia/Apriyani yang Kembalikan Tradisi Emas Indonesia di Olimpiade

3. Sempat menggeluti olahraga voli dan basket

Punya postur tinggi, Rojas sempat ingin menjadi atlet voli. Hanya saja, nihilnya klub di daerah Anoategui membuatnya mencoba bermain basket. Lagi-lagi, masalah muncul, karena minimnya pelatih yang bisa membuatnya bisa mengembangkan diri secara maksimal. Hal itu membuat keluarga dan pelatihnya pesimistis jika Rojas bisa sukses menjadi atlet, karena memiliki akses ke makanan dan perawatan medis untuk tetap fit.

Beruntung, ayah tirinya Pedro Zapata (yang merupakan mantan petinju), mendaftarkannya ke sekolah khusus olahraga. Dia didorong untuk mencoba atletik di Kompleks Olahraga Simon Bolivar, Puerto la Cruz dalam pengawasan pelatih Jesus "Tuqueque" Velasquez.

Hal itu jadi awal mula Rojas mengenal olahraga atletik. Dia sempat serius mengembangkan diri di nomor tolak peluru dan berhasil memenangkan kompetisi pertamanya. Tak puas di situ, dia terus mencari nomor yang tepat untuk memaksimalkan potensinya, hingga akhirnya mengenal olahraga lompat jauh dan meraih rekor baru menjadi atlet pertama Venezuela yang bercokol di peringkat satu dunia.

4. Meraih kesuksesan di lompat jauh sejak junior

Yulimar Rojas, dari Facebook Hingga Cetak Rekor Lompat Jangkit DuniaYulimar Rojas (Venezuela) peraih medali emas dan memecahkan rekor dunia di cabang olahraga lompat jangkit Olimpiade Tokyo 2020. (thesun.co.uk).

Rojas meraih kesuksesan dalam lompatan kompetitif pertamanya di Kejuaraan Junior Amerika Selatan 2011. Hal itu membuat federasi atletik Venezuela (FVA) mulai memperhatikannya. Prestasi itu juga membuatnya mendapatkan hadiah sepatu yang lebih layak untuk digunakan dalam kejuaraan dari FVA yang diwakili Marco Oviedo.

Prestasi juniornya pun mengalami naik-turun. Rojas sempat merosot di peringkat empat saat kejuaraan junior 2012. Kemudian, kembali tak bisa menjadi juara setahun setelahnya, saat dikejuaraan Ibero-Amerika dan merebut medali perunggu di Kejuaraan U-23 Amerika Selatan. Catatan lompatannya pun terus mengalami perkembangan setiap kejuaraan. 

Pada 2014, Rojas mulai tampil dalam kompetisi reguler lompat jauh. Memulai aksinya di Amerika Selatan, ia meraih medali emas pertama di level senior. Tak berselang lama, dia juga membela negaranya di kejuaraan junior dan berhasil meraih emas di The Pan American Sports Festival.

5. Gabung Barcelona karena Facebook

Demi mengembangkan potensinya, Rojas pun terpaksa meninggalkan keluarganya untuk berlatih di Spanyol pada 2015. Dia mendapatkan undangan langsung dari pelatih asal Kuba, Ivan Pedroso, yang bersedia menjadi pelatihnya, karena tahu potensi yang dimiliki Rojas.

Menarik jika melirik awal mula Rojas bisa gabung ke Barcelona. Semua karena algoritma dari Facebook. Satu waktu, Rojas mendapatkan saran berteman dengan Pedroso dari Facebook. Tanpa ragu, Rojas melayangkan permintaan pertemanan.

Pedroso menerimanya. Kemudian, Rojas juga menuliskan pesan kalau begitu mengidolakan Pedroso. Hingga akhirnya, Pedroso mengundangnya berlatih bersama Barcelona.

Benar saja, potensinya mulai semakin dikenali hingga Rojas mengambil spesialisasi lain di lompat jangkit. Dia meraih berbagai prestasi gemilang dan mendapat penghargaan dari negaranya, hingga bisa mendapatkan kontrak profesional dari Barcelona divisi atletik pada 21 November 2016. 

Berbagai prestasi terus diukir Rojas, di awali menjadi Juara Dunia Kejuaraan Indoor Portland 2016, dia kemudian meraih medali perak di Olimpiade Rio de Janeiro. Setelah itu dia kembali meraih gelar kejuaraan internasional mulai dari 2017-2019, sebelum akhirnya  menyamai catatan legenda, Asnoldo Devonish, satu-satunya peraih medali Olimpiade atletik Venezuela.

"Seperti takdir, semua terjadi begitu saja. Saya bertemu Ivan cuma lewat Facebook dan membuat hidup saya berubah. Saya cetak rekor dunia, meraih emas Olimpiade. Tak terkira nilainya. Saya membuat impian jadi kenyataan," ujar Rojas dikutip The Guardian.

Baca Juga: [BREAKING] Hebat, Greysia/Apriyani Pecahkan 3 Rekor Olimpiade

Topic:

  • Satria Permana

Berita Terkini Lainnya