Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi ganti oli mesin (freepik.com/peoplecreations)
ilustrasi ganti oli mesin (freepik.com/peoplecreations)

Intinya sih...

  • Oli murah kurang optimal dalam perlindungan mesin, bisa mempercepat keausan komponen vital.

  • Penggunaan oli murah berpengaruh pada viskositas yang kurang stabil, membuat performa mesin terasa lebih berat.

  • Interval ganti oli jadi lebih sering karena daya tahannya yang lebih pendek, risiko biaya perbaikan yang lebih besar.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Memilih oli murah untuk mobil harian sering terasa seperti keputusan paling rasional. Harga lebih rendah dianggap bisa menekan pengeluaran rutin tanpa mengorbankan performa mesin. Apalagi untuk mobil yang dipakai setiap hari, godaan untuk berhemat dari komponen yang “terlihat sepele” seperti oli memang sulit dihindari.

Namun, di balik harga yang ramah di kantong, ada konsekuensi teknis yang sering luput dari pertimbangan. Oli bukan sekadar pelumas, tapi elemen vital yang menjaga mesin tetap awet dan stabil. Sebelum memutuskan tetap setia pada oli murah, ada baiknya memahami risikonya agar keputusan yang diambil benar-benar matang, yuk mulai pahami dari sekarang!

1. Perlindungan mesin yang kurang optimal

ilustrasi mesin mobil (pexels.com/Jagjeet Dhuna)

Oli murah sering kali memiliki formulasi aditif yang lebih sederhana. Kandungan additive seperti detergent dan anti-wear agent biasanya gak sekompleks oli dengan harga lebih tinggi. Akibatnya, perlindungan terhadap gesekan antar komponen mesin menjadi kurang maksimal.

Dalam jangka pendek, mesin mungkin masih terasa normal dan gak menunjukkan gejala aneh. Namun, gesekan mikro yang terus terjadi perlahan mempercepat keausan komponen vital seperti piston dan camshaft. Kalau dibiarkan, kondisi ini bisa memicu kerusakan yang biayanya jauh lebih mahal dibanding selisih harga oli.

2. Performa mesin terasa lebih berat

ilustrasi mengecek mesin mobil (pexels.com/Gustavo Fring)

Penggunaan oli murah sering berpengaruh pada viskositas yang kurang stabil. Saat mesin panas, oli bisa menjadi terlalu encer atau justru terlalu kental sehingga aliran pelumasan gak ideal. Hal ini membuat mesin bekerja lebih keras dari seharusnya.

Efeknya terasa pada akselerasi yang kurang responsif dan tarikan mesin terasa berat. Mobil harian yang seharusnya nyaman justru terasa melelahkan saat dipakai jarak jauh. Dalam kondisi tertentu, konsumsi bahan bakar juga bisa meningkat tanpa disadari.

3. Interval ganti oli jadi lebih sering

ilustrasi ganti oli mobil (unsplash.com/Tim Mossholder)

Salah satu risiko paling nyata dari oli murah adalah daya tahannya yang lebih pendek. Struktur molekul pelumas cenderung lebih cepat rusak akibat panas dan tekanan mesin. Artinya, kualitas oli menurun lebih cepat dibanding oli dengan spesifikasi lebih tinggi.

Akibatnya, interval penggantian oli harus lebih sering agar mesin tetap aman. Jika tetap memaksakan jadwal ganti oli normal, mesin akan bekerja dengan pelumas yang sudah kehilangan fungsi optimal. Dalam jangka panjang, pengeluaran justru bertambah karena frekuensi perawatan meningkat.

4. Penumpukan residu dan kerak mesin

ilustrasi kerak mesin mobil (unsplash.com/Kirill Beglaryan)

Oli murah umumnya memiliki kemampuan pembersihan yang terbatas. Kandungan detergent yang minim membuat kotoran hasil pembakaran gak terangkat secara maksimal. Lama-kelamaan, residu ini mengendap dan membentuk kerak di dalam mesin.

Kerak mesin bisa mengganggu sirkulasi oli dan pendinginan. Jika sudah parah, performa mesin menurun dan risiko overheat meningkat. Membersihkan kerak mesin juga bukan perkara murah, karena sering kali membutuhkan pembongkaran sebagian komponen.

5. Risiko biaya perbaikan yang lebih besar

ilustrasi cek oli mobil (pexels.com/Tim Samuel)

Awalnya, oli murah terasa seperti solusi hemat untuk mobil harian. Namun, risiko kerusakan mesin akibat pelumasan yang kurang optimal bisa berujung pada biaya perbaikan yang signifikan. Mulai dari penggantian komponen kecil hingga overhaul mesin, semuanya menguras dompet.

Dalam konteks jangka panjang, penghematan dari harga oli sering kalah jauh dibanding biaya servis yang muncul. Mobil yang seharusnya menjadi alat mobilitas justru berubah menjadi sumber pengeluaran tak terduga. Di titik ini, istilah hemat berubah menjadi boncos tanpa terasa.

Menggunakan oli murah memang bukan keputusan yang sepenuhnya salah, selama risikonya dipahami dengan sadar. Untuk mobil harian yang dipakai intens, kualitas pelumasan punya peran besar dalam menjaga umur mesin. Menimbang harga dan manfaat secara seimbang jauh lebih bijak daripada sekadar tergiur angka di label. Pada akhirnya, keputusan tepat soal oli bisa menyelamatkan mesin dan kondisi finansial dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team