Comscore Tracker

Kisah Pilu Para Pemain Sepak Bola Kasta Kedua Menjaga Asa

Pemain Liga 2 harus berjualan sayur keliling selama pandemik

Jakarta, IDN Times - Kembali bergulirnya kompetisi sepak bola Indonesia disambut gembira para pesepak bola tanah air setelah hampir 1,5 tahun 'nganggur' karena terimbas pandemik COVID-19. Industri sepak bola pun kembali bergeliat.

Setidaknya ada 24 ribu orang kembali terlibat dalam industri sepak bola di tanah air yang sempat mati suri. Berdasarkan laporan penelitian yang diungkapkan Kepala Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global LPEM Universitas Indonesa, Mohamad Dian Revindo, kerugian akibat berhentinya kompetisi sepak bola ditaksir mencapai Rp2,7-Rp3 triliun dalam setahun.

Angka tersebut dihitung dari semua elemen yang berkaitan dalam industri sepak bola. Selain pemain, pelatih, wasit, dan official, beberapa unsur lainnya seperti pemodal, pemberi dana dan sponsor, pelaku usaha, hingga UMKM yang biasa berdagang di lingkungan stadion juga terkena efek domino dari masalah tersebut.

Kini semua orang bisa kembali bernafas lega karena kompetisi Liga 1 2021/2022 sudah mulai berjalan. Sementara dua kompetisi di bawahnya segera menyusul. Kick off Liga 2 rencananya akan dilakukan pada 26 September 2021.

1. Pemain bisa mendapatkan gaji di bawah UMR

Kisah Pilu Para Pemain Sepak Bola Kasta Kedua Menjaga AsaPara pemain PSPS Riau berpelukan usai melangsungkan pertandingan di Liga 2 pada 2018 silam (foto ilustrasi). (IDN Times/Herka Yanis).

Bicara lebih spesifik soal dampak yang sangat dirasakan, pesepak bola tentu yang paling merana. Mereka hampir sama seperti beberapa masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat pandemik COVID-19. Tak pelak, kehidupan secara sosial dan ekonomi, mereka pun goyah akibat aktivitas sepak bola yang mati suri. 

Tak sedikit di antara mereka harus kehilangan pendapatannya. Maklum, para pemain ini harus menerima kenyataan mendapatkan pemotongan gaji hingga pembatalan kontrak. 

General Manajer APPI, Ponaryo Astaman, pun sempat prihatin dengan kondisi para pemain yang nasibnya tak menentu. Dia tak menampik kesulitan mereka ini terjadi akibat dari bola salju yang menimpa sepak bola Indonesia, mulai dari vakumnya kompetisi, sampai pemotongan gaji 25 persen lantaran klub tak punya pemasukan. 

“Karena adanya kata maksimal bisa dibayar 25 persen, beberapa klub ada yang membayar gaji pemain hanya dengan 10-15 persen gaji. Ternyata itu banyak terjadi di Liga 2” ujar Ponaryo kepada awak media. 

Dengan adanya pemotongan gaji tersebut, tak sedikit yang hanya bisa mendapatkan penghasilan per bulan di bawah Upah Minimum Regional (UMR). 

Mereka yang mentas di kompetisi kasta tertinggi saja begitu banyak merasakan dampaknya. Apalagi dengan kondisi pemain-pemain Liga 2 dan Liga 3, yang notabene nilai pasarnya berada di bawah pemain-pemain Liga 1. 

Baca Juga: [BREAKING] Akhirnya, Polisi Izinkan Liga 1 dan Liga 2 Berlangsung

2. Agung merasakan dampak pandemik saat PSKC sempat vakum

Kisah Pilu Para Pemain Sepak Bola Kasta Kedua Menjaga AsaPemain PSKC, M Agung Pribadi saat berlatih dengan timnya untuk persiapan Liga 2. (Instagram/@m.agungpribadi).

Banyak yang harus berpikir keras untuk sekadar menjaga dapurnya tetap ngebul. Beberapa pemain bahkan harus banting setir berbisnis hingga berjualan apa saja demi mendapatkan penghasilan. Hal itu dirasakan eks pemain Persib yang saat ini membela klub Liga 2, PSKC Cimahi, Muhammad Agung Pribadi.

