Comscore Tracker

Aksi Teatrikal Cerdas Martin Tyler dan #GerakanMuteMassal

Martin Tyler bergaya dramatis, tapi penuh unsur edukasi

Jakarta, IDN Times - #GerakanMuteMassal tengah menggema di jagat media sosial twitter. Sejumlah penggila sepak bola lokal, meramaikannya karena mulai merasa gerah dengan ocehan salah seorang komentator di stasiun televisi swasta.

Sasaran mereka adalah Valentino "Jebret" Simanjuntak. Yang menyerang Valentino bukan orang sembarangan.

Beberapa pentolan suporter seperti Andi Pecie juga bersuara dan menggelorakan #GerakanMuteMassal. Bahkan, Oland Fatah, salah satu presenter olahraga ternama Tanah Air juga sampai bersuara.

Lewat media sosialnya, Oland menyatakan komentator memiliki tugas moral untuk memberikan edukasi masyarakat tentang sepak bola.

1. Tugas utama komentator

Aksi Teatrikal Cerdas Martin Tyler dan #GerakanMuteMassalskysports.com

Memang benar, tugas komentator tak cuma sebagai pelengkap saja di dalam pertandingan sepak bola.

Mereka harus bisa memberikan pandangan dengan komentar kritisnya, sekaligus edukasi terkait apa yang terjadi dalam sepak bola. Artinya, pembahasan taktik, literasi, serta diskusi berbobot terkait laga, sangat dinantikan publik

Jadi, wawasan yang dimiliki sangat menentukan dalam pekerjaan sebagai komentator. Apalagi, kalau mereka memang berstatus mantan pemain sepak bola, pastinya ada nilai plus.

Sejumlah komentator di masa sekarang, memang berstatus mantan pemain. Sebut saja Jamie Carragher, Rio Ferdinand, Gary Neville, Paul Scholes, hingga Roy Keane.

Paling ikonik adalah Jim Beglin, mantan pemain Liverpool, yang jadi komentator papan atas di Premier League hingga akhirnya dikontrak game Pro Evolution Soccer.

Baca Juga: Susah Payah ManCity Tegaskan Dominasi di Liga Champions

2. Martin Tyler sang fenomenal

Aksi Teatrikal Cerdas Martin Tyler dan #GerakanMuteMassalDaily Mirror / Striker Manchester City, Sergio Aguero

Namun, dari nama-nama di atas, masih ada yang lebih ikonik. Dia adalah Martin Tyler.

Saat ini, Tyler dikenal sebagai komentator tertua di dunia. Usianya sudah menginjak 74 tahun.

Tyler dikenal begitu nyetel saat berpartner dengan Peter Drury, Jim Beglin, dan Alan Smith. Mereka selalu ditunggu fans untuk turun gunung.

Gaya Tyler terbilang teatrikal. Drama selalu disajikan lewat suaranya. Tyler mampu membuat penontonnya larut dalam kegembiraan, kesedihan, hingga ketegangan dalam sebuah momen.

Paling ikonik, adalah saat Tyler mengomentari aksi Sergio Aguero dalam drama di masa injury time kala Manchester City mengalahkan Queens Park Rangers dalam partai pamungkas Premier League musim 2011-12.

"Aguerooooooooooo," begitu teriakan Tyler.

Teriakan Tyler yang benar-benar membuat pecah atmosfer laga. Emosi langsung membuncah. Tak henti-hentinya, Tyler berkomentar usai berteriak, "Aguerooooooooooo".

Sorot kamera televisi juga begitu mumpuni. Tak cuma para pemain ManCity yang kena sorot, tapi juga fans yang bikin atmosfer jadi makin larut.

3. Reaksi natural

Aksi Teatrikal Cerdas Martin Tyler dan #GerakanMuteMassalDaily Mirror / Selebrasi Sergio Aguero usai jebol gawang Queens Park Rangers

Tyler mengakui, itu menjadi momen paling mendebarkan dan terbaik dalam kariernya sebagai komentator. Tyler sebenarnya sudah tahu Aguero akan cetak gol kala itu.

Dari pergerakannya saja, Tyler sudah melihat potensi Aguero mencetak gol kemenangan dramatis.

"Jadi, saya siapkan paru-paru ini, tarik napas lebih dalam, hingga akhirnya berteriak, 'Aguerooooooooo'. Ini momen yang seharusnya saya antisipasi. Momen Aguero, Edin Dzeko, semua punya ManCity. Saya tak melakukan efek tertentu demi drama. Cuma cinta terhadap sepak bola," kata Tyler dilansir FourFourTwo.

Tyler mengakui, Aguero cukup terkesan mendengar komentar spontannya yang begitu dramatis terkait gol tersebut. Bagi Aguero, dilanjutkan oleh Tyler, itu adalah sebuah penghormatan.

"Saya juga akan senang hati membahasnya dengan Aguero. Tapi, saya tak mau menginisiasinya untuk dikenang lewat sebuah bahasan. Biarkan itu jadi sebuah momen yang langka," ujar Tyler.

4. Tak salah bersikap teatrikal, tapi...

Aksi Teatrikal Cerdas Martin Tyler dan #GerakanMuteMassalinstagram/radotvalent

Aksi teatrikal boleh saja dipakai oleh komentator. Namun, merujuk pada Tyler, dia tak menghilangkan unsur edukatifnya.

Bahkan, Tyler begitu berbobot saat harus memberikan pandangannya dalam sepak bola lewat pekerjaan sebagai komentator.

Karena selalu memberikan drama tersendiri saat menjalani pekerjaannya, tak jarang Tyler selalu dapat kritikan dari penonton, ketika ada momen yang dikomentarinya dengan datar.

Itu terjadi saat Erik Lamela mencetak gol lewat teknik tendangan rabona. "Yak, masuk," cuma begitu komentar Tyler.

Fans banyak yang heran dengan komentar Tyler. Menurut mereka, sudah seharusnya gaya dramatis yang ditumpahkan dalam gol tersebut. Tapi, Tyler tak peduli dan cuma berkomentar sampai situ.

Ya, pada akhirnya momen tersebut cuma lewat saja. Tak ada yang memperpanjangnya.

"Semua karena reaksi, spontanitas, bukan sebuah aksi," tegas Tyler.

Baca Juga: Tagar #GerakanMuteMassal Menggema, Valentino Jebret Jadi Sorotan

Topic:

  • Satria Permana

Berita Terkini Lainnya