Comscore Tracker

Carolina Marin, Si Susy Susanti Versi Spanyol

Baru 27 tahun, Marin sudah memenangkan hampir semua gelar

Jakarta, IDN Times - Seperti Susy Susanti bagi bulu tangkis Indonesia, seperti itulah Carolina Marin bagi Spanyol. Bahkan bagi Iker Casillas dan Rafael Nadal sekali pun, dua atlet putra kebanggaan Spanyol, tak bisa menepikan fakta bahwa bagi mereka, sosok Marin-lah yang sukses meletakkan Spanyol di peta persaingan bulu tangkis dunia.

Tunggal putri bernama lengkap Carolina Maria Marin Martin ini sudah menjuarai hampir semua gelar bergengsi yang ada di kancah bulu tangkis dunia di usia yang baru menginjak 27 tahun, pada hari ini, 15 Juni.

Menekuni dansa Flamenco sejak usia dini, siapa sangka, Marin kecil yang kala itu berusia 8 tahun, lantas jatuh cinta dengan olahraga tepok bulu ini dan sejarah kemudian yang mencatat bagaimana seorang diri saja, gadis kelahiran Huelva ini meletakkan Spanyol di pentas bulu tangkis dunia.

1. Menggebrak di kompetisi junior, sebelum mencengangkan publik di Kejuaraan Dunia 2014

Carolina Marin, Si Susy Susanti Versi SpanyolTunggal putri Spanyol, Carolina Marin di Indonesia Masters 2020 (IDN Times/Reynaldy Wiranata)

Menggebrak sejak belia, Carolina Marin menancapkan hegemoninya sejak di level junior. Rentang 2009-2011, di beragam kompetisi kelompok umur, Marin sukses menunjukkan potensinya. Pada tahun 2009, ia menjadi atlet asal Spanyol pertama yang meraih medali di ajang Kejuaraan Eropa Junior.

Dua tahun berselang, Marin muda menjuarai Kejuaraan Eropa Junior 2011 dan di tahun yang sama, ia hampir menapakkan kaki ke partai final Kejuaraan Dunia Junior 2011 sebelum langkahnya dihentikan wakil Indonesia, Elizabeth Purwaningtyas.

Setelah menggebrak di level senior dengan menjuarai London Grand Prix pada 2013, setahun berselang, pesona Marin makin bersinar. Pada 2014, ia sukses mencatatkan diri sebagai pebulutangkis pertama asal Spanyol yang sukses menjadi juara dunia. Di laga final tahun itu, tak tanggung-tanggung, Marin yang baru berusia 21 tahun sukses menundukkan jagoan Tiongkok, Li Xuerui, ratu bulu tangkis dunia saat itu yang juga peraih medali emas Olimpiade 2012 di London.

Dengan kemenangan ini pula, Marin menjadi pebulutangkis putri ketiga dari Eropa yang sukses "mencuri" gelar juara dunia dari wakil Asia mengikuti jejak dua legenda Denmark, Lene Koppen dan Camilla Martin.

Baca Juga: Ranking BWF: Nozomi Okuhara Nomor 1, Carolina Marin Tembus 10 Besar!

2. Melegenda dan menegaskan statusnya sebagai tunggal putri top dunia dengan emas Olimpiade 2016

Carolina Marin, Si Susy Susanti Versi SpanyolTunggal putri Spanyol, Carolina Marin di Indonesia Masters 2020 (IDN Times/Reynaldy Wiranata)

Setelah kemenangan di Kejuaraan Dunia 2014 itu, Marin kemudian sukses mempertahankan gelarnya di tahun 2015, menjuarai All England di tahun yang sama, sebelum mematenkan statusnya sebagai tunggal putri nomor satu dunia di ajang kualifikasi menuju pagelaran bergengsi, Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil.

Datang sebagai unggulan pertama dan status sebagai pebulutangkis putri terbaik, Marin benar-benar tampil menggila. Di partai puncak, gadis yang sedikit fasih berbicara dengan Bahasa Indonesia ini menundukkan perlawanan Pusarla Sindhu dari India dan menggondol emas Olimpiade sekaligus menjadi pebulutangkis non-Asia pertama yang sukes menjadi juara Olimpiade di sepanjang sejarah!

Berkat capaian sensasional itu pula, nama Marin diabadikan di Huelva. Sebuah lapangan bulu tangkis di Huelva diberi nama sesuai nama sang gadis sebagai bentuk penghargaan tentang capaian sensasional sang gadis lokal yang membawa harum nama kota dan negaranya di kancah dunia.

3. Susy Susanti versi Spanyol

Carolina Marin, Si Susy Susanti Versi SpanyolTunggal putri Spanyol, Carolina Marin di Indonesia Masters 2020 (IDN Times/Reynaldy Wiranata)

Sangat mudah menemukan kemiripan karier antara Marin dan legenda hidup bulu tangkis Indonesia, Susy Susanti.

Ketika bulu tangkis baru pertama kali dipentaskan secara resmi di ajang Olimpiade 1992, Susy sukses mengharumkan nama Indonesia dengan menggondol medali emas sekaligus memulai rentetan tradisi medali emas Olimpiade bagi Merah-Putih dari cabor bulu tangkis dari generasi ke generasi.

Dan di level yang kurang mirip, Marin ada di titik yang sama dengan Susy. Bulu tangkis bukan dan sepertinya mustahil jadi olahraga favorit di Spanyol yang begitu gandrung dengan sepak bola. Tapi dengan prestasi fenomenal Marin dan statusnya yang kini jadi global ambassador LaLiga, tak bisa dipungkiri bahwa pesona Marin tak hanya terbatas di bulu tangkis.

Sempat dibekap cedera ACL yang horor, Marin kembali 6 bulan kemudian dengan sebuah gelar juara dan sebuah pernyataan bahwa ia belum habis. Kini, ia baru berusia 27 tahun, waktu masih panjang dan kini namanya sudah meramaikan ranking 10 besar dunia di BWF.

Sebuah alarm penting bagi pemain-pemain muda seperti Chen Yu Fei dan An Se-young bahwa Carolina Marin siap kembali dan ia akan kembali dengan lebih tajam

Baca Juga: Tampil di Indonesia Masters 2020, Carolina Marin: Seperti di Rumah

Topic:

  • Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Berita Terkini Lainnya