Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi BWM Seri 7 (Pexels/bmw.co.id)
Ilustrasi BWM Seri 7 (Pexels/bmw.co.id)

Setelah puluhan tahun menerapkan kebijakan proteksionisme yang sangat ketat, India akhirnya bersiap membuka pintu bagi pabrikan otomotif asal Uni Eropa. Langkah besar ini ditandai dengan rencana pemangkasan tarif impor yang selama ini membuat harga kendaraan asing melonjak tidak masuk akal di pasar domestik India.

Berdasarkan laporan yang dilansir dari Carscoops, tarif impor untuk mobil bermesin pembakaran internal (ICE) buatan Eropa akan dipangkas drastis dari semula 110 persen menjadi hanya 40 persen. Perubahan regulasi ini diharapkan dapat mengubah peta persaingan di salah satu pasar otomotif terbesar dunia, yang selama ini didominasi oleh merek lokal dan pabrikan yang memproduksi unit secara domestik.

1. Skema pemangkasan tarif dan perlindungan industri lokal

ilustrasi sedan BMW (pexels.com/Danila Perevoshchikov)

Rencana kesepakatan dagang antara India dan Uni Eropa ini menetapkan bahwa tarif 40 persen akan berlaku untuk kuota hingga 200.000 unit kendaraan per tahun. Dalam jangka panjang, angka tarif tersebut diproyeksikan akan terus menurun hingga menyentuh level 10 persen. Namun, India tetap berhati-hati dalam menjaga stabilitas industri dalam negerinya, terutama dalam menghadapi persaingan dengan raksasa lokal seperti Tata Motors dan Mahindra & Mahindra.

Salah satu strategi perlindungan yang diambil adalah dengan mengecualikan kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) dari pengurangan tarif selama lima tahun pertama. Selain itu, hanya mobil dengan harga di atas 15.000 Euro (sekitar Rp250 jutaan) yang berhak mendapatkan keringanan tarif ini. Batasan harga tersebut sengaja dibuat agar mobil Eropa tidak langsung berbenturan dengan segmen mobil murah yang saat ini dikuasai oleh Maruti Suzuki, yang merupakan tulang punggung transportasi masyarakat India.

2. Potensi pasar otomotif terbesar ketiga di dunia

Ilustrasi BWM Seri 1 (Pexels/bmw.co.id)

India kini menempati posisi sebagai pasar mobil baru terbesar ketiga di dunia, tepat di belakang Amerika Serikat dan China. Meski potensinya sangat masif, merek-merek Eropa saat ini tercatat hanya menguasai kurang dari 4 persen pangsa pasar tahunan. Dengan adanya pelonggaran tarif ini, produsen seperti Volkswagen, BMW, hingga Mercedes-Benz memiliki peluang emas untuk memperluas jejak penjualan mereka tanpa harus selalu bergantung pada fasilitas perakitan lokal yang mahal.

Data menunjukkan bahwa sekitar 4,4 juta kendaraan baru terjual di India pada tahun lalu, dan angka ini diprediksi akan terus meroket hingga mencapai 6 juta unit pada tahun 2030. Pertumbuhan ekonomi yang pesat dan meningkatnya jumlah kelas menengah di India menjadikan negara ini sebagai target ekspansi paling strategis bagi pabrikan Eropa yang saat ini tengah menghadapi persaingan ketat di wilayah Barat.

3. Imbal balik perdagangan dan dampak ekonomi yang luas

BMW seri 1, mobil sub-kompak dari BMW (bmw.com/BMW)

Perjanjian perdagangan ini tidak hanya menguntungkan sektor otomotif Eropa, tetapi juga dirancang untuk memberikan keuntungan timbal balik bagi India. Sebagai kompensasi atas pembukaan pasar otomotif, India mengharapkan kemudahan akses ekspor bagi produk tekstil dan perhiasan mereka ke pasar Eropa. Produk-produk tersebut saat ini menghadapi tekanan besar karena tarif tinggi di pasar lain, seperti Amerika Serikat yang mencapai 50 persen.

Meskipun rincian akhir dari perjanjian ini masih dalam tahap negosiasi dan mungkin mengalami revisi kecil, arah kebijakan India sudah terlihat jelas menuju keterbukaan pasar. Transformasi dari pasar yang terisolasi menjadi lebih kompetitif diharapkan dapat memacu inovasi dan memberikan lebih banyak pilihan kendaraan berkualitas bagi konsumen di India.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team