Comscore Tracker

Kesempatan Kedua untuk Javier Saviola

Di antara futsal dan sepak bola

Bicara soal sepak bola tahun 2000-an, beberapa nama mungkin kita jagokan di video game Winning Eleven. Sebut saja Ronaldinho, Adriano, Roberto Carlos, Zlatan Ibrahimovic, Pavel Nedved, ataupun Ricardo Kaka yang menghiasi kenangan kita terhadap game satu ini.

Satu lagi nama yang tidak boleh luput ialah Javier Saviola yang kerap kali digunakan player kala menggunakan Barcelona ataupun Real Madrid. Terlepas dari kehebatan Saviola di video game, pemain berjuluk El Conejo ini ternyata punya kisah menarik dalam kariernya sebagai seorang atlet.

Tidak hanya di sepak bola, Saviola juga pernah merambah di karier futsal profesional. Lantas, bagaimana kisahnya? Berikut kami sajikan kisahnya dalam artikel berikut ini, check this out!

1. Wonderkid dan idola pada masanya

Kesempatan Kedua untuk Javier SaviolaJavier Saviola - River Plate (argentina.as.com)

Pada medio 2000-an, Javier Saviola merupakan idola bagi para penggemar sepak bola. Kecepatannya dalam menggiring bola dan skill khas Amerika Latin yang ia miliki menjadi alasan mengapa Saviola sangat dipuja-puja kala itu.

Saviola memulai karier sepak bola profesionalnya bersama River Plate pada tahun 1998. Kehebatannya langsung tampak setahun kemudian. Tepatnya pada tahun 1999, Saviola berhasil menyabet beberapa gelar.

Gelar top skor Liga Apertura Argentina, Player of the year Argentina, dan gelar juara Liga Apertura bersama River Plate adalah beberapa gelar yang berhasil ia dapatkan di umur 18 tahun. Selain itu, Saviola juga berhasil menyabet penghargaan El Pais yang merupakan penganugrahan pesepak bola terbaik Amerika Selatan.

2. New Maradona

Kesempatan Kedua untuk Javier SaviolaJavier Saviola Argentina (fifa.com)

Bagaikan Kylian Mbappe di masa sekarang, Saviola dulu adalah pemain yang sangat hebat dan cemerlang. Terhitung hingga saat ini Saviola masih memegang rekor sebagai peraih gelar El Pais termuda sepanjang sejarah. Tak heran banyak orang menyimpan harapan pada karier pemain satu ini dan menjulukinya sebagai “New Maradona”.

Pada tahun 2001, Saviola berhasil membawa Timnas Argentina meraih gelar juara Piala Dunia U-20. Di turnamen tersebut, Saviola juga berhasil menyabet 2 gelar individu sekaligus, yakni gelar pemain terbaik dan top skor turnamen. Dengan prestasi tersebut, publik semakin yakin bahwa "New Maradona" ini bisa membawa masa depan Argentina lebih berjaya nantinya.

Baca Juga: 5 Pemain Hebat yang Gagal Berkarier Sebagai Pelatih, Ada Maradona!

3. Awal mimpi buruk Saviola di Barcelona

Kesempatan Kedua untuk Javier SaviolaJavier Saviola - Barcelona (antena3.com)

Di tahun yang sama, Saviola diboyong oleh Barcelona dari River Plate dengan banderol 35,9 juta euro atau sekitar Rp627 miliar. Musim debut Saviola di Barcelona berjalan dengan lancar. Torehan 17 gol berhasil ia lesakkan di musim tersebut yang membuat dirinya masuk ke daftar lima besar top skor LaLiga musim 2001/2002.

Namun, musim berikutnya tidak berjalan baik bagi Si Kelinci. Torehan golnya menurun drastis seiring dengan manajemen Barcelona yang sedang sering bongkar pasang pelatih kala itu. Mimpi buruknya datang ketika Frank Rijkaard datang untuk mengarsiteki Barcelona.

