Comscore Tracker

Kisah Sugeng dan Terhentinya Trah Aremania oleh Kematian

Bapak Aremania kehilangan anaknya yang Aremanita

Jakarta, IDN Times - Sugeng Riyadi adalah Aremania sejati. Dia senang membawa anak-anaknya ke stadion, tak terkecuali Alvinia Maharani Putri. Dia ingin menjaga trah Aremania di keluarganya. Dia ingin anak-anaknya tahu, Arema adalah kebanggaan.

"Saya kelahiran Malang, otomatis saya juga Arema, anak-anak saya juga kelahiran Malang, Arema juga, Ya mau tidak mau mendukung Arema. Mulai kecil saya kenalkan dengan kebanggaan di Malang, yaitu Arema," ujar Sugeng saat ditemui IDN Times di rumahnya, Selasa (4/10/2022).

Upaya Sugeng membuahkan hasil. Seiring berjalannya waktu, anak-anaknya tumbuh jadi Aremania sejati. Dua anaknya laki-laki, sedangkan satu anaknya perempuan. Mereka semua senang menonton Arema. Akan tetapi, siapa sangka, hal ini membawa sesuatu yang buruk baginya di kemudian hari.

Ya, pada Sabtu (1/10/2022), Alvinia, salah satu anaknya, jadi salah satu dari ratusan korban tragedi di Stadion Kanjuruhan. Satu trah Aremania pun terputus saat itu.

1. Ketiga anaknya menonton laga Arema vs Persebaya

Kisah Sugeng dan Terhentinya Trah Aremania oleh KematianSugeng Riyadi, salah satu ayah dari korban meninggal tragedi Kanjuruhan (IDN Times/Gilang Pandutanaya)

Sugeng mengungkapkan, saat laga Arema vs Persebaya pada Sabtu (1/10/2022) malam, ketiga anaknya menyaksikan laga langsung ke stadion. Namun, mereka semua berangkat terpisah. Mereka berangkat bersama teman-temannya masing-masing.

"Yang pertama sama temennya, yang kedua sama temennya juga, yang bungsu juga, tapi anak kedua dan kakaknya ketemu di stadion, sempet foto bersama, tapi yang pertama ini tidak memiliki tiket. Anak saya yang kedua itu dapat tiket di tribune 4," ujar Sugeng.

Pada akhirnya, sang kakak pun mendapatkan tiket di tribune empat. Alvinia, sang anak kedua, masuk ke tribune empat bersama teman-temannya. Ketika itu, stadion sudah menjadi lautan manusia. Alvinia dan sang kakak terpisah. Si bungsu sudah masuk VIP.

"Karena dicari tidak ada, kakaknya ketemu sama temennya (Alvinia). Temannya bilang adeknya sudah di atas. Kakaknya turun, pegang bendera, itu kejadiannya. Di tribune 4 itu adeknya dan kakaknya," ujar Sugeng.

Perpisahan ini jadi awal petaka. Siapa sangka, selepas laga, tragedi pecah dan membuat situasi di Kanjuruhan bagaikan neraka.

Baca Juga: 6 Fakta Stadion Kanjuruhan, Saksi Bisu Perjalanan Arema

2. Sang kakak dan adik pulang, tapi tidak dengan Alvinia

Kisah Sugeng dan Terhentinya Trah Aremania oleh KematianSuasana rumah duka salah satu korban meninggal tragedi Kanjuruhan (IDN Times/Gilang Pandutanaya)

Singkat cerita, laga tuntas. Situasi rusuh, dibarengi gas air mata yang mulai menyelinap. Sang kakak dan Alvinia terpisah. Sang kakak mencari Alvinia di tribune, tetapi tidak bertemu. Dia mengira, sang adik sudah pulang duluan.

"Karena dikira sama teman-temannya, sang kakak itu melihat adiknya di tribune sudah tidak ada. Dipikir adenya sudah pulang, pulanglah kakaknya. Sesampainya di rumah, saya tanya, mana adikmu, sama teman-temannya yah, gitu," ujar Sugeng.

"Terus adiknya yang menonton di VIP, pulang juga. Setelah pulang saya tanya, mana kakaknya? Sama temen-temannya juga, gitu. Terus adeknya berangkat lembur," lanjutnya.

Sugeng terus diliputi perasaan khawatir. Hingga pukul satu dini hari, dia terus menantikan kabar sang anak. Sampai akhirnya, ada yang mengetuk pintu rumahnya, mengabarkan Alvinia berada di rumah sakit. Dia mengira sang anak hanya pingsan.

"Jam satu lebih seperempat ada orang ketuk pintu, ternyata itu temannya yang tidak ikut. Dia dapat foto Nia (Alvinia), dibilang posisinya di Rumah Sakit Wava Husada. Saya kira dia pingsan," ujar Sugeng.

Rupanya, perkiraan Sugeng salah. Sang anak yang ada di rumah sakit, rupanya sudah terbujur kaku. Dia sudah berpulang keharibaan Sang Maha Kuasa, dan di situlah, perasaan Sugeng hancur dan tak terdefinisikan.

"Ya mau bagaimana lagi, mau marah, ya gimana. Saya sudah tidak bisa ngomong lagi. Jenazah saya bawa pulang ke rumah, langsung dimakamkan," kenang Sugeng.

3. Harapan Sugeng ke depannya

Kisah Sugeng dan Terhentinya Trah Aremania oleh KematianSuasana rumah duka salah satu korban meninggal tragedi Kanjuruhan (IDN Times/Gilang Pandutanaya)

Sugeng sudah ikhlas anaknya berpulang. Rasa sakit itu tetap ada, tetapi dia sudah lebih tenang. Malah, ada satu harapan yang terselip. Dia ingin, tragedi Kanjuruhan ini jadi yang pertama dan terakhir.

"Saya mohon dengan hormat, kepada panpel Arema, aparat, dan pihak terkait, ini kejadian terakhir. Ini pengalaman yang sangat pahit dan menyakitkan. Saya sebagai Aremania, saya sebagai bapak dari seorang Aremanita, saya benar-benar terpukul dengan kejadian ini," ujar Sugeng.

Baca Juga: Jokowi Akan Berikan Langsung Santunan Korban Tragedi Kanjuruhan

Topic:

  • Vanny El Rahman

Berita Terkini Lainnya