Agung yang sumringah kembali ke Jawa Barat usai dikontrak PSKC pada awal 2020, punya ambisi besar membawa klub tersebut naik kasta ke Liga 1. Tak disangka, Liga 2 baru dibuka, virus corona keburu menyerbu Indonesia. Walhasil, kompetisi pun dihentikan.

Hal itu berdampak besar beberapa bulan kemudian. Tim harus dibubarkan sementara hingga klub mendapatkan kepastian dari PSSI dan PT LIB soal kapan kompetisi bisa digulirkan lagi. Dia pun harus menerima kenyataan pahit, lantaran gajinya harus dipotong klub demi menyelamatkan neraca keuangan, sesuai regulasi PSSI.

Agung sendiri mengaku cukup terkena dampak akibat pemotongan gaji itu. Beruntung, dia sudah punya bisnis yang berjalan dalam beberapa tahun terakhir. Sehingga, dirinya punya penghasilan alternatif saat pemasukan yang didapat ranah bal-balan tak sampai 100 persen.

3. Eks gelandang Persib punya bisnis uli ketan yang bisa menopang hidup

Kisah Pilu Para Pemain Sepak Bola Kasta Kedua Menjaga AsaPemain PSKC, M Agung Pribadi saat berlatih dengan timnya untuk persiapan Liga 2. (Instagram/@m.agungpribadi).

Agung memang sudah serius berjualan uli ketan, atau dalam Bahasa Sunda dikenal dengan ulen sebelum pandemik. Tak disangka, bisnis "iseng" itu justru menjadi pondasi dirinya bertahan di tengah ketidakpastian dalam 1,5 tahun terakhir.

Bisnis itu dijalankan secara normal saat dia sibuk di lapangan hijau. Saat kondisi memburuk, Agung justru kebanjiran pesanan melalui penjualan online menggunakan platform e-commerce dan secara offline.

“Kebetulan saya punya bisnis kecil-kecilanan online dengan jualan ulen (uli ketan), terus saya masuk-masukin juga ke beberapa kedai. Itu sangat membantu. Lumayan juga ini. Karena rutin, pemasukan tiap minggu tuh alhamdulillah ada,” kata Agung kepada IDN Times.

Walau tak sebesar penghasilan di sepak bola, eks pemain Persela ini bersyukur pemasukannya dari penjualan uli ketan rutin masuk ke kocek pribadinya. dia merasa, hal itu sudah sangat membantunya bertahan hidup. Apalagi, saat sedang tak bermain bola.

“Sebetulnya masih besar pendapatan dari bermain sepak bola jika kondisinya normal, tapi ini tetap disyukuri sekali. Beruntung juga saya tak punya cicilan saat ini,” ujarnya.

Walau dampak pandemik yang dirasakan masih bisa diminimalisasi, Agung tetap merasa sedih, karena banyak pesepak bola yang tak seberuntung dirinya. Ada beberapa pemain yang sampai kesulitan hanya untuk sekadar makan, karena hidupnya tergantung pekerjaan di lapangan hijau. 

Kondisi itu diperparah dengan minimnya perhatian pemerintah. Maklum, pesepak bola tak seperti orang-orang berprofesi lain, yang mendapatkan bantuan langsung dari para pemangku kepentingan di negara ini selama pandemik berlangsung.

4. Lika-liku Wahyu Army kesulitan di tengah pandemik

Kisah Pilu Para Pemain Sepak Bola Kasta Kedua Menjaga AsaPemain Liga 2, Wahyu Army yang harus berjualan sayur selama kompetisi vakum akibat pandemik. (Dok. Wahyu Armi).

Lain cerita dengan Agung, pemain asal Wonogiri, Wahyu Army, merasakan pengalaman lebih pahit pada masa pendemik ini. Kehidupannya sempat terkatung-katung akibat ketidakjelasan kompetisi. Sudah tak punya klub, dia juga tak memiliki penghasilan di luar sepak bola.

Semua berawal saat Wahyu tak lagi berseragam Persatu Tuban pada awal 2020. Usai klub tersebut degradasi ke divisi 3, dia memilih peruntungan di klub Liga 2 lainnya. Sempat mengikuti seleksi bersama Putra Sinar Giri (sekarang AHHA PS Pati), dia akhrinya tecoret dari tim.

