Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Benarkah Mobil AWD Selalu Lebih Boros?
Mitsubishi Grandis (PT MMKSI)
  • Sistem AWD dulu dikenal boros karena bobot tambahan dan kerugian mekanis dari komponen ekstra seperti transfer case dan diferensial yang membuat mesin bekerja lebih berat.
  • Inovasi Intelligent AWD memungkinkan tenaga hanya disalurkan ke roda saat dibutuhkan, mengurangi hambatan mekanis dan membuat efisiensi bahan bakar hampir setara dengan mobil 2WD.
  • Teknologi e-AWD pada mobil hibrida memakai motor listrik di poros belakang, menghapus poros mekanis panjang dan meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan traksi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sistem penggerak semua roda atau All-Wheel Drive (AWD) sering kali dipandang sebagai fitur mewah yang menjamin traksi maksimal di berbagai medan jalan. Namun, reputasi sebagai teknologi yang haus bahan bakar selalu melekat pada sistem ini, membuat banyak calon pembeli merasa ragu untuk memilihnya dibandingkan penggerak roda depan atau belakang.

Anggapan bahwa mobil AWD selalu lebih boros sebenarnya berakar pada teknologi masa lalu yang memiliki bobot sangat berat dan sistem mekanis yang kaku. Seiring dengan kemajuan rekayasa otomotif, perbedaan efisiensi antara mobil AWD dan penggerak dua roda kini semakin menipis berkat inovasi perangkat lunak dan manajemen tenaga yang cerdas.

1. Pengaruh bobot tambahan dan kerugian mekanis pada sistem transmisi

Ilustrasi tampilan ban mobil (pexels.com/Mike Bird)

Alasan utama mengapa mobil AWD secara tradisional lebih banyak mengonsumsi bensin adalah adanya komponen tambahan yang tidak ditemukan pada mobil penggerak dua roda (2WD). Sistem AWD memerlukan komponen ekstra seperti transfer case, poros penggerak tengah (propeller shaft), dan diferensial tambahan untuk menyalurkan tenaga ke keempat roda. Komponen-komponen fisik ini menambah bobot keseluruhan kendaraan sekitar 50 hingga 100 kilogram, yang secara otomatis memaksa mesin bekerja lebih keras untuk menggerakkan massa yang lebih berat.

Selain faktor bobot, terdapat fenomena yang disebut sebagai kerugian mekanis (driveline loss). Dalam sistem AWD, tenaga dari mesin harus melewati lebih banyak gir dan bantalan sebelum sampai ke roda, sehingga sebagian energi panas terbuang di sepanjang jalur transmisi tersebut. Semakin banyak komponen yang harus diputar, semakin besar pula hambatan gesek yang harus dilawan oleh mesin, yang pada akhirnya berdampak pada angka konsumsi liter per kilometer yang sedikit lebih rendah dibandingkan varian penggerak roda depan.

2. Inovasi sistem AWD pintar dan teknologi pemutus tenaga

Ilustrasi teknisi mengecek kondisi ban mobil (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Modernitas teknologi telah melahirkan sistem yang disebut sebagai Intelligent AWD atau On-Demand AWD. Berbeda dengan sistem Full-Time AWD masa lalu yang selalu memutar keempat roda sepanjang waktu, sistem pintar ini hanya akan menyalurkan tenaga ke roda belakang ketika sensor mendeteksi adanya selip atau kebutuhan traksi tambahan. Dalam kondisi berkendara normal di jalanan aspal yang kering, sistem ini secara otomatis akan memutuskan aliran tenaga ke salah satu poros roda, sehingga mobil bekerja layaknya penggerak roda depan yang efisien.

Penggunaan kopling elektronik dan perangkat lunak canggih memungkinkan perpindahan tenaga terjadi secara instan tanpa disadari oleh pengemudi. Dengan cara ini, hambatan mekanis dapat dikurangi secara signifikan saat tidak dibutuhkan, sehingga konsumsi bahan bakar pada mobil AWD modern bisa hampir setara dengan mobil 2WD. Bahkan, beberapa pabrikan kini menyertakan fitur pemutus transmisi fisik (disconnect system) yang benar-benar menghentikan perputaran komponen penggerak tambahan saat melaju di jalan tol guna memaksimalkan efisiensi.

3. Peran teknologi hibrida dalam menyeimbangkan efisiensi energi

ilustrasi mesin mobil hybrid (auto2000.co.id)

Perkembangan kendaraan listrik dan hibrida membawa perubahan besar dalam narasi efisiensi sistem AWD. Pada mobil hibrida modern, sistem penggerak semua roda sering kali tidak lagi menggunakan poros mekanis panjang yang menghubungkan mesin depan ke roda belakang. Sebagai gantinya, pabrikan memasang motor listrik terpisah di poros belakang yang hanya aktif saat dibutuhkan. Sistem ini disebut sebagai Electric AWD (e-AWD) yang menghilangkan beban berat dari komponen mekanis tradisional.

Dengan penggunaan motor listrik di bagian belakang, mobil tetap mendapatkan keuntungan traksi maksimal tanpa harus menanggung kerugian gesekan dari poros penggerak yang berputar terus-menerus. Hal ini membuat mobil hibrida dengan sistem e-AWD sering kali tetap jauh lebih irit dibandingkan mobil bermesin bensin konvensional penggerak satu roda sekalipun. Oleh karena itu, kesimpulan bahwa mobil AWD pasti lebih boros kini sudah tidak sepenuhnya relevan, karena pilihan teknologi penggerak yang digunakan jauh lebih menentukan daripada jumlah roda yang bergerak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team