Comscore Tracker

Kisah Raheem Sterling dan Masa Kecilnya yang Kelam di Jamaika

Sterling besar di kawasan kriminal

Popularitas Raheem Sterling tak perlu dipertanyakan lagi saat ini. Dikenal dengan karier sepak bolanya yang mentereng, terselip perjuangan luar biasa yang dijalani Sterling beserta orang tuanya di masa lalu.

Kehidupan Sterling saat masih belia jauh dari kata menyenangkan. Tak ada yang bisa ia tunjukkan selain beberapa momen kelam, khususnya saat masih tinggal di Jamaika. Sterling lahir di negara Amerika Tengah itu, sebelum akhirnya bermigrasi ke Inggris.

1. Lahir di daerah rawan kejahatan, ayah Sterling dibunuh oleh geng kriminal

Kisah Raheem Sterling dan Masa Kecilnya yang Kelam di Jamaikapotret Raheem Sterling (skysports.com)

Sterling tak menjalani masa kecil yang bahagia. Ia lahir di Kingston, Jamaika, tepatnya di sebuah distrik bernama Maverley. Kawasan itu terkenal karena tindakan kriminal. Penggunaan senjata oleh beberapa geng merajalela dimana-mana.

Problematika tempat tinggal Sterling makin pelik dengan isu kemiskinan. Dua hal tersebut seakan-akan sudah menjadi sahabat akrab bagi penduduk setempat. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menjalani hidup apa adanya.

Kebetulan, sang ayah, Phillip Slater, berasal dari Waterhouse, kawasan yang merupakan musuh dari distrik Maverley. Takdir itu berujung malapetaka. Sang ayah tak bisa menemani Sterling hidup lebih lama.

Perang antargeng merenggut nyawa ayah Sterling. Sang ayah tewas ditembak. Saat kejadian berlangsung, Sterling masih berusia 2 tahun dan belum sepantasnya ia menerima momen pahit seperti itu.

"Ketika aku masih berusia dua tahun, ayahku dibunuh. Itu membentuk seluruh hidupku," ujar Sterling dikutip dari The Players Tribune.

2. Ditinggal sang ibu yang pergi ke Inggris, Sterling diasuh oleh neneknya

Kisah Raheem Sterling dan Masa Kecilnya yang Kelam di JamaikaRaheem Sterling (twitter.com/sterling7)

Kepergian Phillip Slater selaku kepala keluarga berefek panjang. Kehidupan Sterling beserta keluarganya menjadi goyah. Ibu Sterling, Nadine Clarke, memutuskan untuk pindah ke Inggris di saat usianya masih 3 tahun. Ia terpaksa melakukannya karena masalah ekonomi.

Di Negeri Ratu Elizabeth, Clarke bekerja keras sebagai seorang perawat. Sementara, Sterling dititipkan kepada neneknya selama beberapa tahun. Hidup Sterling semasa anak-anak dilalui tanpa kehadiran kedua orangtua. 

"Aku melihat anak-anak lain bersama ibu mereka dan membuatku cemburu. Aku tak sepenuhnya mengerti apa yang ibuku lakukan. Aku baru tahu kalau dia sudah pergi. Nenekku luar biasa, tetapi semua orang menginginkan ibu mereka pada usia itu," kata Sterling dikutip dari The Players Tribune.

Baca Juga: 10 Fakta Raheem Sterling, Winger Lincah Milik Manchester City

3. Dibawa ibunya ke Inggris untuk memulai kehidupan yang baru

Kisah Raheem Sterling dan Masa Kecilnya yang Kelam di JamaikaRaheem Sterling (skysports.com)

Meninggalkan Sterling saat masih balita merupakan keputusan yang sulit bagi Clarke. Akan tetapi, pilihan itu juga yang mendorong ekonomi keluarga Sterling menjadi lebih baik.

Sang ibu mulai memiliki kehidupan yang mapan. Di saat Sterling berusia enam tahun, ibunya membawa ia bermigrasi ke London. Mereka menetap di kawasan St. Raphael, yang lokasinya cukup dekat dengan Stadion Wembley.