Saat kompetisi Liga 2 baru dibuka, Wahyu masih optimistis bisa mendapatkan klub baru sebelum tenggat transfer pemain. Namun, mimpinya sirna. Pandemik COVID-19 memaksa kompetisi terhenti. Padahal, saat itu dia belum mendapatkan klub sama sekali. 

“Dampaknya besar sekali. Mungkin bukan buat saya sendiri, bagi teman-teman lainnya pun pasti itu berpengaruh juga. Apalagi untuk keberlangsungan hidup sehari-hari,” kata dia melanjutkan.

Tanpa punya penghasilan lainnya, Wahyu pun terpaksa membongkar uang tabungannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal itu terus berlanjut hingga pertengahan 2020. Tak terasa, hal itu membuat koceknya terus menipis.

“Soalnya ladang kami di sepak bola, bukan yang lain. Kalau sepak bola berhenti, kami mau makan apa? Itu penghasilan satu satunya,” kata pemain berusia 27 tahun ini.

Tak mau mengandalkan terus uang simpanannya, Wahyu pun mulai berpikir untuk banting setir mencari pekerjaan lain. Tak dapat banyak pilihan, dia memutuskan membantu orang tuanya berjualan pisang, serta bekerja serabutan sebagai pengantar makanan keliling.

“Ya saya akhirnya sementara bantu orang tua dagang pisang (kebetulan orang tua di kampung jualan pisang). Selain itu saya loper makanan untuk anak-anak, kirim ke warung-warung juga sebagai sopir,” kata Wahyu dengan nada pilu.

5. Tak punya pekerjaan hingga harus berjualan sayuran

Kisah Pilu Para Pemain Sepak Bola Kasta Kedua Menjaga AsaPemain Liga 2, Wahyu Armi yang harus berjualan sayur selama kompetisi vakum akibat pandemik. (Dok. Wahyu Armi).

Lantaran bekerja dengan orang lain, Wahyu merasa penghasilannya masih belum cukup. Dia pun berusaha mencari alternatif untuk berbisnis sendiri. Sempat cari-cari bisnis yang menjanjikan melalui YouTube, dia akhirnya punya ide untuk berjualan sayuran.

Berbekal modal pinjaman teman, Wahyu memberanikan diri mulai berjualan keliling. Dia tak segan menjajakan dagangannya itu ke ibu-ibu di beberapa wilayah daerah kampung halamannya. Dia tak merasa gengsi, karena itu jalan satu-satunya untuk mendapatkan penghasilan.

Menikmati aktivitas barunya, Wahyu perlahan mendapatkan pelanggan yang mayoritas merupakan kalangan ibu-ibu. Uniknya, dia banyak diminta foto oleh para pelanggannya tersebut. Hal itu tak lepas dari banyak informasi yang menyebut dirinya merupakan pesepak bola profesional.

Walau mendapatkan banyak tawaran kembali ke lapangan, Wahyu memilih fokus jual sayuran lebih dulu sebelum dapat kejelasan kompetisi. Dia memilih melakukan pekerjaan yang bisa membantunya mendapatkan penghasilan. Ia bahkan sempat berpikir untuk gantung sepatu dan memilih serius menjadi penjual sayuran keliling. 

“Semenjak jualan, jarang sekali saya latihan bola. Mungkin karena sudah nyaman dengan berjualan. Sampai-sampai, ada beberapa teman dan pelatih yang mengajaknya kembali bermain, saya sempat menolaknya. Maunya kerja aja seperti ini,” kata dia.

Usai menjalani profesi sebagai penjualan sayur selama 11 bulan, Wahyu pun mendapatkan tawaran menggiurkan dari Persipon yang tengah berambisi meraih prestasi di Liga 3 musim ini. Sudah rindu sepak bola, dia pun mengambil tawaran menarik tersebut.

Namun demikian, Wahyu tak menutup ladang rezeki dari berjualan sayur. Dia mempercayakan saudaranya yang belum bekerja untuk melanjutkan usahanya itu. Sebab, dia ingin usaha itu terus berjalan, karena hal itu bisa membantu di masa tua kelak, usai gantung sepatu.

