Comscore Tracker

7 Masjid Tradisional di Kalsel yang Harus Kamu Tahu

Kental dengan nuansa budaya dan sejarah Banjar

Masjid tradisional merupakan masjid yang dibangun sejak penyebaran Islam pertama kali ke suatu daerah. Bentuk atau langgam masjidnya pun sesuai dengan situasi dan kondisi pada masa itu.

Di Indonesia, ada banyak sekali masjid tradisional, tak terkecuali dengan Kalimantan Selatan. Sebagai daerah yang menerima pengaruh agama Islam, tentu ada banyak sekali masjid yang didirikan. 

Pada dasarnya, masjid tradisional di Kalimantan Selatan mengambil pola masjid dari Jawa. Hal tersebut dikarenakan Kesultanan Banjar menerima pengaruh agama Islam yang sangat kuat dari Kerajaan Demak.

Meski begitu, masjid di Banjar ini tetap memiliki tradisi sesuai budayanya sendiri lho gaes. Bahan bangunan dari kayu ulin dan ornamen jamangnya menjadikan ciri khas yang indah tiada dua. Letaknya yang berada di tepian sungai menambah tampilannya menjadi eksotis.

Ini dia masjid-masjid tradisional di Kalimantan Selatan yang tentunya menyimpan banyak cerita sejarah.

1. Masjid Sultan Suriansyah di Kuin Utara Banjarmasin

7 Masjid Tradisional di Kalsel yang Harus Kamu Tahudalunawisata.com

Masjid Sultan Suriansyah terletak di Kuin Utara Kota Banjarmasin. Dibangun pada 1526 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah, sultan Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Sebagai masjid tertua, gaya bangunan masjid ini sangat mencerminkan situasi dan kondisi pada masa penyebaran agama Islam pertama kali di tanah Banjar.  

Masjid bergaya tradisional Banjar ini memiliki bentuk arsitektur berupa konstruksi bangunan panggung dan beratap tumpang. Ketika masuk ke bagian dalam, kamu bisa melihat ornamen-ornamen khas Banjar yang sangat indah.

2. Masjid Al-A'la di Desa Jatuh, Barabai

7 Masjid Tradisional di Kalsel yang Harus Kamu Tahusitusbudaya.id

Masjid yang berada di Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini diperkirakan berdiri pada pertengahan abad ke-17 Masehi. A'la dalam Bahasa Arab berarti "tinggi". Masjid ini diberi nama Al A'la karena memiliki halaman yang sangat tinggi.

Masjid tinggi ini merupakan situs religi bersejarah bagi Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Selain karena masjid tertua di kabupaten ini, masjid yang memiliki lantai dasar setinggi 1,5 meter ini juga menjadi saksi berbagai peristiwa penting dalam sejarah. Salah satunya, sebagai markas pasukan Baratib untuk mengatur siasat perang melawan Belanda.

3. Masjid Jami' Sungai Jingah di Antasan Kecil Timur Banjarmasin

7 Masjid Tradisional di Kalsel yang Harus Kamu TahuStalkr.net

Masjid Jami Sungai Jingah merupakan masjid tertua di Banjar setelah Masjid Sultan Suriansyah. Masjid ini dibangun pada tahun 1777 Masehi pada saat Kesultanan Banjar dipimpin oleh Sultan Tamjidillah.

Masjid ini dibangun dengan gaya Banjar dan Kolonial Belanda. Warnanya didominasi oleh hijau dan coklat.  Bahannya dari kayu ulin membuat bangunan masjid ini menjadi kuat dan sangat sedikit sekali direnovasi sehingga keotentikannya pun masih sangat terasa.

Kamu yang sedang berada di Banjarmasin, bisa memasukkan Masjid ini menjadi destinasi wisata religi dan sejarah. Bila hari-hari tertentu masjid ini menggelar pengajian dari ulama skala nasional, halamannya yang luas pun akan dipenuhi jamaah hingga ke jalan raya. Tepat di belakang masjid ini berdiri Kompleks Makam Pangeran Antasari, pahlawan nasional dari Tanah Banjar.

Baca Juga: 12 Potret Masjid Agung Demak, Jadi yang Tertua di Indonesia

4. Masjid Keramat Al-Mukarramah di Banua Halat, Tapin

7 Masjid Tradisional di Kalsel yang Harus Kamu TahuKemendikbud.go.id

Masjid Al-Mukarramah atau yang sering dikenal dengan Masjid Keramat ini merupakan masjid tertua di Kabupaten Tapin. Letaknya berada di bantaran Sungai Rantau, Desa Banua Halat Kiri, Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin. Sekitar 120 kilometer dari Kota Banjarmasin. Sangat jauh dari hiruk pikuk kota.

Tak ada yang tahu pasti, kapan masjid ini dibangun. Salah satu kisah yang dipercaya masyarakat, pembangunan masjid ini dipelopori oleh Haji Mungani Salignata pada tahun 1840 Masehi.