Sejak saat itu, hidup Sterling selalu dihabiskan di Inggris. Tak ada lagi momen-momen kelam, seperti suara tembakan yang ia dengar seperti di Jamaika dulu. 

Akan tetapi, beberapa kesulitan sempat dialaminya saat pertama kali pindah ke Inggris. Beruntungnya, Sterling memiliki seorang ibu yang selalu bekerja keras demi bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya. 

"Itu adalah waktu yang sulit (pindah ke Inggris) karena budayanya sangat berbeda dari yang biasa aku lakukan dan kami tidak punya banyak uang. Namun, ibuku selalu memastikan kami memiliki apa yang kami butuhkan," kata Sterling dikutip dari The Players Tribune.

4. Demi mengenang masa kecilnya, Sterling sering pulang ke Jamaika

Kisah Raheem Sterling dan Masa Kecilnya yang Kelam di JamaikaRaheem Sterling bertemu dengan anak-anak setempat ketika berkunjung ke Jamaika (twitter.com/brfootball)

Di Inggris, Sterling tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. Ia akhirnya sukses menjadi seorang pesepak bola profesional. Meski dirinya membela timnas Inggris di level internasional, Sterling tetap tak melupakan Jamaika begitu saja.

Di sela-sela kesibukan, Sterling acap kali pulang ke tanah kelahirannya itu. Dilansir Mirror, ia membeli sebuah rumah mewah di lereng bukit dekat dengan tempat tinggalnya dahulu.

Sterling membantu menginspirasi para pemuda di Jamaika untuk mengejar impian yang mereka kejar selama ini. Ia juga menyumbangkan dana ke beberapa sekolah serta meningkatkan fasilitas olahraga di daerah terbelakang, khususnya di Maverley. 

“Setiap kali dia datang, kami mendengar dia mengatakan mimpinya untuk mengangkat generasi muda di Jamaika dan tetap menjadi panutan,” kata Damion, sahabat Sterling dikutip dari Sky News.

5. Mengenang perjuangan kedua orang tuanya melalui tato

Kisah Raheem Sterling dan Masa Kecilnya yang Kelam di JamaikaTato senapan M16 di kaki Raheem Sterling. (twitter.com/tornrpg)

Apa yang sudah diraih Sterling saat ini tak terlepas dari jasa besar kedua orang tuanya. Oleh sebab itu, Sterling mengenang kerja keras mereka yang direpresentasikan sebagai tato di tubuhnya.

Momen kematian sang ayah melalui tembakan begitu diingat oleh Sterling. Ia membuat tato berupa senapan M16 yang berada di kaki kanannya sebagai bentuk dedikasi. Meski mendapatkan kritik pedas, khususnya dari kelompok kampanye anti-senjata, Sterling menjelaskan alasannya.

"Ketika aku masih berusia dua tahun, ayahku meninggal karena ditembak. Aku berjanji tidak akan pernah menyentuh senjata api seumur hidupku. Aku menembak dengan kaki kanan (saat bermain sepak bola) sehingga memiliki makna yang lebih dalam (soal kematian ayah)," ujar Sterling dikutip dari Mirror.

Sterling juga membuat tato khusus untuk sang ibu. Perjuangan ibu Sterling yang bekerja keras hingga merantau ke negara lain demi memenuhi kebutuhan hidup membekas di dalam sanubarinya. 

Ia membuat sebuah tato di lengan kanannya berupa tulisan yang berbunyi "Terima kasih mama untuk sembilan bulan kamu menggendongku, melalui semua rasa sakit dan penderitaan." Dengan begitu, Sterling belajar banyak mengenai perjuangan orang tuanya.

 

Raheem Sterling harus melalui masa-masa sulit di dalam hidupnya. Hidup di daerah rawan kriminal hingga bermigrasi ke Inggris, Sterling mampu bangkit dan kini sudah menjadi salah satu pesepak bola sukses di Eropa.

Baca Juga: 5 Klub Langganan Raheem Sterling untuk Mencetak Gol, Klub Mana Saja?

Alvin Pratama Photo Verified Writer Alvin Pratama

@alvnprtm21

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Albin Sayyid Agnar

Berita Terkini Lainnya