“Saat ini sepak bola masih prioritas, tapi kalau jualan sayur kan sebetulnya bisa buat jangka panjang. Sampai umur berapa aja bisa kita jualan sayur. Apalagi kalau bermain bola di usia 30 sudah sangat sulit bersaing,” kata pemain yang sempat mengantarkan Kalteng Putra promosi ke Liga 1 itu. 

6. FIFPro menyebut adanya peningkatan jumlah pesepak bola depresi

Kisah Pilu Para Pemain Sepak Bola Kasta Kedua Menjaga AsaGrafis soal permasalahan sepak bola Indonesia di masa pandemik COVID-19. (IDN Times/Ilyas Mujib).

Agung dan Wahyu mungkin jadi beberapa pemain yang beruntung karena masih bisa bertahan di tengah pandemik. Tapi di luar sana masih banyak pemain yang merana karena kesulitan menghidupi keluarganya.

Masalah ekonomi yang dirasakan pesepak bola, tentu berpotensi memberikan efek pada psikologi para pemain. Hal itu sudah dibuktikan dari hasil penelitian asosiasi pesepak bola internasional (FIFPro) yang bekerja sama dengan Pusat Medis Universitas Amsterdam, soal dampak pandemik yang meningkatkan depresi pesepak bola.

Dikutip dari The Athletic, melalui survei yang dilakukan kepada ribuan pesepak bola dari 16 negara di dunia, dengan rincian sebanyak 1.134 atlet pria berusia rata-rata 26 tahun, dan 468 atlet wanita berusia sekitar 23 tahun, menunjukkan, perkembangan jumlah pemain yang mengalami depresi selama pandemik.

Tercatat, ada 22 persen pesepak bola wanita dan 13 persen pria mulai merasakan gejala depresi. Jumlah itu meningkat tajam dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan sebelum pandemik. 

Sekjen FIFPro, Jonas Baer-Hoffman menyebut, hasil survei itu adalah cerminan salah satu masalah yang dirasakan masyarakat pada umumnya. Sebab, para pesaepak bola juga adalah bagian dari society. Hal itu dinilai lumrah jika mereka merasakan kondisi keuangannya terganggu pada masa-masa sulit seperti ini.

“Mereka mendapatkan kontrak rata-rata tak lebih dari dua tahun, plus pendapatan yang hampir sama dengan masyarakat pada umumnya. Masalahanya, mereka hanya bergantung pada keterampilan sepak bola saja. Sehingga, mereka tak bisa melakukan hal apapun di luar itu, jika ada masalah menimpanya,” ujar Baer-Hoffman.

7. Pemain nasional di bawah bayang-bayang ancaman depresi

Kisah Pilu Para Pemain Sepak Bola Kasta Kedua Menjaga AsaPertandingan 8 besar Liga 2 antara Persebaya Surabaya vs PSIS Semarang di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Jawa Barat, pada 2-17 lalu (foto hanya ilustrasi). (IDN Times/Herka Yanis).

Walau tak menyebut spesifik terkait pemain di negara mana yang paling banyak terkena dampaknya, data tersebut menunjukkan ancaman depresi atau masalah kesehatan mental ikut membayangi pesepak bola nasional, terutama dari pemain-pemain yang tampil di kompetisi di bawah Liga 1. 

Kenapa Liga 2 dan Liga 3 yang mendapatkan sorotan? Sebab, dampak besar lebih dirasakan klub-klub tersebut dalam 1,5 tahun terakhir karena vakumnya kompetisi. Di waktu normal saja, klub-klub Liga 2 dan Liga 3 masih butuh usaha besar hanya untuk menggaji pemain dan ikut kompetisi.

Pandemik ini tentu membuat finansial klub-klub semakin merasakan kesulitan. Ujung-ujungnya, pemain yang bakal menjadi korban lagi. Hal itu membuka peluang para pesepak bola bisa depresi. Apalagi, akses para pemain mendapatkan layanan kesehatan mental, seperti psikolog, masih cukup terbatas. 

Tak bisa dipungkiri, kesulitan klub-klub membayar gaji para pemain, terjadi selama pandemik berlangsung. Sejak medio akhir 2020 hingga awal 2021, tak sedikit klub yang memutuskan untuk membubarkan tim hingga dapat kepastian kompetisi. Hal itu yang membuat gaji pemain-pemain jadi tersendat.