Konstruksi masjid ini pun cukup sederhana. Arsitekturnya khas Banjar dengan bahan dasar kayu ulin dan atap tumpang tiga. Hampir seperti seperti Masjid Demak.

Masjid ini juga memiliki nilai sejarah. Pada masa perang fisik, menjadi tempat berkumpulnya para pejuang yang merupakan para ulama. Aktivitas tersebut membuat masjid ini sempat dibakar oleh Belanda pada tahun 1980 sebab perlawanan oleh para ulama dari wilayah ini. Pada tahun 1910, masjid ini dibangun kembali dan selesai pada tahun 1914. 

5. Masjid Su'ada di Desa Wasah Hulu Sungai Selatan

7 Masjid Tradisional di Kalsel yang Harus Kamu TahuKemendikbud.go.id

Kota Kandangan memiliki sejuta hal yang unik dan menarik. Salah satunya adalah masjid Su'ada yang terletak di Jalan Simpur, Desa Wasah Hilir, Kecamatan Simpur, Kota Kandangan Hulu Sungai Selatan. Masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Baangkat.

Masjid dengan bahan dasar kayu ulin ini dibangun pada tahun 1908 M. Arsitektur masjid ini menyerupai rumah panggung. Lantai dasarnya diangkat dan tidak menyentuh tanah. Itulah mengapa masjid ini disebut Masjid Baangkat yang berarti diangkat.

Kayu-kayunya pun dirangkai tanpa paku sama sekali, melainkan menggunakan teknik merasuk atau pasak dari kayu ulin. Teknik ini membuat masjid ini sangat kokoh dan tak pernah rusak hingga hari ini.

Di dalam masjid, kamu dapat menjumpai pahatan bermotif floralistik serta hiasan berupa ukiran kelopak bunga, sulur-suluran, serta kaligrafi Arab bergaya naskhi.

6. Masjid Jami Abdul Hamid Abulung di Sungai Batang Martapura

7 Masjid Tradisional di Kalsel yang Harus Kamu TahuKemendikbud.go.id

Masjid kuno satu ini berusia lebih dari 200 tahun. Terletak di Jalan Martapura Lama, Desa Sungai Batang, Kota Martapura, Kabupaten Banjar.

Menurut kisah yang beredar di masyarakat setempat, nama masjid ini diambil dari Ulama Syekh Abdul Hamid Abulung. Seorang tokoh tasawuf wahdatul wujud Kalimantan Selatan yang hidup sezaman dengan Syekh Arsyad Al Banjary. Syekh Abdul Hamid Abulung ini kemudian dieksekusi mati oleh Sultan Tamjidillah II karena dinilai menyebarkan ajaran yang meresahkan masyarakat. Masjid ini dibangun untuk menebus rasa penyesalan Sang Sultan karena telah mengeksekusi mati sang ulama tersebut.

Masjid Jami Abdul Hamid Abulung ini sempat mengalami perbaikan-perbaikan. Sebelum diperbaiki, masjid ini memiliki atap berbentuk segi delapan di atas mimbar. Peninggalan masjid ini berupa mimbar yang masih asli hingga sekarang.

7. Masjid Jami Tuhfathurraghibin di Kuin Banjarmasin

7 Masjid Tradisional di Kalsel yang Harus Kamu Tahusitusbudaya.id

Masjid Jami Tuhfathurraghibin atau yang juga dikenal dengan Masjid Kanas ini merupakan masjid bersejarah di Kawasan Kuin, Alalak Tengah, Banjarmasin Utara. Sebelum Indonesia merdeka, masjid Kanas ini telah berdiri. 

Masjid ini menjadi khas karena di pucuk kubahnya ada hiasan berbentuk nanas. Kanas dalam bahasa Indonesia berarti Nanas. Menurut filosofi masyarakat Banjar, Nanas menyimbolkan pembersih hati, jiwa dan raga dari berbagai macam kekotoran dunia. Orang yang beribadah di masjid ini diharapkan dapat membersihkan hatinya dari berbagai kekotoran hati.

Seiring perkembangan, masjid yang tadinya berbahan dasar kayu ulin ini telah mengalami berbagai perubahan. Selain kayu ulin yang diganti menjadi semen, bentuk kubahnya pun juga berganti. Bangunannya pun kini tampak modern meski sebenarnya masjid tua. Meski begitu, mimbar berukir, tiang utama dan simbol nanas ini tetap dipertahankan untuk menjaga kekhasan masjid ini.

Itulah daftar masjid tradisional di Kalimantan Selatan yang punya cerita sejarah menarik pula. Sudah pernah salat di sini?

Baca Juga: 10 Masjid Tertua di Indonesia Ini Jadi Wisata Wajib Saat Ramadan

Siti Nurdianti Photo Writer Siti Nurdianti

Sharing my daily interest

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Budi A.

Berita Terkini Lainnya