Kala itu Saviola bukan lagi pilihan utama karena Rijkaard lebih memilih Patrick Kluivert untuk masuk skema strateginya. Akhirnya pada musim 2004--2006, Saviola menghabiskan waktunya di Sevilla dan Monaco dengan status pinjaman.

Saviola sempat kembali lagi ke Barcelona pada musim 2006/2007, namun ia tidak bisa menunjukkan kemampuan terbaiknya di hadapan Rijkaard. Hal inilah yang membuat Saviola akhirnya menyebrang ke sang rival, Real Madrid, pada tahun 2007.

4. Benfica dan akhir karier di sepak bola

Kesempatan Kedua untuk Javier SaviolaJavier Saviola - Benfica (vanguardia.com/AFP)

Lagi-lagi Real Madrid bukanlah tempat yang cocok bagi Saviola. Skuad Real Madrid yang kala itu diisi rombongan Belanda membuatnya kalah saing dan terpaksa terbuang dari skuad Los Galacticos.

Dua tahun bertahan di Real Madrid, Saviola akhirnya pindah ke Benfica untuk menyelamatkan kariernya. Beruntung bagi Saviola, Benfica merupakan pilihan yang tepat untuk melanjutkan kariernya.

Banyak gelar berhasil ia persembahkan untuk Benfica di antara tahun 2009 hingga 2012. Di Benfica, Saviola berhasil menghadirkan koleksi penghargaan individu baru baginya, yaitu gelar pemain terbaik Liga Portugal tahun 2010. 

Setelah menghabiskan waktu 3 tahun bersama Benfica, Saviola akhirnya hengkang dan berpetualang ke klub-klub lain, seperti Malaga, Olympiacos, dan Hellas Verona. Akhirnya ia kembali ke River Plate dan memutuskan untuk gantung sepatu di klub yang membesarkan namanya.

5. Kesempatan kedua bagi Saviola

Kesempatan Kedua untuk Javier SaviolaJavier Saviola - Futsal (radiomarcaalmeria.com)

Setelah memutuskan untuk pensiun di River Plate pada tahun 2016, Saviola melanjutkan kariernya sebagai seorang asisten pelatih tim sepak bola yang bernama Ordino di Andorra. Baru dua tahun Saviola menjalani kariernya sebagai asisten pelatih, tawaran menarik datang kepada Saviola untuk kembali bermain di lapangan. Namun, kali ini Ia ditawari untuk menjadi pesepak bola dengan lapangan yang lebih kecil, yakni futsal.

Akhirnya pada tahun 2018 dirinya bergabung dengan FC Encamp yang merupakan tim futsal profesional Andorra. Keputusan Saviola untuk bermain futsal merupakan salah satu pilihan tepat bagi dirinya. Terbukti dalam dua tahun kariernya di futsal, Saviola berhasil meraih gelar juara bersama FC Encamp di liga profesional Andorra.

Yang lebih menakjubkannya lagi, Javier Saviola berhasil mencetak 60 gol dari 13 laga yang menjadikannya sebagai top skor Liga Futsal Andorra pada tahun 2019. Raihan individu tersebut menutup kariernya di Futsal dengan manis dan kini Saviola bisa lebih fokus untuk berkarier sebagai asisten pelatih sepak bola di FC Ordino, Andorra.

 

Itulah kisah karier sepak bola seorang Javier Saviola dan kesempatan yang ia punya di lapangan futsal. Mungkin hancurnya bakat Saviola bukan semata-mata karena Rijkaard saja, namun karena Si Kelinci tidak berhasil berjuang keluar dari keterpurukannya dan sulit untuk mempertahankan performanya di lapangan. Setidaknya, futsal adalah kesempatan kedua terbaik yang diambil oleh Javier Saviola untuk menutup kariernya di dunia si kulit bundar dengan seutuhnya.

Baca Juga: Ukuran Lapangan Futsal Nasional dan Internasional

Mufqi Fajrurrahman Photo Verified Writer Mufqi Fajrurrahman

Mahasiswa tingkat akhir yang menunggu acc dosen

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Atqo

Berita Terkini Lainnya