Saat kompetisi dihentikan, PSSI sebetulnya mengeluarkan surat keputusan Nomor SKEP/48/III/2020. Mereka membuat aturan jika klub-klub diizinkan memberikan gaji pemain tak penuh, sesuai ketentuan regulasi tersebut. Namun, hal itu tak banyak membantu klub-klub untuk membayar gaji pemain.

Kesulitan sempat dirasakan PSMS pada pertengah tahun lalu. Sekretaris tim, Julius Raja mengaku, manajemen harus mati-matian mendapatkan uang untuk membayar hak pemain. Walau SK itu berlaku, mereka tetap saja susah memenuhi kebutuhan untuk membayar gaji pemain dan official walau cuma 25 persen. 

“Pertanyaannya, yang bayar pemain siapa? Ya klub,” kata Julius yang kebingungang karena mereka juga terancam sanksi dari FIFA jika tak memenuhi kewajibannya.

8. PS Hizbul Wathan (PSHW) ketar-ketir mempertahankan tim di tengah pandemik

Kisah Pilu Para Pemain Sepak Bola Kasta Kedua Menjaga AsaLogo baru PS Hizbul Wathan. Instagram/@gsa.soccer

Klub promosi Liga 2, yakni PS Hizbul Wathan (PSHW) juga punya masalah yang sama. Mereka tak menampik pemasukan selama pandemik sangat minim. Di sisi lain, aktivitas klub terus berjalan, karena pemain sudah kadung dikontrak. Paddahal pos terbesar pengeluaran klub ada di gaji pemain

Membayar pemain tanpa ada kompetisi dan pemasukan yang jelas, membuat mereka sempat mengap-mengap bertahan selama pandemik. Beruntung, manajemen bertanggung jawab sebisa mungkin menjaga stabilitas tim.

“Meskipun kami tertatih-tatih dengan pembiayaan yang tidak sedikit, tapi kami terus mempertahanka tim, InyaAllah ada jalannya,” ujar Presiden PSHW, Suli Daim melalui pesan singkat di Aplikasi WhatsApp.

Apa yang dirasakan klub-klub Liga 2 ini tentu jauh lebih berat. Praktis mereka tak punya aktivitas apapun selama 1,5 tahun. Berbeda dengan klub Liga 1 yang pada beberapa bulan terakhir bisa beraktivitas dan mendapatkan pemasukan lagi, karena tampil di Piala Menpora 2021.

Usaha mati-matian pun dilakukan PSHW untuk bisa mempertahankan tim. Dalam beberapa bulan terakhir, mereka tetap menggelar persiapan agar tim bisa bertanding jika kompetisi Liga 2 sudah siap dihelat. Walau kehilangan beberapa penggawa, mereka berhasil mempertahankan 14 pemain untuk musim ini. 

Pemusatan latihan pun dilakukan PSHW di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Brigif 18, hingga beberapa tempat lain untuk meningkatkan kualitas tim.

“Kompetisi bisa berjalan saja alhamdulillah dengan berbagai konsekuensi klub maupun semua pemain. Doakan saja semoga PSSI dan operator PT LIB, bisa melaksanakan kompetisi ini dengan sukses sesuai harapan kita semua,” kata Suli mengingat kembali timnya sulit bertahan.

9. Masih ada laporan dari APPI soal sengketa pemain dan klub

Kisah Pilu Para Pemain Sepak Bola Kasta Kedua Menjaga AsaPara pemain Persebaya menyapa penggemarnya, usai melangsungkan laga di Liga 2 2019 (foto hanya ilustrasi). (IDN Times/Herka Yanis).

Kondisi krisis klub akibat pandemik ini tentu membuat masalah semakin kompleks. Saat kompetisi berjalan saja, masalah tunggakan gaji masih banyak dijumpai di kompetisi Indonesia. Saat kompetisi berhenti, masalah itu semakin terasa, karena klub sama sekali tak punya pemasukan untuk menyelesaikan masalahnya.

Berdasarkan laporan terakhir Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) dari putusan National Development and Reform Commission (NDRC), masih ada beberapa klub Liga 2 yang belum menyelesaikan sengketa dengan pemainnya.

