Fenomena modifikasi dan perilaku berkendara di Indonesia sering kali terjebak dalam ambiguitas antara estetika yang gahar dan tindakan yang mengganggu ketertiban umum. Banyak pemilik kendaraan merasa telah mencapai puncak keren saat melakukan rombakan tertentu, tanpa menyadari bahwa tindakan tersebut justru memicu antipati dari pengguna jalan lainnya.
Etika berkendara seharusnya menjadi landasan utama sebelum memutuskan untuk tampil beda di aspal panas. Sayangnya, ego yang besar sering kali mengalahkan akal sehat, menciptakan tren-tren negatif yang dianggap sebagai simbol status namun sebenarnya hanyalah bentuk perilaku norak yang membahayakan nyawa orang banyak.
