Memiliki mobil pribadi seharga dua ratus juta rupiah sering kali dipandang sebagai tonggak pencapaian ekonomi bagi banyak keluarga atau pekerja profesional. Namun, di balik kenyamanan kabin dan gengsi yang ditawarkan, terdapat konsekuensi finansial jangka panjang yang harus dihitung dengan sangat teliti agar tidak menjadi bumerang bagi kesehatan dompet.
Menentukan kelayakan pengambilan kredit mobil bukan hanya soal kemampuan membayar uang muka, melainkan tentang kesinambungan arus kas bulanan selama bertahun-tahun ke depan. Angka pendapatan minimal menjadi indikator utama bagi lembaga pembiayaan untuk memastikan bahwa peminjam memiliki daya tahan ekonomi yang cukup untuk menanggung cicilan beserta seluruh biaya operasionalnya.