Klub Liga 2 yang belum bisa menyelesaikan sengketa jelang sepak mula kompetisi adalah Kalteng Putra, PSKC,  hingga Persekat Tegal. Masalahnya beragam, mulai dari tunggakan gaji hingga pemutusan kontrak pemain secara sepihak. 

APPI mencatat, Kalteng Putra sejauh ini masih menunggak gaji kepada 26 pemainnya, sementara Persekat punya masalah serupa kepada tujuh pemainnya, dan PSKC bersengketa sola pemutusan kontrak sepihak kepada beberapa pemain.

APPI pun menegaskan, semua masalah ini harus diselesaikan oleh pihak-pihak yang bersengkat. Sebab, jika tidak, mereka dipastikan bakal mendapatkan sanksi tegas karena sudah abai terhadap tanggung jawabnya, termasuk di larang tampil di kompetisi.

PT LIB pun berjanji, bakal melakukan verifikasi semua peserta, termasuk Kalteng Putra yang berstatus sebagai tuan rumah di Liga 2 2021 yang masih punya sengketa dengan pemainnya. Mereka meminta, seluruh klub yang bermasalah, wajib menyelesaikan sebelum kick-off dimulai. 

“Itu nanti akan kami verifikasi apakah ada masalah yang belum selesai atau sudah. Harapan kami, sebelum kick-off, sudah selesai semua. Soal Kalteng itu menjadi bagian yang akan kami verifikasi,” kata Direktur Operasional PT LIB, Sudjarno. 

10. Momentum pemain untuk kembali menata hidup lewat sepak bola

Kisah Pilu Para Pemain Sepak Bola Kasta Kedua Menjaga AsaPara pemain Cilegon United melakukan selebrasi usai mencetak gol dalam salah satu pertandingan Divisi Utama Indonesia beberapa tahun lalu di Stadion Krakatau Steel, Cilegon, Banten. (IDN Times/Herka Yanis).

Kini, tinggal menunggu ketegasan PT LIB dan PSSI apakah bakal abai atau tidak terhadap hak-hak belum dibayarkan pada pemain. Sebab, akan percuma rasanya jika kompetisi kembali digelar, tapi masalah lama malah dibiarkan. Hal itu bakal mencoreng profesionalitas industri sepak bola tanah air.

Agung, Wahyu, dan pelaku sepak bola lainnya, tentu senang mendengar kompetisi bisa segera bergulir. Asa mereka tak banyak. Selain kompetisi Liga 2 dan Liga 3 ke depan bisa berjalan dengan lancar, mereka berharap klub-klub bisa menyelesaikan tanggung jawabnya yang belum selesai kepada rekan-rekannya seprofesinya di lapangan hijau. 

Selain itu, mayoritas pemain juga ingin klub-klub memberikan jaminan perihal kontrak yang jelas. Sehingga, tak ada lagi masalah sengketa yang melibatkan para pesepak bola dan klub di masa yang akan datang. Jika semua sudah bisa berjalan sebagai mana mestinya, tentu mereka bisa fokus untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Sambil menunggu permasalahan diselesaikan federasi, operator kompetisi, dan klub, para pemain kini boleh sedikit optimistis, karena aktivitas sepak bola bisa kembali bergeliat. Yang terpenting, mereka kini mulai bisa menata hidup karena bisa mendapatkan penghasilan kembali dari profesi yang sudah lama mereka jalani ini.

Tak berlebihan, ini jadi momentum untuk berbenah dan kebangkitan sepak bola tanah air. Selain para pencari nafkah di lapangan hijau bisa mengais rezeki lagi, ini harus jadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan federasi dan operator kompetisi untuk terus memperbaiki diri.

Jika semua bisa dijalankan dengan baik, tak ada lagi pemain sepak bola, baik di Liga, 1 Liga 2, sampai Liga 3 yang harus terkatung-katung hidupnya akibat aktivitas dan regulasi sepak bola yang tak menentu.

Baca Juga: Ada Peluang Lokasi Tempur Liga 1 dan Liga 2 Ditambah

Topic:

  • Dwi Agustiar

Berita Terkini Lainnya